TRIBUNNEWS.COM - Liga Inggris mulai mengkaji kemungkinan penerapan aturan baru terkait taktik penguluran waktu setelah insiden yang melibatkan kiper Arsenal, David Raya.
Penjaga gawang asal Spanyol tersebut menjadi sorotan karena diduga berpura-pura mengalami cedera saat pertandingan Brighton vs Arsenal berlangsung, sehingga permainan harus dihentikan sementara.
Momen tersebut kemudian dimanfaatkan oleh rekan-rekan setimnya untuk menerima instruksi dari pelatih di pinggir lapangan.
Fenomena kiper yang jatuh atau meminta perawatan medis di tengah pertandingan memang semakin sering terjadi pada musim 2025/2026.
Banyak pihak menilai taktik tersebut sengaja digunakan untuk memecah tempo permainan sekaligus memberi waktu bagi tim untuk mengatur ulang strategi.
Kondisi ini memicu perdebatan luas di kalangan penggemar sepak bola di media sosial, analis pertandingan, hingga para pelatih klub.
Salah satu yang paling vokal mengkritik kejadian tersebut adalah pelatih Brighton & Hove Albion, Fabian Hurzeler.
Keluhan itu muncul setelah Brighton kalah 0-1 dari Arsenal dalam pertandingan Liga Inggris yang digelar pada Kamis (5/3/2026).
Dalam laga tersebut, David Raya tercatat menerima perawatan medis hingga tiga kali, yang membuat permainan sempat terhenti cukup lama.
Menurut Hurzeler, situasi tersebut memberi keuntungan bagi Arsenal karena para pemain mereka dapat berkumpul di tepi lapangan untuk menerima instruksi tambahan dari staf pelatih.
Pelatih Brighton itu pun menilai tindakan tersebut sebagai bentuk penguluran waktu yang merusak jalannya pertandingan.
“Saya rasa hanya ada satu tim yang benar-benar mencoba bermain sepak bola hari ini,” ujar Hurzeler dengan nada kesal, dikutip dari Mirror.
“Saya ingin bertanya satu hal: apakah Anda sering melihat kiper jatuh tiga kali dalam satu pertandingan di Liga Premier? Saya rasa tidak,” lanjutnya.
Baca juga: Peluang Arsenal Juara Liga Inggris 2025/2026 Capai 92 Persen, Pep Guardiola Tetap Tenang
Menurutnya, jika aturan tidak ditegakkan secara konsisten, maka tim akan terus mencari cara untuk memanfaatkannya.
“Pada akhirnya ini semua tentang aturan. Jika Liga Premier dan wasit membiarkan semuanya terjadi, maka akan sulit mengontrol situasi. Tim akan membuat aturan mereka sendiri,” katanya.
Ia menegaskan bahwa dirinya tidak ingin meraih kemenangan dengan cara seperti itu.
“Saya tidak akan pernah menjadi manajer yang mencoba menang dengan cara tersebut. Saya ingin tim saya berkembang, bermain sepak bola yang baik, dan bersaing secara sportif di lapangan.”
Meski demikian, Hurzeler mengakui bahwa penguluran waktu memang menjadi bagian dari strategi dalam sepak bola modern. Namun menurutnya, harus ada batasan yang jelas.
“Setiap tim tentu memiliki strategi dan terkadang mencoba mengulur waktu, tetapi harus ada batasnya. Batas itu harus ditentukan oleh Liga Premier dan para wasit,” tegasnya.
Menanggapi polemik tersebut, otoritas sepak bola Inggris kini mulai mempertimbangkan perubahan aturan untuk mencegah penyalahgunaan situasi cedera kiper.
Salah satu gagasan yang sedang diuji coba adalah kebijakan baru di Women's Super League (WSL).
Berdasarkan rencana tersebut, mulai musim kompetisi 2026/2027, sebuah tim harus menarik satu pemain lapangan keluar dari permainan selama satu menit apabila penjaga gawang mereka menerima perawatan medis di tengah pertandingan.
Aturan ini bertujuan untuk menghilangkan keuntungan taktis yang selama ini bisa diperoleh tim ketika kiper mereka meminta perawatan.
Dengan adanya konsekuensi berupa berkurangnya jumlah pemain di lapangan untuk sementara waktu, diharapkan tim tidak lagi menggunakan taktik pura-pura cedera sebagai cara mengulur waktu.
Usulan tersebut muncul dalam pertemuan tahunan International Football Association Board (IFAB) akhir pekan lalu.
IFAB sendiri merupakan badan yang bertanggung jawab atas penyusunan dan perubahan aturan resmi dalam sepak bola dunia.
Saat ini, peraturan yang berlaku mengharuskan pemain lapangan yang menerima perawatan medis untuk meninggalkan lapangan selama 30 detik sebelum diperbolehkan kembali bermain.
Namun aturan tersebut tidak sepenuhnya berlaku bagi penjaga gawang karena posisi mereka yang unik dalam pertandingan.
Situasi inilah yang selama ini dianggap membuka celah bagi tim untuk memanfaatkan penghentian permainan melalui kiper.
Dengan meningkatnya sorotan terhadap praktik tersebut, bukan tidak mungkin aturan baru mengenai perawatan kiper akan segera diterapkan lebih luas di kompetisi sepak bola Inggris dalam beberapa musim ke depan.
(Tribunnews.com/Ali)