Oleh: Safri Muhammad
Mahasiswa Magister Sosiologi Universitas Hasanuddin
TRIBUN-TIMUR.COM - Beberapa hari terakhir saya terus memikirkan satu pertanyaan sederhana: mengapa jalanan kota tiba-tiba berubah menjadi arena permainan perang bagi anak-anak muda?
Pertanyaan itu muncul setelah berulang kali melihat video sekelompok remaja di Makassar yang saling menembakkan gel blaster, berlari di jalanan, tertawa, dan merekamnya untuk diunggah ke media sosial.
Awalnya saya menganggap itu hanya tren permainan yang akan lewat begitu saja. Namun semakin sering saya melihatnya, semakin terasa ada kegelisahan yang sulit diabaikan.
Apakah ini sekadar hiburan anak muda, atau justru tanda bahwa ada sesuatu yang sedang berubah dalam kehidupan sosial kota kita?
Fenomena gel blaster memang sedang ramai diperbincangkan di Makassar.
Permainan yang menggunakan peluru gel kecil ini pada dasarnya adalah simulasi permainan taktis yang awalnya populer sebagai aktivitas rekreasi.
Namun dalam praktiknya di kota, permainan ini sering dimainkan secara berkelompok di jalanan atau ruang publik, direkam, lalu viral di media sosial.
Sebagian masyarakat melihatnya sebagai hiburan anak muda, sementara sebagian lainnya merasa khawatir karena berpotensi menimbulkan ketegangan sosial.
Jika dilihat sepintas, gel blaster mungkin hanya tren permainan yang sedang populer di kalangan remaja.
Akan tetapi, dari sudut pandang sosiologi, fenomena ini bisa dibaca sebagai bagian dari dinamika yang lebih luas tentang kehidupan anak muda di kota yang terus berubah.
Dalam masyarakat perkotaan, remaja berada pada fase pencarian identitas. Mereka membutuhkan ruang untuk menunjukkan keberanian, kreativitas, dan keberadaan dirinya.
Ketika ruang ekspresi yang sehat terbatas baik dalam bentuk komunitas, ruang publik, maupun aktivitas kreatif anak muda sering mencari alternatif lain untuk menyalurkan energi sosialnya.
Di titik inilah berbagai subkultur anak muda muncul, termasuk tren permainan seperti gel blaster.
Di sisi lain permainan ini bukan sekadar aktivitas fisik. Di dalamnya terdapat unsur solidaritas kelompok, keberanian, bahkan simbol identitas komunitas.
Bermain dalam kelompok menciptakan rasa kebersamaan yang kuat. Dalam perspektif sosiologi klasik, situasi ini dapat dipahami melalui gagasan solidaritas sosial yang pernah dijelaskan oleh Émile Durkheim.
Individu merasa lebih kuat ketika menjadi bagian dari kelompok yang memiliki pengalaman dan aktivitas yang sama.
Gel blaster, dalam konteks ini, menjadi media untuk membangun rasa “kita” di antara para pemainnya.
Namun persoalan sebenarnya bukan hanya pada permainan itu sendiri, melainkan pada ruang sosial tempat aktivitas tersebut berlangsung.
Ketika permainan dilakukan di jalanan atau ruang publik tanpa pengaturan yang jelas, ia berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan bahkan konflik.
Masyarakat yang tidak memahami konteks permainan bisa merasa terancam, sementara pemainnya merasa hanya sedang mencari hiburan.
Ketegangan semacam ini menunjukkan adanya jarak pemahaman antara generasi muda dan lingkungan sosial di sekitarnya.
Sebagai kota yang berkembang pesat, Makassar juga menghadapi tantangan yang tidak sederhana.
Pembangunan kota sering kali lebih berfokus pada infrastruktur fisik jalan, gedung, dan pusat perbelanjaan, dibandingkan pembangunan ruang sosial yang ramah bagi generasi muda.
