TRIBUNGORONTALO.COM— Konflik geopolitik yang melibatkan Iran mulai berdampak langsung pada ekonomi Amerika Serikat setelah harga bahan bakar melonjak tajam di berbagai wilayah negara tersebut.
Data dari American Automobile Association menunjukkan harga rata-rata bensin di South Carolina kini mencapai 2,94 dolar AS per galon atau naik sekitar 25 sen hanya dalam sepekan.
Secara nasional di United States, harga rata-rata telah menyentuh 3,32 dolar AS per galon, meningkat 32 sen dibandingkan pertengahan Februari.
Baca juga: Update Harga Emas 7 Maret 2026: Galeri 24 1 Gram Turun Jadi Rp3,058 Juta
Analis minyak GasBuddy, Matt McClain, menjelaskan bahwa lonjakan harga dipicu terganggunya jalur pengiriman minyak dunia akibat ketegangan dengan Iran.
“Perdagangan minyak dunia yang bergerak di antara negara-negara OPEC Plus saat ini praktis tertutup karena ancaman Iran. Hampir tidak ada minyak yang bisa melewati jalur tersebut,” kata McClain.
Sekitar 10 hingga 15 persen pasokan minyak yang digunakan Amerika berasal dari Timur Tengah dan melewati jalur strategis Strait of Hormuz.
Gangguan di kawasan itu membuat pasokan global berkurang dan mendorong harga energi melonjak.
Meski produsen bahan bakar di AS juga mulai beralih ke campuran bensin musim panas yang lebih mahal, McClain menilai faktor tersebut hanya memberi dampak kecil dibandingkan konflik geopolitik.
“Hampir seluruh kenaikan harga yang kita lihat saat ini dipicu situasi Iran dan Selat Hormuz,” ujarnya.
Baca juga: Serangan Drone Iran Tewaskan Tentara Amerika, Washington Curiga Ada Bantuan Intelijen Rusia
Para analis memperingatkan, jika konflik berkepanjangan dan jalur pelayaran minyak belum kembali normal, harga bahan bakar berpotensi terus meningkat dan memberi tekanan tambahan bagi perekonomian Amerika.
Pemerintah Amerika Serikat memperkirakan operasi militer terhadap Iran akan berlangsung sekitar empat hingga enam pekan untuk mencapai target yang telah ditetapkan.
Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengatakan operasi militer yang diberi nama Operation Epic Fury tersebut kini telah memasuki hari ketujuh.
Operasi itu bertujuan untuk melumpuhkan kemampuan rudal balistik Iran, menghancurkan kekuatan angkatan lautnya, serta memutus jalur Iran menuju pengembangan senjata nuklir.
“Apa yang bisa saya sampaikan adalah bahwa Presiden telah menjelaskan bahwa target yang dapat dicapai dari Operation Epic Fury diperkirakan memakan waktu sekitar empat hingga enam minggu, dan kami sudah berada di jalur yang tepat untuk mencapai tujuan tersebut,” kata Leavitt dalam konferensi pers di Gedung Putih, Jumat.
Baca juga: Puasa Tetap Segar: Atur Pola Minum dan Makanan Agar Tubuh Terhidrasi
Menurut Leavitt, militer Amerika Serikat sejauh ini telah menenggelamkan puluhan kapal Iran selama operasi berlangsung.
Ia bahkan mengklaim bahwa angkatan laut Iran kini dinilai sudah tidak lagi efektif dalam pertempuran.
Selain itu, Washington juga menyebut telah berhasil menghancurkan sebagian besar ancaman rudal balistik Iran.
Trump Soroti Kepemimpinan Baru Iran
Leavitt juga menyinggung perhatian Presiden AS Donald Trump terhadap proses pemilihan pemimpin baru Iran setelah tewasnya pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, akibat serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel.
“Sudah tentu menjadi kepentingan Amerika Serikat agar Iran tidak lagi dipimpin oleh rezim radikal yang meneriakkan ‘kematian bagi Amerika’ dan berbohong kepada dunia mengenai ambisi rahasia mereka untuk memiliki bom nuklir,” kata Leavitt.
Ia menambahkan bahwa Trump tertarik untuk mengikuti perkembangan siapa yang akan menjadi pemimpin Iran berikutnya dan sedang mempertimbangkan berbagai opsi.
Dalam wawancara dengan Axios dan Reuters, Trump bahkan mengatakan bahwa ia seharusnya memiliki peran dalam menentukan pemimpin Iran berikutnya.
Ia juga menilai Mojtaba Khamenei, putra dari pemimpin tertinggi Iran yang telah meninggal, sebagai sosok yang “tidak dapat diterima”.
Sementara itu, US Central Command menyatakan bahwa militer Amerika telah menyerang lebih dari 3.000 target di Iran sejak operasi dimulai pada 28 Februari.
Dalam operasi tersebut, pasukan AS juga dilaporkan telah merusak atau menghancurkan 43 kapal milik Iran.
Washington mengerahkan sejumlah aset militer canggih, termasuk pesawat pengebom B-1 Lancer, pesawat siluman B-2 Spirit, serta jet tempur siluman F-35 Lightning II.
Komandan CENTCOM, Brad Cooper, mengatakan Iran telah menyerang 12 negara berbeda dan terus menargetkan warga sipil di Timur Tengah.
Ia menegaskan bahwa setiap serangan tersebut tidak akan dibiarkan tanpa balasan. (*)