Bahlil Anggap Wajar Publik Ragukan Prabowo Bisa Damaikan Iran-AS, Tegaskan Aksi Nyata Segera Dimulai
jonisetiawan March 07, 2026 06:38 AM

 

TRIBUNTRENDS.COM - Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dunia akibat konflik antara Iran dan Amerika Serikat, muncul wacana bahwa Presiden Prabowo Subianto siap mengambil peran sebagai mediator untuk meredakan eskalasi konflik.

Namun gagasan tersebut tidak sepenuhnya diterima dengan optimisme oleh semua pihak. Sejumlah kalangan masih meragukan kemampuan Indonesia, bahkan sosok Prabowo sendiri, untuk memainkan peran sebagai penengah dalam konflik yang melibatkan kekuatan besar dunia.

Menanggapi keraguan tersebut, Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, tampil memberikan pembelaan terbuka.

Ia menegaskan keyakinannya bahwa Presiden Prabowo memiliki kapasitas dan pengalaman yang cukup untuk menjalankan komunikasi politik tingkat tinggi dengan para pemimpin dunia.

Baca juga: Imbas Pernyataan Bahlil, Warga Medan Panic Buying BBM hingga Rela Antre SPBU Sampai Malam Hari

Bahlil menilai keraguan yang muncul di ruang publik sebagai hal yang wajar, terutama bagi mereka yang belum memahami secara langsung karakter kepemimpinan Prabowo dalam percaturan politik internasional.

"Jadi kalau yang tidak tahu Pak Presiden Prabowo itu wajar (meragukan). Tapi bagi kami, Partai Golkar, yang tahu Bapak Presiden Prabowo, insyaallah kami sangat yakin terhadap kemampuan beliau dalam melakukan komunikasi politik antar kepala-kepala negara di dunia," kata Bahlil saat ditemui wartawan di kantor DPP Golkar, Jakarta Barat, Jumat (6/3/2026) malam.

Keraguan Publik Dinilai Bagian dari Demokrasi

Bahlil menegaskan bahwa dirinya tidak mempersoalkan munculnya kritik maupun keraguan dari berbagai pihak terkait rencana Prabowo menjadi mediator konflik internasional tersebut. Menurutnya, dinamika opini di tengah masyarakat justru merupakan bagian tak terpisahkan dari sistem demokrasi yang dianut Indonesia.

Dalam negara demokrasi, lanjut Bahlil, setiap warga negara memiliki hak untuk menyampaikan pandangan, termasuk meragukan atau mengkritik kebijakan pemerintah.

"Saya tidak menanggapi pihak-pihak di luar ya. Negara kita ini negara demokrasi, semua orang boleh berpendapat, semua orang boleh berpikir. Itu adalah salah satu konsekuensi daripada negara demokrasi," ujar Bahlil.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa Partai Golkar tetap memiliki keyakinan kuat terhadap kapasitas Presiden Prabowo dalam memainkan peran diplomasi di panggung internasional.

"Tapi bagi Partai Golkar adalah sangat memahami, mengerti, dan percaya kepada kemampuan Bapak Presiden Prabowo," sambungnya.

STOK BBM JELANG LEBARAN - Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan keterangan kepada awak media di Istana Kepresidenan Jakarta terkait jaminan stok dan harga BBM nasional menjelang Idul Fitri.
BAHLIL BELA PRABOWO - Ketua Umum Golkar Bahlil Lahadalia menyatakan yakin Prabowo Subianto memiliki kapasitas untuk menjadi mediator dalam konflik antara Iran dan Amerika Serikat. (Tribunnews Bogor/Tribunnews.com/Tribunnews.com)

Pengalaman Diplomasi Prabowo di Mata Bahlil

Keyakinan Bahlil bukan tanpa alasan. Ia mengungkapkan bahwa dirinya baru saja mendampingi Presiden Prabowo dalam sejumlah kunjungan luar negeri yang mempertemukan kepala negara Indonesia itu dengan berbagai pemimpin dunia.

Dalam rangkaian lawatan tersebut, Prabowo mengunjungi beberapa negara penting seperti Jepang, Amerika Serikat, Inggris, Yordania, serta Uni Emirat Arab.

Dari pengalaman itu, Bahlil mengaku melihat secara langsung kedekatan hubungan emosional antara Prabowo dengan sejumlah pemimpin negara tersebut.

Interaksi yang terjalin, menurutnya, menunjukkan bahwa Presiden Indonesia memiliki jaringan diplomasi yang luas serta kemampuan membangun komunikasi politik di tingkat global.

Baca juga: Anies Desak Prabowo Segera Keluar dari BoP Bentukan Trump: Kita Bukan Negara Anti-Perdamaian

Rencana Lawatan ke Teheran Bersama Pakistan

Sementara itu, gagasan mengenai langkah mediasi Indonesia dalam konflik Timur Tengah juga diungkap oleh Ketua Dewan Penasihat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), Jimly Asshiddiqie.

Ia menyampaikan bahwa Presiden Prabowo bersama pemimpin Pakistan direncanakan melakukan kunjungan ke Teheran, ibu kota Iran, sebagai bagian dari upaya meredakan ketegangan yang semakin memanas di kawasan tersebut.

Jimly mengaku mendengar langsung rencana itu dari Presiden Prabowo saat menghadiri pertemuan bersama para ulama, pimpinan pondok pesantren, serta tokoh organisasi masyarakat Islam di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (5/3/2026).

"Saya bersyukur Perdana Menteri Pakistan bersedia untuk bersama-sama dengan Presiden Prabowo untuk berkunjung ke Teheran. Itu yang diterangkan tadi oleh Presiden," kata Jimly di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Kamis malam.

Ia juga mengungkapkan bahwa lawatan tersebut akan dilakukan bersama-sama oleh kedua pemimpin negara.

"Lupa saya Perdana Menteri atau Presiden Pakistan. Nah mereka akan sama-sama pergi ke Teheran," imbuh dia.

Telepon Mendadak dari Pakistan

Jimly menuturkan bahwa rencana kunjungan itu bermula dari komunikasi langsung antara pemimpin Pakistan dan Presiden Prabowo.

Bahkan, menurutnya, panggilan telepon tersebut terjadi hanya beberapa jam sebelum pertemuan dengan para tokoh agama berlangsung.

"Pakistan baru menelepon Presiden Prabowo beberapa jam sebelum pertemuan ini ya kan. Nah dia mau sama-sama berdua. Oh itu bagus sekali," tutur dia.

Baca juga: Indonesia Ambil Peran Jadi Mediator Perang Iran-Amerika, Prabowo Minta Doa Restu Para Kiai

Mediasi Meski Peluang Kecil

Meski menyadari peluang keberhasilan upaya mediasi tersebut tidak mudah, Jimly menilai langkah itu tetap patut dicoba sebagai bentuk kontribusi Indonesia dalam menjaga stabilitas global.

Baginya, keterlibatan Indonesia dalam diplomasi perdamaian menunjukkan peran negara ini sebagai pemain global yang aktif dalam meredakan konflik internasional.

"Walaupun mungkin peluangnya kecil tapi dicoba. Intinya Indonesia mengambil global player peran sebagai global player. Itu kita dukung. Jangan dianggap negatif dulu ya, bukannya mendamaikan orang yang baru dibunuh, bukan begitu. Tapi untuk menurunkan eskalasi dan mencegah apa serangan lagi dari Israel," kata Jimly.

***

(TribunTrends/Kompas)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.