Oleh: Salman Ahmad
MALAM ini adalah malam ke-17 Ramadhan.
Malam yang diyakini sebagai malam nuzulul Qur’an.
Pada malam seperti ini, kita biasanya mengenang turunnya wahyu pertama, ketika Al-Qur’an mulai hadir di tengah kehidupan manusia.
Muhasabah malam ini ingin saya susun dalam bentuk otokritik sederhana: menengok kembali bagaimana interaksi kita dengan Al-Qur’an selama ini.
Interaksi saya dengan Al-Qur’an tidak selalu seintim yang seharusnya.
Saya menghormatinya.
Mushaf itu tidak pernah saya letakkan sembarangan.
Ia berada di tempat yang baik, bersih, dan diperlakukan dengan penuh adab.
Ketika menyentuhnya, ada rasa hormat yang hadir, sebab kita tahu bahwa kita sedang berhadapan dengan sesuatu yang suci.
Namun perlahan saya menyadari: penghormatan ternyata tidak selalu sama dengan kedekatan.
Ada banyak hari yang lewat begitu saja tanpa perjumpaan dengan Al-Qur’an.
Mushaf itu tetap ada di tempatnya, diam, tidak berpindah.
Tangan saya juga tidak selalu bergerak menyentuhnya.
Hari berganti hari, dan Al-Qur’an tetap menunggu dengan sabar untuk dijamah.
Kadang ia terbuka juga.
Biasanya pada waktu-waktu tertentu: misalnya ketika Ramadhan seperti saat ini, atau ketika hati terasa lelah, atau ketika batin sedang mencari sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Saat itu ayat-ayat dibaca. Suara huruf-huruf Arab mengalir dari bibir.
Ada ketenangan yang singkat.
Tetapi sering kali perjumpaan itu tidak bertahan lama.
Setelahnya, kehidupan yang biasa kembali mengambil alih.
Kita membaca Al-Qur’an, tetapi tidak selalu benar-benar memahami bahasanya.
Huruf-hurufnya kita kenal.
Tajwidnya kita pelajari.
Namun makna yang dikandung ayat-ayat itu sering tidak benar-benar hadir dalam kesadaran kita.
Ayat-ayatnya lewat di bibir, tetapi tidak selalu sempat menetap di dalam hati.
Padahal, Al-Qur’an memperkenalkan dirinya dengan kata yang sederhana sekaligus sangat dalam: hudan, petunjuk.
Sesuatu yang membantu manusia menemukan arah.
Dan petunjuk hanya benar-benar bermakna ketika ia digunakan untuk berjalan.
Ada satu pertanyaan yang kadang muncul dan terasa agak menggelisahkan: sejauh mana Al-Qur’an benar-benar menjadi arah dalam hidup kita? Pertanyaan ini tidak selalu mudah dijawab.
Dalam banyak keputusan hidup, kita sering mengikuti kebiasaan.
Kadang pertimbangan praktis.
Kadang arus lingkungan.
Jarang sekali kita benar-benar berhenti sejenak lalu bertanya dengan sungguh-sungguh: bagaimana Al-Qur’an memandang masalah ini?
Jarak dengan Al-Qur’an itu tentu saja tidak lahir dari penolakan.
Lebih sering ia lahir dari kelalaian.
Padahal sepanjang sejarah, kita mengetahui bahwa Al-Qur’an adalah kitab yang memiliki kekuatan yang luar biasa.
Ia pernah mengubah manusia secara radikal.
Ia membentuk generasi yang sebelumnya hidup dalam kekerasan menjadi masyarakat yang mengenal keadilan, kasih sayang, dan tanggung jawab moral.
Ayat-ayatnya mampu mengguncang hati manusia.
Banyak orang merasakan getaran yang sangat dalam ketika membacanya.
Jika jujur kepada diri sendiri, kita juga mungkin pernah merasakan sesuatu yang lain: kemukjizatan itu belum sepenuhnya hadir dalam pengalaman batin kita.
Bukan karena Al-Qur’an kehilangan kekuatannya, melainkan karena kita belum cukup dekat untuk merasakannya.
Hubungan dengan sebuah kitab tidak tumbuh hanya karena ia dimiliki atau dihormati.
Ia lahir dari perjumpaan yang berulang. Dari waktu yang diberikan.
Dari kesediaan untuk duduk bersama kata-katanya, membaca perlahan, mencoba memahami, dan membiarkannya berbicara ke dalam kehidupan kita, bahkan seakan Tuhan sedang berbicara langsung kepada kita.
Barangkali Ini yang sering belum terjadi.
Al-Qur’an sendiri tidak pernah berubah. Ia tetap sama seperti ketika pertama kali diturunkan.
Ayat-ayatnya tidak berkurang.
Pesannya tidak memudar.
Ia tetap memperkenalkan dirinya sebagai cahaya dan petunjuk.
Yang sering berubah hanyalah jarak manusia dengannya.
\Otokritik yang paling jujur bisa dimulai dari sebuah kesadaran sederhana, yaitu bahwa jarak tersebut sebenarnya tidak bersifat tetap.
Ia dapat dipendekkan.
Sedikit demi sedikit.
Ayat demi ayat.
Perjumpaan demi perjumpaan.
Barangkali dari situlah hubungan kita dengan Al-Qur’an bisa mulai tumbuh kembali.
Bukan sekadar hubungan penghormatan terhadap sebuah kitab suci, tetapi hubungan yang lebih hidup, ketika Al-Qur’an perlahan menjadi teman perjalanan kita.
Teman yang tidak banyak berbicara dengan suara keras, tetapi selalu membuka jalan bagi siapa saja yang bersedia mendekat, mendengar, dan berjalan bersamanya dalam pencarian arah hidup.
Dan pada akhirnya, yang dibutuhkan hanyalah satu hal yang sederhana: membuka kembali mushaf itu, lalu memberi waktu bagi diri kita untuk duduk bersamanya.(*)