Perubahan Zaman Jadi Tantangan Perempuan, PWKI Jateng Soroti Isu Kesehatan Mental Ana
muh radlis March 07, 2026 01:55 PM

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Perubahan zaman yang dipicu perkembangan teknologi, media sosial, hingga dinamika generasi baru menjadi tantangan besar bagi perempuan dalam menjalankan peran di keluarga dan masyarakat.

Isu tersebut menjadi perhatian Persatuan Wanita Kristen Indonesia (PWKI) Provinsi Jawa Tengah dalam momen peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 organisasi tersebut.


Ketua DPD PWKI Jawa Tengah, Dr Mamik Endaryani MS mengatakan perubahan sosial yang cepat saat ini berdampak pada berbagai persoalan, termasuk meningkatnya gangguan kesehatan mental di kalangan anak dan remaja.


"Hari ini kami memperingati puncaknya, karena sebelumnya juga ada acara bakti sosial dengan mengusung tema bagaimana kesehatan mental anak itu harus diperhatikan.

Sekarang kan banyak ODGJ yang tidak disadari karena pengaruh perubahan, pengaruh IT, pengaruh internet, termasuk media sosial dan berbagai tekanan yang ada," ujarnya kepada Tribunjateng.com di sela kegiatan HUT ke-80 PWKI Provinsi Jawa Tengah digelar di Wisma Perdamaian Semarang, Sabtu (7/3/2026) pagi.


Menurut Mamik, perempuan memiliki posisi penting sebagai garda terdepan dalam keluarga untuk menghadapi berbagai perubahan tersebut.


PWKI sendiri menempatkan tiga bidang utama pelayanan, yakni keluarga, gereja, dan masyarakat.


“Tiga medan pelayanan kami adalah keluarga, gereja, dan masyarakat. Masyarakat ini tentu juga berkaitan dengan pemerintah.

Paling tidak kita berkontribusi, tergerak untuk ikut menyelesaikan masalah-masalah masyarakat,” katanya.

Baca juga: Kasus Mahasiswa Antropologi FIB Undip, Tim Etik dan Satgas Kekerasan Seksual Mulai Bekerja


Ia menilai perubahan generasi juga menjadi tantangan tersendiri, karena saat ini masyarakat dihadapkan pada berbagai karakter lintas generasi.


“Apalagi sekarang kita punya generasi yang bermacam-macam sampai Gen Alpha, Gen Z, generasi stroberi dan lain-lain.

Itu harus dikelola dengan baik sebagai sumber daya manusia kalau ingin menjadi human capital untuk memenangkan masa depan,” ujarnya.


Menurut dia, jika tidak dikelola dengan baik, perubahan tersebut justru bisa menimbulkan berbagai persoalan sosial di masyarakat.


Karena itu, PWKI berupaya memperkuat kapasitas anggotanya agar dapat berperan aktif dalam menghadapi tantangan tersebut.


“Program internal misalnya peningkatan capacity building, karena itu harus terus-menerus dikerjakan untuk membekali kompetensi para pengurus,” jelasnya.


PWKI juga menjalin kerja sama dengan gereja serta terlibat dalam berbagai program pemerintah sebagai bagian dari kontribusi organisasi terhadap masyarakat.


Sebagai organisasi perempuan yang lahir pada 28 Februari 1946, PWKI kini memasuki usia delapan dekade dengan mengusung tema Delapan Dekade Suara dan Karya PWKI Kokohkan Citra dan Memberdayakan Perempuan Indonesia.


Peringatan HUT ke-80 PWKI Provinsi Jawa Tengah digelar di Wisma Perdamaian Semarang dan diikuti ratusan peserta dari berbagai kabupaten/kota.


Ketua Panitia HUT ke-80 PWKI Jawa Tengah, Merry Herlina Saragih SE mengatakan kegiatan tersebut dihadiri sekitar 400 peserta dari berbagai daerah.


“Jumlah peserta dari 10 DPC. Dari total 16 DPC, yang ikut lomba ada 10 DPC,” ujarnya.


Selain ibadah syukur dan perayaan, kegiatan juga diramaikan festival paduan suara antar-DPC dengan tema PWKI Bermazmur serta bazar UMKM yang diikuti anggota dari berbagai daerah.


“Di sini juga ada bazar UMKM. Semuanya dari ibu-ibu PWKI. Jadi kita menggerakkan ibu-ibu untuk terlibat di sini,” katanya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.