TRIBUNJATIM.COM - Banyuwangi dikenal sebagai salah satu daerah di Jawa Timur yang memiliki kekayaan tradisi dan budaya.
Salah satu ritual adat yang masih dilestarikan hingga kini adalah tradisi Seblang.
Seblang merupakan ritual masyarakat Osing yang digelar sebagai bentuk bersih desa dan tolak bala.
Tradisi ini dipercaya mampu menjaga keselamatan desa dari berbagai marabahaya, wabah penyakit, hingga hal-hal buruk yang mengganggu kehidupan masyarakat.
Ritual ini hanya dapat dijumpai di dua wilayah di Kecamatan Glagah, Banyuwangi, yakni Desa Olehsari dan Kelurahan Bakungan.
Meski memiliki tujuan yang sama, pelaksanaan Seblang di dua tempat tersebut memiliki perbedaan, terutama pada waktu pelaksanaan serta penarinya.
Diketahui, tradisi Seblang telah ada sejak ratusan tahun lalu dan diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat.
Hingga kini, ritual tersebut tetap dipertahankan sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Osing di Banyuwangi.
Selain sarat unsur spiritual, Seblang juga menjadi daya tarik wisata budaya.
Setiap tahun, ratusan hingga ribuan warga dan wisatawan datang untuk menyaksikan ritual yang dianggap sakral ini.
Baca juga: Tradisi Ngetung Batih Trenggalek: Warisan Leluhur yang Sarat Doa dan Nilai Kekeluargaan
Makna dan Tujuan Ritual Seblang
Ritual Seblang pada dasarnya merupakan upacara adat yang bertujuan untuk membersihkan desa dari pengaruh buruk.
Dalam bahasa Using, kata Seblang diyakini berasal dari “Sebele Ilang” yang berarti menghilangkan kesialan atau hal-hal buruk.
Karena itu, masyarakat setempat percaya ritual ini dapat membawa keselamatan, ketenteraman, serta kemakmuran bagi desa.
Prosesi tersebut juga menjadi bentuk penghormatan kepada leluhur yang dianggap sebagai penjaga desa.
Dilansir dari jadesta.kemenparekraf.go.id, ritual Seblang biasanya diawali dengan berbagai rangkaian upacara adat.
Di antaranya selamatan desa, doa bersama, hingga ritual pemanggilan roh leluhur oleh seorang pawang yang disebut gambuh.
Setelah prosesi tersebut dilakukan, penari Seblang akan memasuki kondisi trance atau kesurupan yang dipercaya sebagai tanda bahwa roh leluhur telah hadir.
Dalam keadaan tersebut, penari kemudian menampilkan tarian khas yang diiringi musik gending tradisional.
Bagi masyarakat setempat, ritual ini bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan bagian dari tradisi sakral yang memiliki makna spiritual mendalam.
Baca juga: Tradisi Patrol Suku Osing Banyuwangi, Musik Bambu Penggugah Sahur Warisan Leluhur
Penari Dipilih Secara Supranatural
Salah satu hal yang membuat tradisi Seblang unik adalah proses pemilihan penarinya.
Penari tidak dipilih secara sembarangan, melainkan melalui petunjuk supranatural yang berasal dari leluhur.
Biasanya, penari merupakan keturunan dari penari Seblang sebelumnya. Hal ini diyakini sebagai bagian dari garis spiritual yang harus dijaga agar tradisi tetap berlangsung sesuai adat.
Dalam proses ritual, penari akan diasapi dengan dupa sambil dibacakan mantra oleh pawang.
Setelah memasuki kondisi trance, penari mulai menari dengan mata terpejam mengikuti irama musik dan arahan pawang.
Gerakan tarian tersebut cenderung sederhana dan berulang, namun memiliki makna simbolis sebagai upaya mengusir energi negatif dari desa.
Dalam beberapa momen, penari juga melemparkan selendang kepada penonton.
Orang yang mendapatkan selendang tersebut harus naik ke arena untuk menari bersama penari Seblang sebagai bagian dari ritual.
Baca juga: Mengenal Tradisi Kebo-Keboan Banyuwangi, Ritual Sakral Suku Osing yang Ubah Manusia Jadi Kerbau
Perbedaan Seblang Olehsari dan Seblang Bakungan
Di Banyuwangi, terdapat dua jenis tradisi Seblang yang masih dilaksanakan hingga kini, yakni Seblang Olehsari dan Seblang Bakungan.
Keduanya memiliki karakteristik yang berbeda meskipun berasal dari tradisi yang sama.
Seblang Olehsari digelar setelah perayaan Idul Fitri, biasanya sekitar awal bulan Syawal.
Penarinya merupakan gadis muda yang masih perawan dan berasal dari keturunan penari sebelumnya.
Ritual ini berlangsung selama tujuh hari berturut-turut. Penari akan menari setiap hari dalam kondisi trance dengan mengenakan omprog atau mahkota yang terbuat dari daun kelapa dan bunga segar.
Sementara itu, Seblang Bakungan dilaksanakan sekitar seminggu setelah Idul Adha atau pada bulan Dzulhijjah.
Berbeda dengan Olehsari, penari Seblang Bakungan adalah perempuan yang sudah berusia lanjut atau telah menopause.
Dikutip dari Kompas.com, tradisi Seblang Bakungan bahkan dipercaya telah berlangsung sejak tahun 1639.
Hal ini menjadikannya salah satu ritual adat tertua yang masih dilestarikan masyarakat Banyuwangi.
Baca juga: Manten Kucing Tulungagung, Tradisi Unik Minta Hujan yang Sarat Nilai Budaya
Daya Tarik Wisata Budaya Banyuwangi
Selain memiliki nilai spiritual, tradisi Seblang juga menjadi daya tarik wisata budaya yang penting bagi Banyuwangi.
Setiap pelaksanaannya, banyak wisatawan lokal maupun mancanegara datang untuk menyaksikan ritual ini secara langsung.
Para pengunjung biasanya tertarik dengan suasana magis yang muncul saat penari memasuki kondisi trance.
Gerakan tarian yang khas, iringan musik gending, serta prosesi adat sakral memberikan pengalaman budaya yang unik.
Beberapa wisatawan bahkan mengaku merasakan suasana mistis sekaligus kagum terhadap kekayaan budaya masyarakat Banyuwangi saat menyaksikan ritual tersebut.
Pemerintah daerah pun terus mendukung pelestarian tradisi ini dengan memasukkannya dalam agenda pariwisata daerah, termasuk dalam rangkaian Banyuwangi Festival.
Melalui berbagai upaya tersebut, tradisi Seblang diharapkan tetap lestari sebagai warisan budaya leluhur sekaligus menjadi sarana edukasi budaya bagi generasi muda.