Mengasah Kecerdasan Komunikasi Antarbudaya Selama Puasa Ramadan
Idham Khalid March 07, 2026 11:04 AM

Prof. Dr. Kadri, M.Si 

*Penulis merupakan Guru Besar Ilmu Komunikasi UIN Mataram

TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM - Selama bulan Ramadan ditemukan banyak realitas komunikasi antarbudaya. Fenomena tersebut berlangsung dalam setiap moment khas Ramadan, mulai dari ruang religius seperti saat sholat Taraweh hingga di ruang-ruang publik yang lebih luas. 

Ramadan tidak hanya memperlihatkan keragaman bentuk komunikasi antarbudaya, tetapi juga mengandung nilai-nilai baik yang menjadi syarat penting bagi terwujudnya komunikasi antarbudaya yang efektif. Bahkan dalam konteks tertentu, ibadah puasa mensyaratkan kecerdasan komunikasi antarbudaya dari syaimin dan syaimat untuk menjaga kualitas puasa yang sedang dilakukan, termasuk kearifan yang tidak berpuasa dalam menghargai saudaranya yang sedang beribadah. Maka tidak keliru jika dikatakan bahwa bulan Ramadan adalah ajang mengasah kecerdasan komunikasi antarbudaya.

Secara umum dan bebas komunikasi antarbudaya dimaknai sebagai komunikasi yang melibatkan orang-orang berbeda budaya. Namun lebih bagus jika makna komunikasi antarbudaya diperluas dengan terlebih dahulu mendefinisikan budaya secara longgar.

Acap kali orang mengidentikkan budaya hanya dengan suku, agama, negara, dan beberapa istilah yang sepadan lainnya. Padahal budaya mestinya juga dimaknai lebih luas dengan hal-hal yang bersifat mikro seperti jenis kelamin, kelompok-kelompok kecil berbasis hobi, kelompok usia, dan pelbagai keragaman di level mikro lainnya. Dengan demikian komunikasi antarbudaya memiliki covered area yang lebih luas, tidak hanya terkait komunikasi antarindividu berbeda etnik, agama, atau negara, tetapi juga menyangkut komunikasi antara laki dan perempuan, antarmazhab keagamaan, antar-ormas, antara anak dan orang tua, antarkelompok mikro, antara jamaah masjid yang satu dengan jamaah masjid lainnya, dan masih banyak lagi simpul-simpul mikro lainnya yang jika berkomunikasi diklaim sebagai bentuk komunikasi antarbudaya.

Di antara syarat komunikasi antarbudaya yang berlangsung efektif adalah jika orang-orang yang terlibat di dalamnya menyadari adanya perdedaan dan sadar untuk meminimalisirnya, sembari memberi ruang kesamaan sebesar-besarnya sebagai modal merawat harmoni komunikasi. Syarat-syarat ini sering kali kita temukan saat bulan Ramadan.

Setiap orang yang tidak berpuasa (baik muslimah yang berhalangan atau umat nonmuslim) tidak akan makan di depan umum saat umat muslim lainnya berpuasa. Cara seperti ini merupakan bentuk toleransi sederhana dan wujud komunikasi antarbudaya karena hal seperti ini bisa terwujud berkat adanya saling pengertian, terutama dari pihak yang tidak berpuasa. Mereka sadar bahwa dengan makan di depan orang yang berpuasa akan mengganggu, menggoda, dan memancing emosi saudaranya yang sedang beribadah puasa. 

Tingkat kesadaran seperti di atas hanya ada pada pribadi yang punya kepedulian dengan perasaan orang lain. Mereka mampu hadir dalam diri dan perasaan orang lain. Hadir untuk merasakan agar empati terus terasa. Komunikasi antarbudaya memang membutuhkan kemampuan setiap individu untuk hadir dan mengambil peran orang lain (taking the role of the others). Orang yang cerdas berkomunikasi antarbudaya juga harus memiliki kemampuan memprediksi respon mitra komunikasinya.

