Alasan Iran Tolak Tawaran Mediasi Indonesia Terkait Konflik dengan AS-Israel, Dubes Angkat Bicara
Arie Noer Rachmawati March 06, 2026 05:14 PM

 

TRIBUNJATIM.COM - Presiden Indonesia, Prabowo Subianto menyatakan kesiapan Indonesia menjadi mediator dalam konflik Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Tawaran Presiden Prabowo ini kemudian mendapat respons dari Pemerintah Iran.

Namun Iran menegaskan mereka saat ini tidak membuka ruang negoisasi dengan pihak yang dianggap sebagai musuh.

Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, mengatakan usulan dari pemerintah Indonesia telah disampaikan kepada pihaknya. 

Meski demikian, Iran menyatakan tidak lagi memiliki kepercayaan terhadap proses negosiasi dengan pihak yang sedang berkonflik dengan mereka.

“Usulan dari pemerintah Indonesia telah disampaikan. Kami ingin menyampaikan bahwa kami tidak ada negosiasi dalam bentuk apa pun dengan kaum-kaum musuh,” kata Boroujerdi pada Kamis (5/3/2026), dikutip dari kompas.tv.

Menurutnya, pengalaman masa lalu membuat Iran tidak lagi percaya pada proses diplomasi yang melibatkan pihak-pihak tersebut.

“Kami sudah tidak percaya dengan yang namanya negosiasi. Kami telah tiga kali melakukan negosiasi dan hasilnya adalah di tengah atau di ujung negosiasi negara kami telah diserang,” ujarnya.

Baca juga: Anies Angkat Bicara Soal Prabowo yang Bertahan di Board of Peace usai AS-Israel Serang Iran

Konflik Memasuki Hari Keenam

Penolakan tersebut muncul ketika konflik antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel memasuki hari keenam dengan eskalasi yang semakin luas.

Pertempuran tidak hanya terjadi di kawasan Teluk Persia, tetapi juga meluas hingga Samudra Hindia.

Angkatan Laut Amerika Serikat sebelumnya mengonfirmasi telah menenggelamkan kapal perang Iran jenis fregat IRIS Dena di perairan dekat Sri Lanka.

Insiden ini menandai meluasnya konflik dari Timur Tengah menuju jalur energi global di Samudra Hindia.

Baca juga: Pengamat Soroti Langkah Aneh Presiden Prabowo usai AS–Israel Serang Iran

Iran Mengecam Keras Serangan

Iran mengecam keras serangan tersebut dan bersumpah akan membuat Amerika Serikat “menyesal pahit” atas insiden itu.

Di tengah eskalasi konflik, jumlah korban sipil dilaporkan terus meningkat. 

Yayasan Martir Iran menyebut korban tewas akibat serangan Amerika Serikat dan Israel telah mencapai 1.230 orang, termasuk warga sipil dan keluarga pejabat tinggi.

Salah satu insiden yang mendapat perhatian internasional adalah dugaan serangan udara terhadap sebuah sekolah dasar putri di Minab, Iran selatan.

Laporan menyebutkan sekitar 168 siswi tewas dalam peristiwa tersebut.

Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth mengatakan pihaknya sedang menyelidiki laporan tersebut.

Sementara itu, serangan balasan Iran juga menimbulkan korban di pihak lawan. 

Hingga kini, 11 warga Israel dilaporkan tewas akibat serangan rudal Iran, sementara enam tentara Amerika Serikat gugur dalam serangan terhadap pangkalan militer di Kuwait.

Baca juga: Indonesia Didesak untuk Segera Keluar dari BoP, Pengamat Sebut Prabowo Tak akan Seret RI Lawan Iran

Pertempuran Meluas ke Lebanon

Konflik juga meluas ke Lebanon setelah Israel meningkatkan serangan terhadap target yang berafiliasi dengan kelompok Hizbullah.

Militer Israel dilaporkan menyerang sekitar 80 titik yang dikaitkan dengan Hizbullah, termasuk pusat komando di Beirut. 

Pertempuran darat antara pasukan Israel dan pejuang Hizbullah juga dilaporkan terjadi di wilayah perbatasan Lebanon selatan.

Dampak konflik juga mulai terasa pada sektor energi global setelah Iran memblokade Selat Hormuz, salah satu jalur utama distribusi energi dunia.

Blokade tersebut dilaporkan menyebabkan penurunan pasokan gas global hingga sekitar 60 juta meter kubik per hari, memicu kekhawatiran akan lonjakan harga energi di pasar internasional.

Di tengah meningkatnya ketegangan, sejumlah negara menyerukan upaya diplomasi untuk meredakan konflik.

Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, mengatakan usulan dari pemerintah Indonesia telah disampaikan kepada pihaknya. Meski demikian, Iran menyatakan tidak lagi memiliki kepercayaan terhadap proses negosiasi dengan pihak yang sedang berkonflik dengan mereka.
Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, mengatakan usulan dari pemerintah Indonesia telah disampaikan kepada pihaknya. Meski demikian, Iran menyatakan tidak lagi memiliki kepercayaan terhadap proses negosiasi dengan pihak yang sedang berkonflik dengan mereka. (YouTube KompasTV)

Respons Pemerintah Indonesia

Pemerintah Indonesia melalui Menteri Luar Negeri Sugiono menyatakan keprihatinan mendalam terhadap situasi di Timur Tengah dan memperingatkan risiko perang yang lebih luas jika konflik terus meningkat.

Selain Indonesia, China juga mengumumkan rencana mengirim utusan khusus untuk mencoba memediasi konflik guna mencegah dampak ekonomi global yang lebih besar.

Sementara itu di Amerika Serikat, Senat dilaporkan gagal meloloskan resolusi yang bertujuan membatasi kewenangan militer Presiden Donald Trump dalam konflik tersebut, sehingga membuka jalan bagi kelanjutan operasi militer.

Hingga Kamis malam, laporan dari lapangan menyebutkan ledakan masih terdengar di wilayah barat dan barat laut Teheran, sementara sistem pertahanan udara di Uni Emirat Arab dan Arab Saudi terus mencegat serangan drone yang diluncurkan Iran.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.