Jatman Sulsel Buktikan Tarekat Tak Pernah Jauh dari Masyarakat, Ketika Kaum Sufi Gandeng PD Pasar
AS Kambie March 07, 2026 10:22 AM

TRIBUN-TIMUR.COM - Volume kendaraan di sekitar Warkop 69 Jalan Ratulangi Nomor 212 lebih padat dari hari sebelumnya. Jumat pagi menjelang siang, 6 Maret 2026, ibu-ibu dan bapak-bapak berdatangan ke depan Warkop 69. 

Sejak pagi, warga berdatangan membawa kupon untuk ditukar dengan paket sembako yang telah disiapkan panitia.

Dua ibu berkerudung berdiri di balik meja kayu yang dipenuhi kantong plastik berisi beras dan bahan pokok. Dengan cekatan mereka melayani warga yang datang satu per satu. Kupon diserahkan, dicatat, lalu sebuah paket sembako disodorkan ke tangan warga yang menunggu di depan meja.

Di dalam ruangan sederhana itu, aktivitas berlangsung tanpa henti. Seorang relawan memeriksa kupon yang disodorkan warga, sementara rekannya membuka plastik dan menggeser paket sembako ke tepi meja. Beberapa kantong beras yang masih tersusun rapi menunggu giliran dibagikan.

Di luar ruangan, suasana tak kalah ramai. Seorang pengendara motor yang masih mengenakan helm berhenti di depan meja panitia. Ia menyerahkan kupon kepada relawan yang sedang mencatat, sementara beberapa warga lain duduk di bangku panjang menunggu giliran mereka dipanggil.

Antrean warga terlihat bergantian maju ke meja pembagian. Sebagian datang dari sekitar kawasan Jalan Ratulangi, sebagian lagi menunggu sambil berbincang di teras bangunan yang menjadi lokasi kegiatan.

Itulah aktivitas dan suasana sederhana Pasar Murah Jatman Peduli yang digelar Jam’iyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah Annahdliyah Sulsel, disingkat Jatman Sulsel.

Pasar Murah Jatman Peduli ini merupakan program sosial yang digelar bekerja sama dengan Perusahaan Umum Daerah Pasar Makassar Raya (Perumda Pasar Makassar Raya), untuk membantu masyarakat memperoleh kebutuhan pokok dengan harga lebih terjangkau. Menjelang Ramadan, paket sembako yang dibagikan itu menjadi bantuan yang dinantikan warga yang datang membawa kupon dari panitia.

“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur dan berbahagia bisa bekerja sama dengan guru-guru kami, pembimbing kami, dan orang tua kami di Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu'tabarah Annahdliyah untuk kegiatan mulia seperti Pasar Murah ini. Apalagi ini di Bulan Ramadhan. Semoga berkah bagi kita semua,” kata Direktur Umum Perumda Pasar Makassar Raya, H Irfan Darmawan NM SH, Sabtu, 7 Maret 2026.

Sedekah Menemukan Jalan Tepat

Ramadan selalu punya cara sendiri mempertemukan niat baik dengan tangan-tangan yang siap bekerja. 

Kadang bukan melalui program besar, bukan pula lewat seremoni yang penuh sorotan. Ia justru lahir dari percakapan sederhana, dari orang-orang yang merasa perlu melakukan sesuatu. 

Itulah yang tampak dalam kegiatan Jatman Peduli yang difasilitasi oleh Nasran Mone, Aminus Shunduq Jatman Sulsel, melalui kerja sama dengan Perumda Pasar Makassar Raya. 

Sebanyak 100 paket bantuan disalurkan. Angkanya mungkin tidak besar jika dihitung secara statistik, tetapi di bulan Ramadan, nilai sebuah bantuan tidak selalu diukur dari jumlahnya. Ia diukur dari kebermaknaannya bagi mereka yang menerima.

Di ruang-ruang sederhana tempat paket-paket itu disiapkan, Ramadan bekerja sebagai habitus kebaikan.

