Kuala Lumpur (ANTARA) - Januari tahun 2005, Muhammad Mukhotib – warga negara Indonesia asal Demak, Jawa Tengah – mengambil keputusan besar dalam hidupnya, dengan merantau ke Malaysia, bekerja sebagai buruh bangunan di Negeri Jiran.
Harapannya sederhana, berupaya memperbaiki nasib.
Sejak awal tinggal di Malaysia, Muhammad Mukhotib banyak berinteraksi dengan rekan sesama pekerja migran Indonesia (PMI).
Dia menyaksikan berbagai persoalan sosial yang menimpa rekan-rekannya sesama pekerja migran Indonesia di Malaysia.
Persoalan umum yang dialami pekerja Indonesia di Malaysia, mulai dari kontrak kerja yang tidak sesuai, gaji yang tidak dibayarkan oleh majikan, kisah tenaga kerja Indonesia (TKI) seperjuangan yang kebingungan mengadu ketika mendapatkan masalah, hingga hak-hak pekerja migran yang tidak diperhatikan.
"Bahkan, tidak sedikit kasus warga Indonesia yang meninggal dunia tanpa penanganan yang layak," cerita Mukhotib kepada ANTARA.
Kenyataan pahit yang dialami rekan sesama WNI itu mengusik benak Muhammad Mukhotib. Dia pun berusaha untuk dapat berbuat lebih, membantu warga negara Indonesia yang mengalami kesulitan.
"Kondisi tersebut menggugah hati saya untuk terlibat aktif dalam membantu menyelesaikan berbagai permasalahan yang dihadapi pekerja Indonesia di sini," ujar dia.
Dia kemudian mengikuti panggilan hatinya untuk berkontribusi dalam kegiatan kemanusiaan yang lebih besar, dengan mengabdikan diri dalam wadah kegiatan sosial khusus untuk membantu warga Indonesia perantauan.
Muhammad Mukhotib aktif dalam kegiatan paguyuban, hingga dipilih menjadi Ketua Paguyuban Warga Republik Indonesia (Perwira) dan menjadi Ketua Garda Kemanusiaan di lembaga non-pemerintah Permai Penang.
Dia juga terlibat langsung dalam pendampingan dan advokasi sosial berkoordinasi dengan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Penang dan instansi Malaysia.
Sanggar bimbingan
Hasrat pengabdian Mukhotib kepada bangsa semakin menjadi-jadi ketika melihat banyak anak-anak pekerja migran asal Indonesia di Malaysia yang tidak mendapatkan akses pendidikan.
Dari kepedulian tersebut, dia menggalang dukungan dari sesama rekan pekerja, berinisiatif mendirikan lembaga bimbingan, di bawah lembaga non-pemerintah Permai Penang, sebagai wadah untuk membantu anak-anak memperoleh hak pendidikan dan masa depan yang lebih baik.
Lembaga bimbingan yang didirikan Mukhotib dan rekan-rekannya berupa sanggar bimbingan, yang kini dikenal dengan nama Sanggar Bimbingan Permai Kulim di Kedah, Malaysia.
Sanggar Bimbingan Permai Kulim didirikan atas dasar visi memberikan akses belajar dan mengajar kepada anak-anak Indonesia, yang lahir di Malaysia dari seorang ibu warga Indonesia, yang tidak memiliki dokumen sah.
Ketiadaan dokumen membuat anak-anak migran ini kesulitan mengakses pendidikan formal.
Misi Mukhotib dan rekan-rekannya adalah mendirikan lembaga pendidikan di berbagai tempat sebagai tindak lanjut memberikan hak pendidikan dan mengenalkan aspek sosial dan budaya Indonesia, dengan tujuan utama berdirinya pusat sekolah Indonesia yang diakui oleh Pemerintah Indonesia maupun Malaysia.
Upaya Mukhotib mendirikan sanggar bimbingan tidak mudah. Semua berawal pada pertengahan tahun 2014, saat organisasi Permai Penang mengadakan program "Permai Mengajar" atas keprihatinan pada anak-anak migran yang tidak memiliki dokumen dan tidak bisa mengakses pendidikan formal.
Saat itu tenaga pengajar didatangkan dari Indonesia, yakni mahasiswa dan mahasiswi Universitas Indonesia yang melakukan praktik kuliah kerja nyata (KKN) luar negeri, untuk mengabdi kepada masyarakat dengan memberikan pendidikan kepada anak-anak WNI di Pulau Penang Malaysia.
"Pada awalnya program hanya mengenalkan huruf, membaca, menulis, berhitung, mengaji serta pengetahuan sejarah, dan sosial budaya Indonesia," jelas Mukhotib.
Selanjutnya pada tahun 2019, setelah organisasi Permai Penang mendapatkan legalitas pendaftaran organisasi dari otoritas Malaysia dengan nomor PPM-006-07-04022019, organisasi Permai Penang mencari tahu mengenai pelaksanaan program tersebut dengan pembelajaran kesetaraan Paket A, B dan C.
Setelah melakukan komunikasi dengan Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Indonesia (Atdikbud KBRI) kala itu M. Farid Ma’ruf, kemudian pada 2 Mei 2021 Konsulat Jenderal Republik Indonesia Penang meresmikan sebuah sanggar bimbingan resmi dengan nama Sanggar Bimbingan Permai Penang.
Sanggar itu terletak di Learning Centre Pernai, 12G-2 Jalan Tun Dr Awang, 11900 Bayan Lepas, Pulau Penang.
