TRIBUNKALTARA.COM, NUNUKAN – Rumah Sakit Umum Daerah atau RSUD Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara ( Kaltara ), sempat menanggung kewajiban pembayaran hingga puluhan miliar rupiah.
Hingga tahun 2025, total utang RSUD Nunukan tercatat mencapai Rp26.040.601.368,46.
Direktur RSUD Nunukan, dr Andi Bau Tune Mangkau, mengatakan utang tersebut berasal dari berbagai kebutuhan operasional rumah sakit.
Meliputi obat-obatan, Bahan Medis Habis Pakai (BMHP), Bahan Habis Pakai (BHP), hingga kebutuhan operasional lainnya.
Namun manajemen rumah sakit berhasil menekan angka kewajiban tersebut dengan melakukan berbagai langkah pembenahan keuangan.
Direktur RSUD Nunukan mengungkapkan, dari total kewajiban Rp26 miliar itu, pihaknya telah berhasil membayarkan sekitar Rp9.054.101.071,45.
Artinya, saat ini masih tersisa kewajiban sebesar Rp16.986.500.297,01.
“Awalnya sekitar Rp26 miliar.
Alhamdulillah kami berhasil intervensi sekitar Rp9 miliar, sehingga saat ini tersisa sekitar Rp16 miliar,” ujar dr Andi Bau Tune Mangkau, pada Sabtu (7/3/2026).
Baca juga: Benahi Sistem Rumah Sakit, Direktur RSUD Nunukan Dorong Transparansi dan Pelayanan Harus Efektif
Ia menjelaskan, tren keuangan RSUD Nunukan saat ini menunjukkan perbaikan.
Hal itu ditopang oleh meningkatnya jumlah kunjungan pasien dalam beberapa waktu terakhir.
Menurutnya, peningkatan kunjungan pasien menjadi salah satu cara utama untuk meningkatkan pendapatan rumah sakit.
“Tahun lalu kami berdiskusi dengan Bupati, salah satu cara menghasilkan pemasukan adalah meningkatkan pelayanan agar jumlah pasien meningkat,” kata dr Andi Bau Tune Mangkau
Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil.
RSUD Nunukan bahkan mampu menembus angka sekitar 6.500 kunjungan pasien.
Dengan meningkatnya pemasukan, rumah sakit mulai mencatatkan surplus anggaran yang kemudian digunakan untuk membayar utang kepada vendor dan rekanan.
Utang tersebut diketahui telah menumpuk sejak tahun 2021 hingga 2024.
Direktur RSUD Nunukan optimistis sisa kewajiban tersebut bisa diselesaikan pada tahun depan.
“InsyaAllah target kami tahun depan selesai.
Bisa saja di awal tahun, pertengahan tahun, atau akhir tahun karena trennya sudah meningkat,” ujarnya.
Perbaikan kondisi keuangan RSUD Nunukan juga tidak lepas dari dukungan Pemerintah Kabupaten Nunukan.
Pemkab memberikan bantuan anggaran untuk membayar sejumlah kebutuhan rutin rumah sakit, seperti gaji pegawai, honorer tenaga non ASN, serta biaya listrik dan air bersih.
Menurutnya, keputusan memprioritaskan pembayaran kebutuhan rutin sangat membantu kondisi keuangan rumah sakit.
“Waktu itu Bupati bertanya, apakah mau dibayarkan utangnya atau kebutuhan rutin.
Kami pilih yang rutin dulu, karena itu yang paling membebani setiap bulan,” jelas dr Andi Bau Tune Mangkau.
Selain pembenahan keuangan, RSUD Nunukan juga bersiap meningkatkan layanan medis.
Salah satunya dengan segera mengoperasikan layanan Catheterization Laboratory, yang dapat menangani pasien stroke, dan serangan jantung, melalui tindakan intervensi pembuluh darah.
Saat ini peralatan sudah tersedia, dan dokter neurologi serta radiologi, telah memiliki kompetensi untuk melakukan tindakan tersebut.
Pihak rumah sakit hanya menunggu dokter jantung, yang dijadwalkan mengikuti pelatihan khusus pada Juni mendatang.
“Nantinya sudah bisa melakukan pemeriksaan pembuluh darah jantung hingga pemasangan ring,” katanya.
Tak hanya itu, RSUD Nunukan juga tengah mempersiapkan pembangunan gedung Cytotoxic untuk layanan kemoterapi bagi pasien kanker.
Gedung tersebut direncanakan dibangun dengan dukungan anggaran dari pemerintah pusat.
Ke depan, manajemen rumah sakit juga merencanakan pembangunan paviliun khusus bagi pasien non-BPJS dengan fasilitas yang lebih eksklusif.
Langkah ini diharapkan dapat menjadi sumber pemasukan tambahan bagi rumah sakit.
“Biasanya pasien datang bersama keluarga, jadi kami siapkan ruangan yang lebih nyaman dan fasilitas yang lebih baik,” pungkas dr Andi Bau Tune Mangkau
(*)
Penulis: Fatimah Majid