SURYA.co.id, TULUNGAGUNG - Pembangunan Jalur Lintas Selatan (JLS) Pantai Brumbun–Pantai Sine di Tulungagung kembali tertunda.
Proyek yang semula ditargetkan rampung lebih cepat kini mundur hingga 29 Mei 2026 akibat longsor di dua titik.
Artinya, jalur belum bisa digunakan saat Lebaran 2026 karena dinilai berbahaya bagi pengendara.
“Kami masih menghadapi longsor yang terjadi di STA 7.000 dan STA 4.600. Dua titik ini karakter tanahnya memang beda,” ujar Pejabat Pembuat Komitmen 2.6 Provinsi Jatim Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional Jatim-Bali Kementerian Pekerjaan Umum, I Made Budiana, saat dihubungi SURYA.co.id, lewat sambungan selular, Jumat (6/3/2026).
Akibat kendala ini proses pengerjaan proyek mendapatkan adendum atau perpanjangan hingga 29 Mei 2026.
Saat ini proses pengerjaan telah mencapai 92 persen.
Baca juga: JLS Tulungagung Diprediksi Padat di Momen Libur Nataru 2025, Polisi Siapkan Skema One Way
Budiana menargetkan, penggalian di 2 titik rawan longsor ini selesai selama 2 minggu ke depan.
“Yang STA awal sudah diaspal. Khusus STA 7.000 dan 4.600 ini memang butuh perlakuan berbeda,” ungkapnya.
Menghadapi titik rawan longsor ini, Budiana mengaku proses pemadatan akan menjadi fokus perhatian.
Dengan kondisi ini, maka Lot 1A ditutup sepenuhnya selama Idul Fitri 2026.
Lot 1B memang bisa dilewati, namun nantinya akan diportal di perbatasan dengan Lot 1A, sehingga pengguna jalan harus putar balik.
Para wisatawan dari JLS Pantai Gemah yang akan ke Pantai Sine tidak bisa lewat JLS Pantai Brumbun-Pantai Sine.
“Percuma masuk ke Lot 1B, karena nanti Lot 1A tetap ditutup untuk umum. Kondisinya bahaya untuk pengendara,” katanya.
Budiana memaparkan, para pekerja libur 19-24 Maret 2026.
Jika nantinya ada warga yang lewat Lot 1A, ada risiko terjebak lumpur saat hujan.
Sementara para pekerja libur, alat berat yang ada tidak ada operatornya sehingga tidak memungkinkan memberi pertolongan.
“Kalau terjebak lumpur malah bahaya karena tidak ada yang bisa menolong. Memang ada penjaga, tapi tidak ada operator,” tegasnya.
Proses pembangunan JLS terakhir di Kabupaten Tulungagung ini awalnya ditargetkan selesai Juli 2025.
Namun terjadi anomali cuaca dengan curah hujan yang sangat tinggi, kerap membuat para pekerja harus berhenti.
Gangguan bertambah karena ada 2 titik yang rawan longsor, sehingga butuh penanganan khusus.