Lalu pada November 2021, Sanggar Bimbingan Permai membuka lokasi baru di Kulim, Kedah, dengan nama SB Permai Kulim, yang terletak di Lot 286 Kamlung Sungai Limau, 09600 Lunas Kukim, Kedah, Darul Aman, yang diinisiasi dan dikelola oleh Mukhotib.
Setelah diresmikan, relawan yang berasal dari Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) berbagai universitas di Malaysia Utara dan mahasiswa KKN luar negeri dari universitas asal Indonesia, membantu secara rutin melakukan proses belajar dan mengajar.
Saat ini jumlah siswa di Sanggar Bimbingan Permai Kulim sebanyak 20 anak yang berasal dari keluarga tukang kebun dan buruh bangunan. Sementara jumlah relawan tenaga pengajar sebanyak 3 orang.
Bagi anak-anak migran, sanggar bimbingan bukan sekadar ruang kelas. Lebih dari itu sanggar menjadi pelita yang membuka asa atas masa depan yang lebih baik.

Tantangan besar
Mukhotib mengaku mengalami begitu banyak tantangan dalam menjalankan setiap kegiatan sosial, dengan keterbatasan dana menjadi salah satu hambatan utama.
Tidak jarang Mukhotib harus berjuang mencari pendanaan secara mandiri demi keberlangsungan program dan bantuan bagi masyarakat Indonesia di Malaysia.
Tanpa bermaksud mengeluh, Mukhotib bercerita bahwa pengabdian yang dia jalani menuntut waktu dan tenaga yang tidak sedikit, bahkan sering kali membuatnya lebih memprioritaskan kegiatan sosial dibandingkan urusan pribadi dan keluarga.
"Meski demikian, saya menjalani semua pengabdian tersebut dengan penuh keikhlasan dan rasa bahagia," katanya.
Mukhotib merasa segala upayanya membantu sesama menjadi sumber kepuasan batin dan panggilan hidup yang memberikan makna mendalam.
Baginya pengabdian sosial bukan sekadar aktivitas, melainkan jalan hidup untuk memperjuangkan kemanusiaan, membela hak-hak yang lemah, dan memberikan harapan bagi mereka yang membutuhkan.
Dia berharap berbagai kegiatan sosial yang dijalankannya dapat terus memberikan manfaat bagi masyarakat serta menjadi bagian dari upaya membangun kehidupan yang lebih adil dan bermartabat bagi warga Indonesia di perantauan.
Dia juga berharap pemerintah Indonesia dapat terus dan lebih memperhatikan persoalan pendidikan anak-anak migran secara menyeluruh.
"Karena anak-anak ini adalah anak bangsa yang berhak mendapat perhatian dan pendidikan yang layak. Kami hanya TKI tanpa daya yang prihatin dan ikut berpartisipasi berupaya mencerdaskan anak bangsa," kata Mukhotib.
Suara perwakilan RI
Berdasarkan data Kedutaan Besar Republik Indonesia Kuala Lumpur per September 2025, jumlah sanggar bimbingan Indonesia yang tersebar di seluruh Malaysia berjumlah sekurang-kurangnya 77 sanggar.
Tiga sanggar di antaranya merupakan sanggar bimbingan yang dikelola langsung oleh KBRI KL.
Total 77 sanggar bimbingan yang ada diperkirakan dapat menampung 2.500 anak-anak pekerja migran Indonesia.
Konsul Jenderal RI di Penang Malaysia Wanton Saragih menyampaikan kepada ANTARA, tujuan awal pendirian sanggar bimbingan adalah memberikan akses pendidikan bagi anak-anak WNI dari pekerja migran Indonesia yang tidak memiliki dokumen resmi.
KJRI Penang turut memberikan pengawasan terhadap pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di sanggar-sanggar bimbingan yang berada di wilayah kerjanya, termasuk terhadap Sanggar Bimbingan Permai Kulim yang dikelola Mukhotib.
KJRI secara berkala juga memberikan dukungan kepada sanggar bimbingan, baik dalam bentuk bantuan dana, sarana-prasarana, maupun koordinasi dengan pihak terkait.
Bantuan juga datang dari berbagai pihak, seperti Duta Besar RI di Kuala Lumpur, Dharma Wanita Persatuan (DWP) KBRI Kuala Lumpur, serta Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) RI di KBRI KL.
Hingga saat ini sanggar bimbingan masih menjadi salah satu solusi paling konkret di Malaysia dalam memberikan akses pendidikan kepada anak-anak pekerja migran, khususnya yang tidak memiliki dokumen.
Pemerintah perlu terus memberikan dukungan baik dari sisi finansial maupun dalam bentuk kebijakan dan kerja sama dengan otoritas Malaysia.
Muhammad Mukhotib hanya satu dari sekian banyak pejuang kemanusiaan yang berani mengambil peran di tengah keterbatasan sembari mengadu nasib di Malaysia.
Kisah Mukhotib diharapkan dapat menginspirasi para pekerja dan diaspora Indonesia lainnya di luar negeri, agar memiliki semangat serupa.
Karena sejatinya setiap warga negara Indonesia di luar negeri merupakan duta-duta kecil negara, yang dapat bersama-sama dengan perwakilan RI di luar negeri, berkontribusi memetakan masalah dan mencari solusi bersama, atas persoalan-persoalan yang dialami sesama warga negara Indonesia di perantauan.