Orang datang membawa tenaga, waktu, bahkan sekadar senyum. Ada yang mencatat, ada yang membungkus, ada yang memastikan bantuan sampai pada yang membutuhkan. Tidak ada hirarki yang terlalu terasa. Semua orang seperti berada dalam satu kesadaran yang sama: bahwa Ramadan adalah waktu ketika solidaritas sosial menemukan momentumnya.

Kegiatan seperti ini juga mengingatkan bahwa kehidupan kota seringkali menyisakan kelompok-kelompok yang berjalan lebih lambat dari yang lain.

Mereka ada di sekitar kita: pekerja kecil, pedagang harian, orang tua yang menggantungkan hidup pada penghasilan yang tidak menentu. Bagi mereka, satu paket bantuan di bulan Ramadan bukan sekadar bahan makanan. Ia adalah pesan yang lebih dalam: bahwa mereka masih dilihat, masih dianggap bagian dari komunitas.

Karena itu, kerja-kerja kecil seperti yang dilakukan Jatman Peduli seringkali memiliki dampak sosial yang panjang. Ia menanamkan kebiasaan baik: bahwa Ramadan bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga, tetapi juga membangun kebiasaan berbagi. 

Ketika 100 paket itu berpindah tangan, yang sebenarnya berpindah bukan hanya bantuan. Yang berpindah adalah harapan besar. Bahwa di tengah kehidupan yang kadang terasa keras, selalu ada orang yang bersedia menjadi jalan bagi kebaikan.

Ramadan memang selalu menjadi musi berseminya solidaritas sosial. Kadang ia lahir dari masjid. Kadang dari rumah-rumah warga. Bahkan dari ruang yang paling sibuk dalam kehidupan kota: pasar. 

Di tempat yang biasanya identik dengan tawar-menawar dan hiruk pikuk ekonomi itulah, sekelompok ahli tarekat merancang kerja sama menegakkan solidaritas sosial, meneguhkan kepedulian, menggapai berkah. 

Melalui program Jatman Peduli, kegiatan berbagi itu menemukan jalannya. Kerja sama dengan Perumda Pasar Makassar Raya menjadi jembatan bagi tersalurnya bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan. 

Paket-paket itu mungkin terlihat sederhana: beras, minyak goreng, dan kebutuhan pokok lainnya. Namun dalam suasana Ramadan, setiap paket seperti membawa pesan yang jauh lebih besar dari sekadar isinya.

“Kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian sosial agar masyarakat yang membutuhkan juga dapat merasakan keberkahan Ramadan,” ujar Nasran Mone. 

Menurutnya, pasar merupakan ruang yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat kecil, sehingga kegiatan sosial yang dilakukan di lingkungan pasar dapat langsung menyentuh kelompok yang membutuhkan.

“Insya Allah ada sekitar 100 paket bantuan yang disalurkan kepada masyarakat. Mudah-mudahan ini bisa sedikit membantu dan membawa manfaat,” kata politisi senior Partai Golkar itu.

Nasran juga berharap kolaborasi seperti ini dapat terus berlanjut. Menurutnya, kerja sama antara organisasi keagamaan dan pengelola ruang publik seperti pasar memiliki potensi besar dalam memperkuat solidaritas sosial di tengah masyarakat.

“Kami menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang mendukung, mulai dari Perumda Pasar Makasar Raya hingga para sahabat dan relawan yang membantu menyiapkan serta menyalurkan bantuan,” ujar Nasran Mone.

Masa Khidmat Penuh Dimensi

Bagi Jatman Sulawesi Selatan, kegiatan seperti ini bukan sekadar program sosial. Ia merupakan bagian dari tradisi khidmah dalam dunia tarekat. Yakni melayani masyarakat sebagai bagian dari jalan spiritual.

