TRIBUNNEWSDEPOK.COM, SURABAYA – Siapa sangka sistem pengelolaan sampah di kota besar Indonesia bisa diakui setara dengan negara-negara maju di Eropa? Prestasi membanggakan ini baru saja ditorehkan oleh Kota Surabaya.
Menteri Lingkungan Hidup (LH) sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH), Hanif Faisol Nurofiq, secara terang-terangan memuji keberhasilan Pemerintah Kota Surabaya dan warganya (arek-arek Suroboyo) dalam menangani masalah persampahan.
Pujian ini disampaikan langsung oleh Hanif usai melakukan kegiatan korve (kerja bakti) bersama ribuan warga Surabaya pada Jumat (6/3/2026).
Menurutnya, apa yang dicapai Surabaya saat ini adalah wujud nyata dari amanat UUD 1945 Pasal 28H terkait hak masyarakat atas lingkungan yang sehat.
"Kita tidak pernah menyangka kota sebesar ini mampu menyelesaikan persoalan sampahnya. Hampir tidak ada kota besar di Indonesia yang bisa seberhasil ini. Kebanyakan terpuruk dalam status darurat sampah. Tapi untuk Surabaya, urusan sampah selesai," kata Hanif dalam keterangan tertulis, Jumat (6/3/2026).
Tembus 95 Persen, Tertinggi di Indonesia
Kunci dari pujian selangit ini ada pada tingkat penanganan sampah Surabaya yang sukses menyentuh angka 95 persen.
Capaian ini menobatkan Surabaya sebagai kota besar dengan pengelolaan sampah terbaik dan tertinggi secara nasional.
"Berbagai upaya pembenahan yang dilakukan Pemkot Surabaya menghasilkan nilai pengelolaan sampah yang tinggi, bahkan menjadi yang tertinggi secara nasional," tuturnya.
Melihat budaya kebersihan yang sudah terbangun kuat, Hanif menilai wajar jika sistem di Surabaya kini bisa disandingkan dengan kota-kota di Eropa.
Ia pun mendorong wali kota dari daerah lain untuk segera melakukan studi banding ke Kota Pahlawan ini.
PSEL Benowo
Kabar baiknya tak berhenti di situ. Pemerintah pusat memastikan komitmennya untuk terus mendukung proyek Pembangkit Sampah Energi Listrik (PSEL) Benowo.
Hanif memastikan dana operasional PSEL untuk tahun 2026 sudah tersedia dan akan segera dicairkan setelah proses pemeriksaan BPKP rampung
."Setelah dilakukan pemeriksaan oleh BPKP, akan kita bayarkan untuk PSEL Benowo. Kemudian tahun 2026 dananya sudah tersedia di kami, tinggal dicairkan sesuai mekanisme," tutur Hanif.
Ke depannya, pemerintah pusat bahkan sudah mengusulkan pembangunan PSEL tahap kedua. Fasilitas baru ini nantinya dirancang untuk melayani kawasan aglomerasi yang lebih luas, mencakup Sidoarjo, Gresik, Mojokerto, hingga Jombang.
Strategi Jitu Wali Kota Eri Cahyadi
Tentu saja, pencapaian ini tidak datang dalam semalam. Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi membeberkan beberapa strategi jitu yang membuat Surabaya berhasil mandiri dalam mengelola sampah
Berbagai program pengelolaan sampah di kota tersebut dijalankan sesuai amanat undang-undang. Salah satunya mewajibkan sektor usaha seperti hotel, restoran, kafe (Horeka), dan pusat perbelanjaan untuk memilah sampah.
Selain itu, pengangkutan sampah juga diwajibkan menggunakan kendaraan compactor agar tidak menimbulkan pencemaran.
"Dengan pernyataan Pak Menteri ini akan menguatkan kemandirian pengelolaan sampah di perkampungan dan tempat usaha, sehingga beban APBD untuk penanganan sampah di Surabaya bisa berkurang," ujar Eri.
Eri juga menjelaskan alasan pemerintah kota menjadikan Sungai Kalimas sebagai lokasi percontohan program kebersihan sungai. Menurutnya, sungai tersebut merupakan salah satu sumber air bagi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Surabaya.
"Kalimas ini adalah sumber air untuk PDAM. Maka sepanjang sungai tidak boleh ada yang kotor. Karena itu kami jadikan percontohan dan nantinya akan dilanjutkan sampai ke kawasan Pabean agar kualitas air tetap terjaga," tandasnya.