TRIBUNPEKANBARU.COM - Kapal induk milik Amerika Serikat, Abraham Lincoln dikabarkan rusak parah usai diserang drone Iran.
Demikian pernyataan Markas Besar Pusat Khatam Al-Anbiya Iran atau Markas Komando Tempur Terpadu Angkatan Bersenjata Iran.
“Kapal induk Abraham Lincoln, yang mendekati 340 kilometer dari perbatasan maritim Iran di Laut Oman berhasil dihantam oleh drone Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran,” kata Juru Bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya seperti dikutip dari Tasnim News, Jumat (6/3/2026).
Media ini menulis bahwa kapal induk terbesar di dunia ini hendak mendekati perairan Oman bermaksud hendak mengamankan Selat Hormuz.
Juru bicara itu menambahkan bahwa kapal tersebut dengan cepat melarikan diri bersama kapal-kapal perusak yang menyertainya.
"Dan sekarang berada ribuan kilometer jauhnya dari wilayah tersebut."
Beberapa hari lalu, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan bahwa USS Abraham Lincoln juga telah menjadi sasaran empat rudal balistik sebagai bagian dari Operasi True Promise 4.
Kapal induk AS itu tampaknya hendak melakukan pengamanan di Selat Hormuz.
Jalur ini masih dalam penguasaan Iran yang merupakan jalur sempit antara Iran dan Oman yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Garda Revolusi Iran pada Rabu (4/3/2026) mengeklaim kendali penuh atas Selat Hormuz.
Iran sebelumnya bersumpah akan membakar kapal yang berani melintas.
Ancaman rudal dan drone yang membayangi kapal komersial telah menyebabkan penutupan de facto selat tersebut.
"Iran bahkan disebut tengah menyiapkan strategi di Selat Hormuz," demikian laporan The Telegraph.
Baca juga: Heboh Video 6 Kapolsek di Magelang Gagal Ujian SIM, Polresta Klarifikasi
Baca juga: Stok Minyak Indonesia Hanya Cukup 20 Hari Akibat Konflik Timteng? Pertamina Tegaskan Hal Ini
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa Angkatan Laut AS berpotensi mulai mengawal kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz jika diperlukan.
Langkah ini diambil di tengah lonjakan harga energi global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah yang mengganggu jalur pelayaran strategis dunia.
Trump juga mengungkapkan telah memerintahkan U.S. International Development Finance Corporation (DFC) untuk menyediakan asuransi risiko politik serta jaminan keuangan guna mendukung kelangsungan perdagangan maritim di kawasan Teluk.
DFC, yang dibentuk pada 2019, merupakan lembaga pemerintah AS yang bermitra dengan investor swasta untuk mendukung proyek-proyek di negara berkembang.