Mengenal Tradisi Rebo Wekasan Gresik: Sejarah, Prosesi, dan Makna Ritual Rabu Terakhir Bulan Safar
Mujib Anwar March 06, 2026 03:30 PM

 

TRIBUNJATIM.COM – Kabupaten Gresik, Jawa Timur, memiliki tradisi unik yang digelar setiap Rabu terakhir bulan Safar dalam kalender Hijriah, yaitu Rebo Wekasan.

Tradisi ini dilaksanakan masyarakat Desa Suci, Kecamatan Manyar, sebagai bentuk doa bersama, rasa syukur, sekaligus upaya memohon perlindungan dari berbagai musibah.

Tradisi ini telah berlangsung secara turun-temurun dan menjadi salah satu bentuk kearifan lokal yang memadukan nilai budaya Jawa dengan ajaran Islam.

Berbagai rangkaian kegiatan digelar dalam perayaan ini, mulai dari doa bersama, mandi di telaga, hingga tradisi kuliner khas yang menyambut para pengunjung.

Asal-Usul Tradisi Rebo Wekasan

Tradisi Rebo Wekasan yang dilakukan warga Desa Suci dalam melestarikan dan mengenang perjuangan tokoh Desa Suci, Senin (18/8/2025) malam.
Tradisi Rebo Wekasan yang dilakukan warga Desa Suci dalam melestarikan dan mengenang perjuangan tokoh Desa Suci, Senin (18/8/2025) malam. (Surya.co.id/Sugiyono)

Tradisi Rebo Wekasan memiliki kaitan erat dengan sejarah penyebaran Islam di wilayah Gresik.

Dilansir dari disparekrafbudpora.gresikkab.go.id, tradisi ini bermula ketika Sunan Giri memerintahkan salah satu santrinya untuk menyebarkan ajaran Islam di daerah perbukitan yang berada di sekitar wilayah Giri.

Daerah yang dipilih saat itu adalah wilayah Desa Pelaman, sebuah kawasan bukit kapur yang dikenal tandus dan gersang.

Dalam upaya membantu masyarakat setempat, Sunan Giri menugaskan Syeikh Jamaluddin Malik untuk mencari sumber air yang dapat digunakan warga.

Setelah melakukan pencarian, akhirnya ditemukan sebuah sumber air yang jernih dan cukup besar. 
Peristiwa tersebut terjadi tepat pada hari Rabu terakhir bulan Safar.

Sejak saat itulah masyarakat Desa Suci memperingati hari tersebut setiap tahun sebagai ungkapan syukur atas ditemukannya sumber air yang menyelamatkan mereka dari kekeringan.

Menurut catatan, perayaan Rebo Wekasan pertama kali dilaksanakan pada tahun 1403 Hijriah di Desa Suci.

Tradisi tersebut kemudian terus dilestarikan oleh masyarakat hingga menjadi agenda budaya tahunan.

Baca juga: Tradisi Ngetung Batih Trenggalek: Warisan Leluhur yang Sarat Doa dan Nilai Kekeluargaan

Kepercayaan tentang Bulan Safar

Dalam penanggalan Hijriah, bulan Safar merupakan bulan kedua setelah Muharram.

Namun dalam beberapa tradisi masyarakat, bulan ini kerap dianggap sebagai bulan yang membawa kesialan.

Sebagaimana dilansir dari budaya-indonesia.org, pada masa lampau masyarakat Arab Jahiliyah menyebut bulan Safar sebagai bulan tasa’um, yaitu bulan yang dipercaya membawa berbagai kesialan atau musibah.

Pandangan tersebut kemudian berkembang di berbagai wilayah, termasuk di Indonesia.

Sebagian masyarakat Jawa juga mempercayai bahwa Rabu terakhir bulan Safar merupakan hari yang rawan bencana.

Karena itulah, masyarakat Desa Suci mengadakan selamatan dan doa bersama pada hari tersebut sebagai bentuk permohonan perlindungan kepada Tuhan agar terhindar dari bala atau musibah.

Selain itu, tradisi ini juga dimaknai sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan, khususnya terkait keberadaan sumber air yang dahulu ditemukan di wilayah tersebut.

Baca juga: Tradisi Malam Selawe Gresik, Dari Itikaf Warisan Sunan Giri Hingga Gerakkan Ekonomi Masyarakat

Prosesi Tradisi Rebo Wekasan

Pelaksanaan Rebo Wekasan biasanya berlangsung meriah dan melibatkan hampir seluruh masyarakat Desa Suci.

Tradisi ini tidak hanya bersifat ritual keagamaan, tetapi juga menjadi ajang kebersamaan dan silaturahmi warga.

Beberapa rangkaian kegiatan dalam tradisi ini antara lain:

  • Doa dan Selamatan Bersama

Kegiatan utama dalam tradisi ini adalah doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama dan sesepuh desa.