Jatman Sulsel baru saja memasuki masa khidmat baru. Pengurus Idarah Wustha Jatman Sulawesi Selatan Masa Khidmat 2025–2030 resmi dilantik pada 3 Agustus 2025 di Masjid Raya Makassar. Pelantikan tersebut dihadiri langsung oleh Mudir ‘Ali Jatman, Pror Dr KH Ali Masykur Musa. 

Jatman Sulsel juga sudah menggelar Maulid dan Istigotsah di Masjid Terapung Amirul Mukminin di Pantai Losari, Makassar, 20 September 2025.

Dalam struktur organisasi Jatman Sulsel, terdapat sejumlah majelis dan lajnah yang menangani berbagai bidang, mulai dari penguatan spiritual hingga kegiatan sosial kemasyarakatan.

Di tingkat Mustafad, organisasi ini dipimpin oleh Anre Guruta Dr KH Baharuddin HS sebagai Rais dengan H Asep Saifullah sebagai Katib. Di dalamnya juga terdapat sejumlah tokoh ulama dan habaib, antara lain Syekh Sayyid Abd Hamid Assegaf Puang Cora, Dr KH Ruslan Wahab, Dr H Sayyid Abd Rauf Assegaf, serta Habib Alwi Bafaqih.

Pada tingkat Ifadhiyyah, kepemimpinan diemban Dr H Muhaemin Badaruddin dengan wakilnya Prof Dr Kiai Hannani. Sementara posisi Katib dijabat Dr Mahmud Suyuti.

Adapun pada tingkat Imdadiyah, kepemimpinan berada di tangan Prof Dr H Abd Kadir Ahmad MS APU sebagai Mudir. Lajnah ini berfungsi sebagai penggerak kegiatan organisasi dan pelayanan sosial.

Selain itu, Jatman Sulawesi Selatan juga membentuk sejumlah lajnah tematik yang menangani bidang-bidang khusus. Di antaranya Lajnah Istighotsah, Manakiban dan Tawajjuhan, Lajnah Dakwah Tasawuf dan Tarekat, Lajnah Mubahatsah Masail Ash-Shufiyah, serta Lajnah Penelitian dan Pengkajian Turats (Tasawuf) dan Sanad Tarekat yang dikoordinatori Prof Dr Zainuddin Abdullah Aliah.

Organisasi ini juga membentuk Lajnah Pelatihan dan Kaderisasi Tarekat, Lajnah Ta’lif Wannasyr Thariqiyyah, Lajnah Iqtishodiyyah (Ekonomi), hingga Lajnah GEMMATAN yang mewadahi generasi muda dan mahasiswa pengamal tarekat.

Bahkan terdapat pula Lajnah Wathonah, yang secara khusus mewadahi peran perempuan dalam kegiatan tarekat.

Struktur yang luas ini menunjukkan bahwa dunia tarekat tidak hanya bergerak dalam dimensi spiritual, tetapi juga membangun jaringan sosial yang cukup kuat.

Di tengah kehidupan kota yang semakin individualistik, kegiatan seperti Jatman Peduli menjadi pengingat bahwa solidaritas sosial masih hidup. Ia mungkin tidak selalu muncul dalam bentuk program besar atau proyek spektakuler. Kadang ia hadir melalui langkah-langkah kecil: mengemas paket sembako, mengatur distribusi bantuan, atau sekadar menyediakan waktu untuk terlibat.

Ramadan memang selalu menghadirkan momentum bagi praktik berbagi. Tetapi yang lebih penting adalah bagaimana kebiasaan itu dapat menjadi habitus, sebuah kebiasaan sosial yang terus hidup bahkan setelah Ramadan berakhir.

Seratus paket bantuan yang dibagikan dalam Pasar Murah Jatman Peduli itu memang tidak akan mengubah seluruh persoalan sosial kota. Tetapi bagi mereka yang menerima, bantuan tersebut bisa menjadi penopang penting di tengah kebutuhan yang semakin berat.

