TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Panic buying dikabarkan terjadi di beberapa daerah di Indonesia.
Para warga antre panjang di SPBU karena khawatir tidak kebagian BBM.
Apalagi sekarang sudah mendekati momen mudik jelang lebaran Idul Fitri 2026.
Kehebohan di beberapa daerah ini terjadi setelah stok BBM dikabarkan hanya cukup sampai 20 hari ke depan.
Selain diisukan pula bahwa hal ini diduga merupakan dampak perang Amerika-Israel vs Iran yang tengah terjadi.
Meski di beberapa daerah heboh terjadi panic buying, nampaknya tidak semua daerah mengalami hal yang sama.
Seperti diantaranya yang terjadi di Kota Bogor, Jawa Barat.
Pantauan TribunnewsBogor.com, Jumat (6/3/2026), di SPBU 34.161.02 Jalan Pajajaran Kota Bogor, situasi SPBU terlihat normal.
Antrean kendaraan yang hendak mengisi BBM terlihat tidak mengular begitu panjang.
Sejauh ini di SPBU ini tidak ada antrean mencolok atau bahkan berkerumuan seperti kondisi punic buying di beberapa daerah lain.
Kondisi normal ini terpantau juga terjadi di dua SPBU swasta di kawasan Taman Air Mancur, Kota Bogor, yaitu Vivo dan NTI BP.
Sementara ini tak ada antrean yang mencolok di tempat-tempat pengisian BBM ini.
Diketahui sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia menyebut stok BBM di Indonesia bertahan sampai 20 hari.
Hal ini tentu membuat banyak pihak bertanya-tanya apakah Indonesia bisa bertahan ditengah gempuran geopolitik timur tengah..
"Kalau cadangan BBM saat ini masih 20 hari," kata Bahlil, dikutip dari Kompas..
Menurut dia, cadangan minyak itu cukup untuk memenuhi kebutuhan minyak dalam negeri di tengah konflik Timur Tengah antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran.
Ia menegaskan, distribusi dan ketersediaan BBM di berbagai wilayah Indonesia masih berjalan normal, termasuk untuk jenis BBM bersubsidi yang menjadi tulang punggung konsumsi masyarakat.
Menurut Bahlil, pemerintah telah mengantisipasi berbagai skenario, termasuk potensi gangguan rantai pasok global akibat situasi di kawasan Teluk.
Kendati demikian, ia mengakui bahwa dinamika geopolitik hampir pasti berdampak pada fluktuasi harga minyak mentah dunia.
“Harga dunia pasti akan terjadi koreksi ketika kondisi geopolitik yang terus memanas di Timur Tengah,” katanya.