TRIBUNJATENG.COM, BATANG - Bau mulut saat berpuasa sering menjadi masalah yang mengganggu rasa percaya diri, terutama bagi pekerja yang harus berinteraksi dengan banyak orang setiap hari.
Kondisi ini kerap muncul selama Ramadan, namun sebenarnya tidak semata-mata disebabkan oleh menahan lapar dan haus.
Faktor utama yang memicu bau mulut saat puasa justru berkaitan dengan kebersihan rongga mulut yang kurang terjaga.
Dokter gigi di RS QIM Batang, Vivi Marizki, menjelaskan bahwa berkurangnya produksi air liur selama berpuasa berperan besar dalam munculnya aroma tidak sedap dari mulut.
“Selama puasa, tubuh cenderung lebih sedikit memproduksi air liur.
Padahal air liur berfungsi membantu membersihkan sisa makanan dan bakteri di dalam mulut,” kata Vivi kepada Tribunjateng, Minggu (1/3/2026).
Baca juga: Kisruh di Kebumen, Polres Dipinjami Lahan untuk Satlantas Malah Akan Diurus Jadi Serfikat Hak Milik
Selama berpuasa, mulut cenderung lebih kering karena produksi air liur menurun.
Kondisi ini membuat bakteri di dalam rongga mulut lebih mudah berkembang biak.
Akibatnya, bau mulut akan lebih cepat muncul, terutama jika sisa makanan masih tertinggal di sela gigi atau permukaan lidah.
Menurut Vivi, menjaga kesegaran napas tidak cukup hanya mengandalkan obat kumur.
Kebiasaan menyikat gigi secara rutin dan pada waktu yang tepat menjadi langkah paling efektif untuk mencegah bau mulut.
Ia menyarankan umat Muslim tetap menyikat gigi minimal dua kali sehari selama Ramadan, yakni setelah berbuka puasa dan sebelum tidur.
Selain itu, menyikat gigi setelah sahur juga sangat dianjurkan.
“Setelah sahur itu penting sekali.
Karena sisa makanan yang tertinggal bisa jadi sumber bau kalau tidak dibersihkan dengan baik,” ujarnya.
Bagi masyarakat yang menggunakan gigi palsu, kebersihan harus diperhatikan lebih serius.
Gigi palsu sebaiknya dilepas terlebih dahulu sebelum dibersihkan secara terpisah.
Setelah itu, gigi asli tetap disikat seperti biasa sebelum gigi palsu dipasang kembali.
Selain menyikat gigi, penggunaan benang gigi atau dental floss juga dianjurkan untuk membersihkan sisa makanan di sela gigi.
Metode ini dinilai lebih aman dan efektif dibandingkan menggunakan tusuk gigi.
Tusuk gigi berisiko melukai gusi dan tidak mampu menjangkau sela gigi yang sempit dengan optimal.
“Dengan floss, sisa makanan yang tidak terangkat sikat gigi bisa dibersihkan lebih optimal dan aman,” ujarnya.
Penggunaan obat kumur tetap diperbolehkan selama puasa, namun sebaiknya memilih produk yang tidak mengandung alkohol.
Kandungan alkohol dalam obat kumur dapat memperparah kondisi mulut kering, sehingga justru memicu munculnya bau tidak sedap.
“Kalau mau pakai obat kumur, sebaiknya malam hari setelah berbuka.
Hindari siang hari karena dikhawatirkan ada cairan yang tertelan,” jelasnya.
Selain menjaga kebersihan gigi dan mulut, kebutuhan cairan tubuh juga harus terpenuhi agar mulut tidak kering.
Dehidrasi menjadi salah satu faktor utama yang memicu bau mulut selama berpuasa.
Untuk menjaga keseimbangan cairan, Vivi menyarankan pola minum 2-4-2, yakni dua gelas saat berbuka, empat gelas setelah salat tarawih, dan dua gelas saat sahur.
Konsumsi buah dan sayuran juga membantu menjaga kesehatan mulut.
Kandungan serat dan air dalam makanan tersebut dapat membantu membersihkan permukaan gigi secara alami.
Salah seorang pasien, Rifa, mengaku sengaja memeriksakan kesehatan giginya demi menjaga kepercayaan diri saat bekerja.
“Kerja saya ketemu banyak orang, jadi takut kalau bau mulut.
Ternyata memang harus lebih disiplin sikat gigi dan minum air putih,” ucapnya.
Dengan menjaga kebersihan gigi dan mulut, memenuhi kebutuhan cairan, serta menerapkan pola makan sehat, bau mulut saat puasa sebenarnya dapat dicegah dengan langkah sederhana. (Ito)