Dan bagi mereka yang terlibat dalam kegiatan ini, pengalaman berbagi itu menjadi pengingat bahwa kebaikan seringkali dimulai dari hal-hal sederhana.

Tarekat dan Solidaritas Sosial

Di Jalan Ratulangi 212 Makassar itu, tarekat kembali menunjukkan wajahnya yang paling nyata: spiritualitas yang bekerja untuk manusia.

Fenomena ini menarik jika dilihat melalui kacamata sosiologi.

Sejarawan besar dunia Islam, Ibnu Khaldun, menyebut bahwa kekuatan sebuah komunitas tidak hanya terletak pada kekuasaan atau kekayaan, tetapi pada ashabiyyah: solidaritas sosial yang mengikat anggota masyarakat.

Ketika solidaritas itu kuat, masyarakat mampu bekerja sama, saling menopang, dan bertahan menghadapi berbagai perubahan zaman.

Di Jalan Ratulangi 212 Makassar, konsep ‘ashabiyyah itu tampak hidup dalam bentuk yang sederhana. Pengurus Jatman Sulsel, relawan, pengelola Perumda Pasar Makasar Raya, dan masyarakat penerima bantuan bertemu dalam satu jaringan solidaritas kecil.

Mereka mungkin berasal dari latar belakang berbeda, tetapi pada Jumat 6 Maret 2026 itu mereka dipersatukan oleh satu nilai: berbagi.

Sosiolog Jerman Max Weber pernah menjelaskan bahwa agama dapat melahirkan tindakan sosial yang bermakna. Ia menyebutnya sebagai tindakan yang didorong oleh nilai, value-oriented action.

Bagi Weber, keyakinan religius tidak berhenti pada ritual semata. Ia juga dapat menjadi motor yang mendorong manusia melakukan tindakan nyata dalam kehidupan sosial.

Dalam konteks ini, kegiatan seperti Jatman Peduli dapat dilihat sebagai contoh bagaimana spiritualitas tasawuf menemukan bentuk sosialnya.

Wirid dan zikir yang dilakukan dalam majelis tarekat tidak berhenti di ruang ritual. Ia bergerak keluar, menjelma menjadi kepedulian terhadap masyarakat.

Tasawuf tidak hanya menenangkan hati, tetapi juga menggerakkan tangan.

Weber juga menyebut fenomena ini sebagai “ethic of action”, yaitu ketika keyakinan religius mendorong seseorang melakukan tindakan nyata dalam kehidupan sosial.

Karena itu, kegiatan seperti Jatman Peduli dapat dilihat sebagai bentuk praksis sosial dari spiritualitas tasawuf. Zikir dan khidmah berjalan bersama: satu menguatkan hubungan dengan Tuhan, yang lain memperkuat hubungan dengan sesama manusia.

Sementara itu, sosiolog agama Peter L Berger melihat agama sebagai sumber makna bagi kehidupan manusia. Dalam pandangannya, agama membangun apa yang ia sebut sebagai sacred canopy. Sebuah naungan makna yang membuat kehidupan sosial terasa lebih terarah.

Dalam masyarakat modern yang sering mengalami kekosongan makna, kegiatan-kegiatan religius yang memiliki dimensi sosial menjadi sangat penting.

Ketika komunitas tarekat turun ke ruang publik, ke pasar, ke masyarakat, ke kegiatan sosial, agama tidak lagi hanya berada di ruang ritual. Ia hadir sebagai energi sosial yang memberi makna pada kehidupan bersama.

Dan di situlah agama menemukan relevansinya dalam kehidupan modern.

Di Jalan Ratuangi 212 Makassar, pada Jumat 6 Maret 2026 sore, tiga hal bertemu sekaligus: spiritualitas tarekat, solidaritas sosial, dan makna kemanusiaan.

Dan dari situ kita belajar satu hal sederhana: bahwa agama tidak hanya hidup di mimbar, tetapi juga di tangan-tangan yang saling memberi.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.