TRIBUNJABAR.ID - Pemerintah Kota Bandung mulai membangun halte Bus Rapid Transit (BRT) di 27 titik yang ditargetkan rampung pada akhir 2026.
BRT adalah sistem transportasi umum massal berbasis bus yang dirancang untuk memberikan layanan cepat, andal, aman, dan efisien.
Adapun, BRT di Kota Bandung merupakan bagian dari Proyek Angkutan Massal Indonesia (MASTRAN) di bawah Direktorat Jenderal Perhubungan Darat (DJPD).
BRT ini mencakup wilayah Cekungan Bandung atau Bandung Raya, yakni Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kota Cimahi, dan Kabupaten Sumedang.
Kepala Seksi Sarana dan Prasarana Dinas Perhubungan Kota Bandung, Ferlian Hadi menyampaikan, akan ada 356 titik halte di seluruh wilayah Cekungan Bandung.
"Dari jumlah tersebut, 232 titik berada di Kota Bandung dan sisanya 24 titik berada di Kota Cimahi," kata Ferlian Hadi, dilansir dari laman resmi Pemkot Bandung, Jumat (6/3/2026).
Ferlian menerangkan, ratusan halte tersebut di antaranya tersebar di 22 kecamatan di Kota Bandung.
Baca juga: Disnaker Kota Bandung Ultimatum Perusahaan Bayar THR Tepat Waktu, Melanggar Bakal Disanksi
Nantinya, halte-halte itu akan dibangun dalam tiga jenis, yakni 172 bus pole atau penanda berbentuk tiang, 80 titik small shelter, dan 4 titik big shelter.
Rencananya, halte berurukan besar atau big shelter akan dibangun di empat lokasi strategis, yakni Stasiun Hall Bandung, Jalan Merdeka, Summarecon Mall Bandung, dan Stasiun Kiaracondong.
Berdasarkan status jalan, sebanyak 38 titik halte berada di jalan nasional, 45 di jalan provinsi, dan 149 di jalan kota.
Lebih lanjut, Ferlian menjelaskan bahwa halte on-corridor atau jalur khusus BRT juga akan dibangun selain off-cordidor.
Halte on-corridor sendiri akan dibangun di 37 titik dengan konsep jalur terpisah menggunakan separator, serupa dengan sistem busway.
"Kalau yang on corridor jalurnya khusus. Sedangkan yang off corridor menggunakan mix traffic atau bercampur dengan kendaraan lainnya," jelas Felian.
Ferlian menerangkan, sudah ada 27 titik halte off corridor yang mulai dikerjakan.
Beberapa di antaranya berada di kawasan Jalan Soekarno-Hatta, sekitar Stadion GBLA, Jalan Ramdan, BKR, Wastukancana, Dago, serta Jalan Merdeka.
Adapun, tahapan pekerjaan masih berada dalam proses pembongkaran dan persiapan lahan.
Ferlian melanjutkan, pembangunan halte BRT baik on corridor maupun off corridor ditargetkan rampung pada akhir 2026 sesuai dengan timeline dari Kementerian Perhubungan.
Adapun, peran Pemerintah Kota Bandung dalam proyek ini adalah mendukung pelaksanaan pembangunan, mulai dari perizinan hingga penyiapan lahan.
"Setelah pembangunan selesai, pengelolaan BRT nantinya berada di Pemerintah Provinsi Jawa Barat," ungkap Ferlian.
"Saat ini Dishub Provinsi Jawa Barat sudah menunjuk PT Jasa Sarana sebagai operator sementara untuk pengoperasiannya," imbuhnya.
Ke depan, layanan BRT juga akan diintegrasikan dengan transportasi yang sudah ada. Angkutan kota direncanakan akan berperan sebagai feeder yang mengumpankan penumpang menuju koridor BRT.
Selama proses pembangunan berlangsung, masyarakat diimbau untuk tetap berhati-hati saat melintas di sekitar lokasi pekerjaan.
Baca juga: 75 Ribu Siswa Kota Bandung Alami Stres dan Depresi Berat, Diketahui Setelah Cek Kesehatan Gratis
Selain itu, masyarakat juga bisa menyampaikan keluhan maupun masukan terkait pelaksanaan pembangunan BRT ke layanan aduan di nomor 0813-1436-704.