Sebelum mengkomunikasikan sesuatu, seseorang dapat memprediksi apa dan bagaimana respon orang lain sebelum mereka melakukan sesuatu. Atas prediksi itulah mereka bisa mengkonstruksi pesan yang tidak menyinggung perasaan orang lain. Inilah yang dimaksud oleh salah satu prinsip komunikasi yang mengatakan bahwa komunikasi selalu predictable. 

Praktek komunikasi antarbudaya juga terlihat saat sholat tarawih. Umat Islam berbeda mazhab menunjukkan toleransi dan saling pengertian dalam membagi dan bergantian pemanfaatan ruang masjid. Bagi jama’ah NU dan simpatisannya yang biasa sholat taraweh sebanyak 20 rakaat rela berjeda terlebih dahulu setelah menyelesaikan sholat taraweh delapan rakaat untuk memberi kesempatan kepada jama’ah Muhammadiyah dan simpatisannya yang hendak melaksanakan sholat witir. Ini adalah bentuk saling pengertian tingkat tinggi yang ditunjukkan oleh umat Islam berbeda mazhab (khususnya dalam hal jumlah rakaat sholat taraweh). Komunikasi antarbudaya di antara mereka berlangsung efektif sehingga tidak ada sikap dan aksi saling mengejek dan merendahkan atau menghina yang lain. 

Di luar pagar masjid juga terlihat komunikasi antarbudaya yang luar biasa efektifnya. Hal ini berlangsung di salah satu kompleks perumahan plural di Kota Mataram, tetapnya di Kompleks Griya Pagutan Indah (GPI) Mataram. Telah menjadi tradisi turun temurun di kompleks tersebut bahwa setiap bulan Ramadan, khsusnya pada saat jadwal taraweh umat Islam, beberapa orang pecalang (kelompok keamanan dari warga Hindu) melaksanaan penjagaan dan patrol di setiap sudut kompleks untuk mengamankan rumah yang ditinggal penguninya pergi bertaraweh di masjid.

Baca juga: Puasa Komunikasi Negatif

Hal yang sama juga dilakukan oleh petugas keamanan dari warga Muslim saat perayaan ibadah Nyepi oleh warga Hindu yang ada di kompleks tersebut. Fenomena seperti ini menjadi pemandangan komunikasi antarbudaya yang luar biasa indahnya di setiap moment Ramadan dan Nyepi di kompleks tersebut. Oleh karena itu tradisi baik seperti ini layak didesiminasikan di tempat lain yang memiliki karakter wilayah yang sama.

Di level nasional, praktik komunikasi antarbudaya yang super toleran seperti ini juga ditunjukkan oleh warga Jakarta dan pengelola masjid Istiqlal dan gereja Katedral Jakarta. Halaman parkir gereja Katedral diizinkan untuk digunakan oleh umat Islam yang hendak melaksanakan taraweh dan sholat iedul fitri di Masjid Istiqlal.

Demikian juga sebaliknya, umat Kristiani yang hendak mengikuti misa di gereja Katedral dapat memarkir mobilnya di masjid Istiqlal. Apalagi dua tempat ibadah tersebut terhubung oleh terowongan toleransi atau terowongan silatuhmi yang dibuat khusus oleh pemerintah sebagai simbol toleransi dan perdamaian. 

Best Practices seperti di atas harus diperbanyak di Indonesia yang dikenal sangat plural. Komunikasi antarbudaya terkadang berlangsung efektif dan terawat baik jika ada ruang yang dikonstruksi khusus atau ada momentum yang didesain untuk membangun tradisi toleran dan saling pengertian, sebagai pelengkap atau perawat sikap toleran yang ada dalam setiap diri manusia. Ibadah puasa dan bulan Ramadan antara lain harus dimaknai sebagai desain Allah swt untuk mengasah toleransi dan sebagai laboratorium (labsite) komunikasi antarbudaya, dengan harapan setiap orang yang hidup dan diterpa bulan Ramadan akan lahir menjadi pribadi-pribadi yang toleran dan komunikator-komunikator antarbudaya yang sukses. Semoga…

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.