Efek Viral BBM Hanya Cukup 26 Hari, Antrean Mengular di SPBU Bondowoso
Haorrahman March 06, 2026 02:57 PM

 

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Bondowoso -  Antrean kendaraan untuk membeli bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite dan Pertamax terjadi di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Bondowoso, Jumat (6/3/2026). Antrean ini buntut dari viralnya informasi BBM di Indonesia hanya cukup untuk 26 hari, akibat eskalasi perang di Timur Tengah.

Salah satu antrean terlihat di SPBU Kembang, Desa Kembang, Kecamatan Bondowoso. Pada sekitar pukul 09.04 WIB, antrean kendaraan di jalur pengisian Pertalite dan Pertamax memanjang hingga kurang lebih 30 meter.

Pengawas SPBU Kembang, Adista Prabudi, mengatakan peningkatan pembelian mulai terjadi sejak sore hari sebelumnya.

Ia menjelaskan, penjualan Pertalite yang biasanya berkisar 13 ton per hari melonjak menjadi sekitar 21 ton sejak Kamis (5/3/2026) pukul 06.00 WIB hingga Jumat pagi.

Hal serupa juga terjadi pada penjualan Pertamax.

Baca juga: Mahasiswa Demo di Pemkab Bondowoso, Soroti Belanja Pegawai 48 Persen, Infrastruktur Hanya 6 Persen

"Peningkatan terjadi pada jenis Pertalite dan Pertamax. Kalau Solar aman, Pertadex juga aman," ujar Adista.

Menurutnya, kondisi ini cukup berbeda dari biasanya. SPBU Kembang umumnya relatif sepi karena akses lalu lintas di sekitar lokasi sempat terganggu akibat jembatan ambles yang membuat jalur tersebut ditutup total.

Namun sejak sehari terakhir, antrean kendaraan justru mulai terlihat.

Meski terjadi lonjakan pembelian, pihak SPBU memastikan ketersediaan BBM masih aman. Distribusi pasokan dari depot tetap berjalan normal.

Setiap hari, SPBU Kembang menerima pasokan sekitar 16 ribu liter Pertalite. Sementara itu, Pertamax disuplai sekitar 1.500 liter sesuai kebutuhan, dan Bio Solar sekitar 8 kiloliter.

Baca juga: Warga dan Relawan di Bondowoso Patungan Tambal Jalan Berlubang

Sejumlah warga menduga lonjakan pembelian BBM dipicu oleh kekhawatiran masyarakat setelah beredarnya informasi di media sosial.

Anggi, warga Kecamatan Bondowoso, mengatakan beberapa rekannya mengunggah status tentang antrean panjang di SPBU Tamansari.

Menurutnya, sebagian masyarakat khawatir terhadap informasi viral yang menyebut stok BBM nasional hanya tersisa 26 hari akibat konflik global.

"Di Jember informasinya sudah panic buying juga. Kalau benar panic buying lagi, bakal mahal lagi ini di eceran toko," ungkapnya.

Baca juga: Banjir Rendam Puluhan Rumah di Desa Bataan Bondowoso, Air Capai 50 Cm

Pembatasan Pengisian BBM

Warga lainnya, Nani Agustina dari Kelurahan Badean, berharap pemerintah segera mengambil langkah antisipatif jika lonjakan permintaan terus terjadi.

Ia menyarankan adanya kebijakan khusus di SPBU saat terjadi peningkatan permintaan yang tidak wajar, misalnya membatasi pembelian BBM hanya untuk kendaraan.

"Jangan melayani pengisian jeriken untuk mencegah panic buying. Jangan sampai pasokan yang harusnya aman untuk 20 hari ke depan malah habis sebelum waktunya," ujarnya.

Antrean pembelian BBM juga terpantau di SPBU Tamansari pada sekitar pukul 08.04 WIB. Antrean kendaraan untuk Pertalite tampak cukup panjang meski belum sampai meluber ke jalan raya.

Samsudi, warga Desa Bataan, mengaku sempat antre sebelum akhirnya memutuskan membeli Pertamax.

"Antre tadi, jadi saya memilih beli Pertamax saja karena antrean Pertalite jauh lebih panjang," katanya.

Baca juga: Hujan Lebat, Atap Gedung Serbaguna GKJW Bondowoso Ambruk

Pertamina Pastikan Stok BBM Aman

Pertamina memastikan ketersediaan BBM di wilayah Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara dalam kondisi aman.

Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, menyatakan ketahanan stok BBM saat ini cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, termasuk selama Ramadan hingga Idulfitri.

"Saat ini rata-rata ketahanan stok BBM, khususnya di wilayah Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, dipastikan bisa memenuhi kebutuhan masyarakat, terutama di momen bulan Ramadan dan Hari Raya Idulfitri," ujarnya.

Pertamina juga terus memperkuat ketersediaan energi melalui pasokan rutin dan distribusi yang terjadwal. Selain itu, perusahaan telah melakukan penambahan cadangan stok (build up stock) menjelang Idulfitri.

Dalam pengelolaan rantai pasok, Pertamina menerapkan metode RAE (Regular, Alternative, dan Emergency) guna memastikan distribusi tetap berjalan meskipun terjadi dinamika global.

"Kami melakukan pemantauan intensif, penguatan manajemen risiko, serta memastikan keselamatan pekerja dan keamanan aset perusahaan," tambahnya.

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.