Kesedihan Dedi Mulyadi Warganya Meninggal Dihajar karena 2 Labu Siam, Soroti Inisiatif Aparat Desa
muslimah March 07, 2026 10:54 AM

Kesedihan Dedi Mulyadi Warganya Meninggal Dihajar karena 2 Labu Siam, Soroti Inisiatif Perangkat Desa

TRIBUNJATENG.COM - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengungkapkan perasaannya setelah seorang warganya bernama Minta (56), meninggal dunia dihajar karena mencuri dua buah labu siam.

Minta merupakan warga asal Kampung Bayabang, Desa Talaga, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur

Ia mencuri labu siam untuk berbuka puasa karena ibunya yang sudah berusia 90 tahun meminta sayur.

Sementara di rumahnya hanya tersedia sepiring nasi putih dan ikan asin.

Minta pun pergi ke kebun tetangga dan mencuri dua labu siam. Ia tepergok lalu dihajar dan berakhir meninggal dunia.

Baca juga: Di Depan Polisi, Ini Pengakuan Ujang yang Aniaya Pencuri 2 Labu Siam hingga Meninggal

Baca juga: "Allahu Akbar" Jerit Cucum saat Melihat 2 Labu Siam yang Membuat Kakaknya Dihajar hingga Meninggal

Merasa berdosa

Dedi Mulyadi melihat ada persoalan serius mengenai kepekaan sosial dan tanggung jawab aparat lingkungan terhadap keselamatan warga.

Merespons peristiwa tragis tersebut, Dedi Mulyadi memanggil sejumlah pihak yang berkaitan langsung dengan lingkungan tempat tinggal korban.

Mereka yang dipanggil adalah adik korban, Cucum Suhendar, serta jajaran pengurus lingkungan mulai dari Ketua RT, Kepala Dusun, hingga Kepala Desa setempat.

Pertemuan tersebut digelar di kediaman pribadi Dedi di Lembur Pakuan, Kabupaten Subang, pada Rabu (5/3/2026).

Tujuan utama pertemuan ini adalah untuk menelusuri kronologi kejadian dari sisi pengawasan lingkungan.

Dedi ingin mengetahui sejauh mana peran pengurus RT dan desa saat peristiwa penganiayaan itu terjadi hingga akhirnya nyawa korban tidak tertolong.

Dalam dialog tersebut, terungkap bahwa informasi mengenai penganiayaan Minta tidak segera sampai ke telinga pengurus lingkungan.

Adik korban, Cucum Suhendar, mengakui bahwa pihaknya tidak melaporkan kejadian itu secara langsung kepada ketua RT sesaat setelah Minta dipukuli oleh UA (41).

"Enggak lapor. Ada tetangga ada yang ngasih tahu ke Pak RT," ungkap Cucum sebagaimana dikutip dari kanal YouTube Dedi Mulyadi.

Ketua RT setempat pun memberikan pembelaan serupa.

Ia mengaku baru mengetahui adanya peristiwa keributan tersebut setelah seorang ustaz datang ke rumahnya pada malam hari, tepatnya setelah pelaksanaan salat tarawih.

Kondisi ini menunjukkan adanya jeda waktu yang cukup lama antara kejadian penganiayaan dengan respons aparat lingkungan.

Dedi Mulyadi memberikan catatan kritis terhadap keterlambatan penanganan medis bagi korban.

Menurutnya, kematian Minta diduga kuat akibat tidak adanya inisiatif cepat dari aparat lingkungan (RT, RW, hingga perangkat desa) untuk segera mengevakuasi korban ke rumah sakit setelah mengalami luka berat.

"Kalau ada orang digebukin di kampung, seharusnya Pak RT tahu, Pak RW tahu, kepala dusun juga tahu. Langkah pertama yang dilakukan adalah membawa ke rumah sakit," tegas Dedi.

Bagi Gubernur, alasan mengenai administrasi, status ekonomi, ataupun jaminan kesehatan seperti BPJS tidak boleh menjadi dalih untuk menunda pertolongan pertama pada manusia.

Ia menegaskan bahwa dalam kondisi darurat, keselamatan nyawa harus berada di atas segalanya.

"Kalau sudah luka parah, jangan bicara BPJS dulu. Masukkan saja ke rumah sakit. Nyawa orang harus diselamatkan dulu," ujar Dedi Mulyadi.

Lebih lanjut, Dedi menyoroti fenomena sosial di pedesaan di mana kabar mengenai keributan atau pemukulan biasanya menyebar dengan sangat cepat.

Ia mempertanyakan mengapa dalam kasus ini, korban yang sudah terluka parah justru terkesan dibiarkan tanpa ada tetangga atau pengurus lingkungan yang menjenguk atau membantu.

Dedi menduga adanya perbedaan perlakuan atau cara pandang aparat lingkungan terhadap warga berdasarkan latar belakang ekonomi.

Ia memberikan perbandingan tajam mengenai bagaimana respons lingkungan jika yang menjadi korban adalah orang yang memiliki jabatan atau kekayaan.

"Jangan sampai karena orang miskin lalu dianggap biasa ketika digebuki. Kalau yang dipukul anak pejabat atau orang kaya, mungkin semua langsung bergerak," katanya.

Sebagai pemimpin daerah, Dedi Mulyadi menyatakan rasa penyesalan yang mendalam atas insiden ini.

Ia merasa ada tanggung jawab moral yang besar karena nyawa seorang warga hilang akibat sistem respons lingkungan yang tidak berjalan maksimal.

"Saya sebagai gubernur merasa sangat menyesal. Bahkan, merasa berdosa ada nyawa yang mungkin tidak bisa diselamatkan karena tidak segera dibawa ke rumah sakit," tuturnya.

Ia berharap tragedi ini menjadi evaluasi total bagi seluruh aparat desa di Jawa Barat agar tidak lagi menganggap sepele kondisi warganya.

Pola pikir yang menomorduakan keselamatan warga kecil harus segera diubah. 

"Karena mindset pikiran kita dari mulai RT, RW di desa itu anggap rakyat itu sepele tidak besar. Ini jadi pelajaran bagi warga Jabar," pungkasnya.

Latar Belakang Korban dan Catatan Masa Lalu

Di sisi lain, Cucum Suhenda menjelaskan bahwa kakaknya memang hidup dalam keterbatasan dan bekerja serabutan.

Saat kejadian, Minta mengambil dua buah labu siam murni karena alasan kebutuhan mendesak untuk lauk berbuka puasa.

"Waluh (labu) dua untuk masak (buka puasa)," kata Cucum.

Meskipun keluarga mengakui bahwa Minta sebelumnya pernah melakukan pencurian barang bangunan berupa keramik dan semen, namun kasus tersebut telah diselesaikan secara kekeluargaan.

Saat itu, pemilik barang memilih memaafkan Minta karena seluruh barang dikembalikan.

"Enggak diproses, dimaafkan karena barangnya dikembalikan lagi," tutup Cucum. (TribunnewsBogor.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.