Produksi Telur Aceh Baru 5 Persen, BI Dorong Penguatan Peternakan Ayam Petelur
Nurul Hayati March 06, 2026 02:20 PM

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Firdha Ustin| ACEH BESAR

SERAMBINEWS.COM, ACEH BESAR – Produksi telur ayam di Aceh hingga kini masih tergolong rendah dan baru mampu memenuhi sekitar 5 persen kebutuhan daerah. Akibatnya, sebagian besar kebutuhan telur masyarakat masih dipasok dari luar daerah, terutama dari Sumatera Utara.

Untuk mendorong peningkatan produksi lokal, Bank Indonesia (BI) Perwakilan Aceh memperkuat sektor peternakan melalui program Implementasi Kebijakan Ekonomi dan Keuangan Daerah (PI-KEKDA) dengan menyalurkan dukungan sarana dan prasarana kepada kelompok peternak di Aceh Besar.

Program tersebut diserahkan dalam kegiatan seremonial yang berlangsung di peternakan ayam petelur Andalan Mandiri di Gampong Cot Bada, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, Kamis (5/3/2026). Kegiatan itu turut dihadiri Wakil Bupati Aceh Besar Drs H Syukri A Jalil, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Aceh Agus Chusaini, serta Asisten II Sekda Aceh T. Robby Irza.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Aceh, Agus Chusaini, mengatakan penguatan sektor peternakan ayam petelur menjadi salah satu upaya strategis untuk mendukung ketahanan pangan sekaligus mengendalikan inflasi daerah.

Menurutnya, kebutuhan telur di Aceh masih sangat bergantung pada pasokan dari luar daerah sehingga perlu didorong peningkatan produksi lokal melalui penguatan peternak rakyat.

“Program ini merupakan bagian dari upaya memperkuat sektor riil di daerah, khususnya pertanian dan peternakan rakyat, agar mampu meningkatkan produksi serta menjaga stabilitas pasokan pangan,” ujar Agus.

Baca juga: BI Aceh Prioritas Ketersediaan Uang Tunai untuk Transaksi Ramadhan dan Idul Fitri

Ia berharap dukungan tersebut dapat meningkatkan kapasitas produksi peternak melalui penguatan pakan, pembibitan, serta sarana kandang yang lebih baik.

Sementara itu, Wakil Bupati Aceh Besar Syukri A Jalil menyampaikan apresiasi kepada Bank Indonesia dan pemerintah daerah yang telah memberikan dukungan bagi pengembangan sektor peternakan di Aceh Besar.

Menurutnya, Aceh Besar memiliki potensi besar di sektor pertanian dan peternakan karena wilayahnya yang luas serta sumber daya alam yang mendukung.

Syukri juga menyinggung tingginya kebutuhan telur di Aceh yang sebagian besar masih dipasok dari luar daerah. Hal ini terlihat dari aktivitas perdagangan di Pasar Induk Lambaro yang menjadi pusat distribusi kebutuhan masyarakat di Aceh Besar dan Banda Aceh.

“Perputaran ekonomi di Pasar Induk Lambaro mencapai ratusan juta rupiah setiap hari. Untuk komoditas telur saja nilainya bisa mencapai sekitar Rp500 juta per hari dan sebagian besar masih dipasok dari luar daerah,” katanya.

Karena itu, ia berharap program penguatan peternakan ayam petelur tersebut dapat meningkatkan produksi telur lokal sehingga mampu mengurangi ketergantungan pasokan dari luar daerah sekaligus memperkuat perekonomian masyarakat. (Serambinews.com/Firdha)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.