4 Tanda Hubungan Mengandung Kekerasan Emosional yang Sering Tak Disadari
Mursal Ismail March 07, 2026 01:03 AM

SERAMBINEWS.COM - Kekerasan dalam hubungan tidak selalu berupa fisik, tetapi juga bisa terjadi secara emosional dan psikologis. 

Mengenali tanda-tandanya, seperti manipulasi, merendahkan pasangan, hingga ketidakkonsistenan perilaku, penting agar seseorang dapat keluar dari relasi tidak sehat dan membangun hubungan yang lebih aman.

Pasalnya, banyak orang terjebak dalam relasi yang secara emosional dan psikologis menyakitkan, namun sulit dikenali karena dibungkus dengan kata cinta.

Psikolog berlisensi sekaligus pendiri terapi Couples Learn, Sarah Schewitz menjelaskan, kekerasan emosional dapat mencakup merendahkan pasangan, memanggil dengan sebutan kasar, memanipulasi agar pasangan merasa tidak aman, menyebutnya gila, hingga berbohong atau berselingkuh.

“Perilaku abusive sering kali merupakan hasil dari ketidakmampuan seseorang mengatur sistem sarafnya, trauma masa lalu yang belum sembuh, dan kurangnya pemahaman tentang cara mempertahankan hubungan yang sehat,” ujarnya, seperti disadur PopSugar, Rabu (4/3/2026).

Berikut empat tanda utama hubungan yang penuh kekerasan emosional.

Baca juga: Emas, Beras hingga Lauk Pemicu Inflasi di Aceh, Sekda Minta Aksi Pengendalian Harus Serius

1. Love bombing di awal hubungan yang terlalu intens

Salah satu pola yang kerap muncul adalah love bombing, yaitu ketika pasangan menunjukkan perhatian, kasih sayang, dan janji komitmen secara berlebihan di awal hubungan.

Love bombing bertujuan membangun ikatan dan kepercayaan dengan cepat.

Secara ilmiah, kondisi ini membanjiri tubuh dengan dopamin, neurotransmiter yang memunculkan rasa senang dan euforia.  

Namun, sensasi ini bisa menciptakan ketergantungan emosional terhadap pasangan.

Hubungan yang dimulai dengan intensitas ekstrem sering kali berubah drastis ketika fase bulan madu berakhir.

Setelah ikatan terbentuk, pelaku dapat mulai menunjukkan perilaku manipulatif atau merendahkan, sementara korban tetap bertahan karena mengingat betapa indahnya fase awal hubungan.

Baca juga: Wagub Rapat Bersama Mendagri, Dana TKD Dicairkan 3 Tahap

2. Ketidakkonsistenan antara ucapan dan tindakan

Tanda berikutnya adalah inkonsistensi. Pelaku mungkin mengatakan, “Aku mencintaimu, aku tidak akan pernah menyakitimu,” tetapi tindakannya justru bertolak belakang.

Mereka bisa menjanjikan sesuatu lalu mengingkarinya, kemudian menjadi defensif atau marah ketika diingatkan. 

Dalam beberapa kasus, pelaku bahkan membuat pasangannya merasa dirinya berlebihan atau gila karena mempertanyakan hal tersebut.

Ada pula yang memilih diam dan menolak membahas masalah, sehingga perasaan pasangan menjadi tidak tervalidasi.

Pola ini menciptakan kebingungan emosional dan membuat korban meragukan persepsinya sendiri.

Baca juga: Beredar Foto Rudal Iran dengan Gambar Yahya Sinwar dan Hassan Nasrallah, Ada Tulisan Ayat Al-Quran

Ketidaksesuaian antara kata dan tindakan menjadi bentuk manipulasi halus yang perlahan mengikis rasa percaya diri.

3. Merendahkan dan mengikis harga diri

Merendahkan pasangan, baik secara terang-terangan maupun terselubung merupakan ciri utama kekerasan emosional.

Pelaku bisa menyiratkan bahwa pasangannya tidak cukup pintar, tidak cukup menarik, atau tidak cukup baik.

“Pelaku sering mengatakan kepada perempuan bahwa mereka tidak berharga, tidak layak dicintai, tidak menarik, dan sebagainya sebagai cara untuk mengontrol mereka dan membuat mereka takut bahwa tidak ada orang lain yang akan menginginkan mereka jika mereka pergi,” ungkap Schewitz.

Ucapan-ucapan tersebut bukan sekadar candaan. Lama-kelamaan, komentar negatif yang terus diulang akan membentuk keyakinan baru dalam diri korban bahwa dirinya memang tidak cukup baik.

Baca juga: Iran Klaim Serang Kapal Induk USS Abraham Lincoln dengan Drone hingga Kabur

Tak jarang, pelaku juga merendahkan keluarga atau teman korban untuk menjauhkan mereka dari sistem pendukung yang bisa membantu melihat situasi secara objektif.

4. Penyangkalan dan rasa takut mengungkapkan kebenaran

Dalam banyak kasus, korban berada dalam fase denial atau penyangkalan. Mereka fokus pada momen-momen baik dalam hubungan dan mengabaikan pola menyakitkan yang terjadi berulang kali.

Schewitz menyarankan beberapa pertanyaan reflektif, seperti apakah perasaan dalam hubungan saat ini mengingatkan pada hubungan masa lalu, apakah ada rasa malu menceritakan konflik kepada keluarga dan teman, serta apakah lebih sering merasa sedih, takut, cemas, dan marah dibanding aman dan nyaman.

Penyangkalan sering muncul karena korban takut dihakimi atau diminta meninggalkan hubungan tersebut.

Menurut Schewitz, keterlibatan sekecil apa pun setelah putus, termasuk memantau media sosial mantan pasangan, dapat mengaktifkan kembali trauma bond dan mempersulit proses penyembuhan.

Baca juga: Pertahanan Udara Arab Saudi Hancurkan Rudal dan Drone yang Mengarah ke Al-Kharj

Mengenali tanda-tanda ini menjadi langkah awal untuk memutus siklus kekerasan emosional.  Jika merasa berada dalam hubungan yang tidak sehat, mencari bantuan profesional melalui terapi berperspektif trauma dapat membantu memproses pengalaman dan membangun pola relasi yang lebih aman di masa depan. (*)

Sumber: https://lifestyle.kompas.com/read/2026/03/06/040000220/4-tanda-hubungan-penuh-kekerasan-emosional-waspadai-sejak-awal

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.