Masyarakat berkumpul untuk melaksanakan doa bersama sebagai bentuk permohonan keselamatan.

Doa ini dipanjatkan agar warga terhindar dari berbagai bencana serta diberi keberkahan dalam kehidupan.

Menurut cerita tutur masyarakat, pada hari Rabu terakhir bulan Safar Tuhan diyakini mengabulkan berbagai permohonan hamba-Nya.

Karena itu, masyarakat memanfaatkan momen tersebut untuk memperbanyak doa dan ibadah.

  • Tradisi Mandi di Telaga

Salah satu kegiatan yang cukup khas dalam Rebo Wekasan adalah mandi di telaga atau sumber air.

Tradisi ini dilakukan sebagai simbol pembersihan diri secara jasmani sekaligus bentuk penghormatan terhadap sumber air yang dahulu ditemukan oleh tokoh penyebar Islam di wilayah tersebut.

Selain memiliki makna spiritual, kegiatan ini juga menjadi simbol harapan agar masyarakat dapat memulai kehidupan lebih baik serta selalu diberi kesehatan dan keselamatan.

  • Silaturahmi dan Festival Rakyat

Pada malam perayaan Rebo Wekasan, suasana Desa Suci biasanya dipenuhi berbagai aktivitas masyarakat.

Warga saling berkunjung dan menjalin silaturahmi dengan sanak saudara maupun tamu yang datang dari luar daerah.

Berbagai pedagang juga menjajakan jajanan tradisional serta mainan anak-anak sehingga menciptakan suasana seperti pasar rakyat.

Kegiatan ini menjadikan Rebo Wekasan tidak hanya sebagai ritual keagamaan, tetapi juga festival budaya masyarakat.

Baca juga: Manten Kucing Tulungagung, Tradisi Unik Minta Hujan yang Sarat Nilai Budaya

Kuliner Khas Lontong Bumbu Ladan

Lontong Bumbu Ladan jadi menu wajib pada tradisi Rebo Wekasan atau Rabu Wekasan di Desa Suci, Kecamatan Manyar, Gresik, Jawa Timur, Rabu (21/9/2022).
Lontong Bumbu Ladan jadi menu wajib pada tradisi Rebo Wekasan atau Rabu Wekasan di Desa Suci, Kecamatan Manyar, Gresik, Jawa Timur, Rabu (21/9/2022). (Tribun Jatim Network/Willy Abraham)

Salah satu daya tarik dalam perayaan Rebo Wekasan adalah sajian Lontong Bumbu Ladan.

Dilansir dari situs resmi Pemerintah Kabupaten Gresik, makanan khas ini disuguhkan kepada para tamu dan pengunjung sebagai bentuk sambutan sekaligus simbol keramahan masyarakat Desa Suci.

Kuliner tersebut biasanya dibagikan kepada siapa saja yang datang ke desa saat perayaan berlangsung.

Tradisi berbagi makanan ini menjadi simbol kebersamaan, rasa syukur, serta semangat gotong royong dalam masyarakat.

Makna Filosofis Tradisi Rebo Wekasan

Lebih dari sekadar perayaan tahunan, Rebo Wekasan memiliki makna filosofis yang mendalam bagi masyarakat Desa Suci.

Tradisi ini juga mengandung sejumlah nilai penting bagi masyarakat, seperti mengajarkan rasa syukur kepada Tuhan atas berbagai nikmat yang diberikan, terutama keberadaan sumber air yang menjadi penopang kehidupan warga.

Kemudian, menjadi sarana berdoa agar masyarakat mendapat perlindungan dari berbagai musibah, khususnya yang diyakini berkaitan dengan bulan Safar.

selain itu, Rebo Wekasan juga dapat mempererat hubungan sosial karena masyarakat berkumpul, bersilaturahmi, dan saling berbagi makanan.

Melalui tradisi ini pula masyarakat diajak untuk selalu mengingat sejarah desa serta peran para ulama dalam menyebarkan ajaran Islam di wilayah Gresik.

Baca juga: Dari Tradisi Sahur hingga Ajang Kreativitas, Festival Patrol Lumajang Kian Semarak

Tradisi yang Terus Dilestarikan

Hingga kini, Rebo Wekasan masih terus dilaksanakan oleh masyarakat Desa Suci setiap tahun.

Tradisi ini menjadi salah satu identitas budaya lokal yang memperkaya khazanah tradisi Islam Nusantara.

Perayaan tersebut juga menarik perhatian wisatawan yang ingin menyaksikan langsung keunikan budaya masyarakat Gresik.

Selain sebagai ritual keagamaan, Rebo Wekasan kini juga menjadi bagian dari potensi wisata budaya daerah.

Dengan pelestarian yang terus dilakukan oleh masyarakat dan pemerintah daerah, tradisi Rebo Wekasan diharapkan tetap hidup dan dikenal oleh generasi mendatang sebagai warisan budaya yang sarat nilai sejarah, spiritual, dan kebersamaan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.