Akibatnya, jalanan sering kali berubah fungsi menjadi ruang berkumpul, berekspresi, bahkan bermain bagi anak muda.
Fenomena ini seharusnya tidak hanya dibaca sebagai persoalan ketertiban. Ia juga merupakan tanda bahwa generasi muda membutuhkan ruang sosial yang lebih sehat.
Energi kolektif yang terlihat dalam komunitas gel blaster sebenarnya menunjukkan adanya semangat kebersamaan dan kemampuan membangun jaringan sosial.
Jika diarahkan dengan baik, energi tersebut bisa menjadi kekuatan sosial yang produktif.
Karena itu, pendekatan terhadap fenomena ini tidak cukup hanya dengan penertiban atau larangan.
Yang dibutuhkan adalah kebijakan yang lebih kreatif dan konkret dalam menyediakan ruang ekspresi bagi anak muda.
Beberapa kota di dunia telah menunjukkan praktik baik dalam mengelola aktivitas semacam ini.
Dibeberapa kota di Jepang, misalnya, permainan simulasi perang seperti airsoft gun disediakan dalam arena khusus yang dikelola secara profesional sehingga tetap aman dan terkontrol.
Sementara di sejumlah kota di Korea Selatan, pemerintah daerah menyediakan taman komunitas dan arena olahraga malam hari yang dirancang khusus untuk aktivitas anak muda.
Di Indonesia sendiri, beberapa kota mulai mengembangkan pendekatan serupa. Kota Surabaya, misalnya, mengembangkan berbagai taman tematik yang tidak hanya menjadi ruang hijau, tetapi juga ruang aktivitas komunitas anak muda.
Pemerintah kota bahkan secara rutin memfasilitasi kegiatan komunitas kreatif, olahraga jalanan, hingga festival komunitas yang memberi ruang ekspresi bagi generasi muda.
Makassar sebenarnya memiliki potensi melakukan hal yang sama. Pemerintah kota dapat mengembangkan taman kota yang lebih aktif digunakan oleh komunitas, menyediakan arena olahraga terbuka yang dapat diakses pada malam hari, atau memfasilitasi komunitas permainan taktis seperti gel blaster agar memiliki ruang bermain yang aman dan terorganisir.
Dengan cara ini, energi anak muda tidak harus tersalurkan di jalanan yang rawan konflik.
Selain itu, sekolah dan keluarga juga memiliki peran penting dalam membangun komunikasi dengan remaja mengenai batasan sosial dalam beraktivitas.
Anak muda tidak hanya membutuhkan aturan, tetapi juga ruang dialog dan kepercayaan.
Fenomena gel blaster pada akhirnya mengingatkan kita bahwa anak muda selalu mencari cara untuk menunjukkan keberadaan dirinya.
Mereka membutuhkan ruang untuk bermain, berekspresi, dan membangun kebersamaan. Ketika ruang tersebut tidak tersedia secara sehat, maka jalanan sering kali menjadi pilihan.
Melihat fenomena ini hanya sebagai gangguan ketertiban tentu terlalu sederhana. Di balik permainan yang viral itu, sebenarnya ada pesan sosial yang lebih dalam tentang kebutuhan generasi muda terhadap ruang, pengakuan, dan kebersamaan dalam kehidupan kota yang terus bergerak cepat.
Sebab pada akhirnya, anak muda tidak pernah benar-benar mencari keributan. Mereka hanya sedang mencari tempat untuk merasa ada.
Dan jika kota ini gagal menyediakan ruang bagi mereka untuk bermain, berkumpul, dan menyalurkan energinya secara sehat, jangan heran jika suatu hari jalananlah yang mereka pilih sebagai panggungnya.
Pertanyaannya kini sederhana: apakah kita akan terus memadamkan kegaduhan itu, atau mulai mendengar pesan yang sedang disampaikan oleh anak-anak kota kita sendiri?