TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - PT Pertamina (Persero) melalui Pertamina International Shipping (PIS) memberikan update terkini soal keberadaan armada kapal tanker yang membawa pasokan minyak untuk cadangan energi dalam negeri yang kini sedang beroperasi di Timur Tengah.
Berdasarkan catatan, terdapat empat unit kapal milik PT PIS yang beroperasi di kawasan Timur Tengah di tengah ketegangan konflik Amerika Serikat-Israel terhadap Iran.
Pjs Corporate Secretary Vega Pita menyampaikan, terhadap empat unit kapal tersebut, dipastikan satu di antaranya sudah beranjak dari kawasan konflik.
Baca juga: Kapal Iran Bermuatan Peledak Tabrak Kapal Tanker Minyak di Pelabuhan Irak
"Dari 4 unit kapal milik PT Pertamina International Shipping (PIS) yang beroperasi di kawasan Timur Tengah, satu kapal tercatat telah beranjak dari area konflik, yaitu kapal PIS Rinjani," kata Vega kepada Tribunnewscom, Sabtu (7/3/2026).
Dengan begitu, kata dia, hingga hari ini masih terdapat tiga unit kapal yang masih berada di kawasan Timur Tengah.
Ketiganya berada di dua perairan yang berbeda yakni kapal VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoto berada di Teluk Arab, sedangkan PIS Paragon berada di perairan Oman.
"VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoro yang berada di Teluk Arab, serta PIS Paragon yang berada di Oman," kata dia.
"VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoro sedang menunggu situasi aman untuk dapat keluar melalui Selat Hormuz. Sementara, PIS Paragon akan segera berlayar menuju India," sambung Vega.
Meski demikian, Vega memastikan ketiga kapal milik PT PIS tersebut dalam kondisi aman dan pemantauan penuh dari pihak Pertamina.
"PIS terus melakukan pemantauan intensif 24/7 secara real-time terhadap seluruh posisi armada, kru dan pekerja. Ketiganya dalam kondisi aman," tegas dia.
Vega juga menyebut, Pertamina menjalin koordinasi dengan otoritas maritim setempat guna memastikan keamanan serta keselamatan seluruh kru kapal dan muatan yang dibawa.
Adapun dalam perjalanan tiga kapal ini, keempat kapal tersebut membawa kebutuhan yang berbeda, yakni mulai pasokan minyK mentah hingga kebutuhan konsumen pihak ketiga.
"Kapal PIS Rinjani, Gamsunoro dan PIS Paragon melayani konsumen pihak ketiga (third party). Sementara itu, VLCC Pertamina Pride sedang dalam misi mengangkut pasokan minyak mentah (light crude oil) untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri," ucap dia.
"Kami juga menjalin koordinasi erat dengan otoritas maritim dan pihak berwenang setempat guna memastikan keamanan serta keselamatan seluruh kru kapal dan muatan yang dibawa," pungkas Vega.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan, pemerintah telah menyiapkan skenario terburuk atas pasokan minyak mentah atau crude dalam menghadapi ketegangan konflik Timur Tengah antara Amerika Serikat (AS)-Israel terhadap Iran.
Salah satu solusi atas skenario yang dimaksud, yakni mengalihkan impor crude ke AS dari Timur Tengah.
Pasalnya menurut dia, penutupan Selat Hormuz oleh Iran akibat konflik AS-Israel berisiko mengganggu distribusi minyak se-dunia. Situasi itu disebut tidak dapat diprediksi kapan akan berakhir.
"Sekali lagi saya katakan bahwa ketegangan ini tidak bisa kita meramalkan kapan selesai. Bisa cepat, bisa lambat," tutur Bahlil saat jumpa pers di kantor Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, Selasa (3/3/2026).
Bahlil menyebut, apabila krisis terhadap pasokan minyak berlangsung lama, maka pemerintah menyiapkan strategi pengalihan sumber impor minyak mentah.
Tujuannya sederhana, yakni memastikan pasokan dalam negeri tetap tersedia tanpa gangguan distribusi.
Bahlil mengaku sebagian impor crude atau sebesar 20-25 persen Indonesia selama ini memang berasal dari kawasan Timur Tengah.
"Dengan berbagai macam dinamika yang ada, alhamdulillah ternyata setelah tadi kita detailing, dari total impor crude kita dari Middle East itu kurang lebih sekitar 20-25 persen. Selebihnya kita ambil dari Afrika, dari Angola, dari Amerika, kemudian dari beberapa negara lain seperti Brazil," tuturnya.
Akan tetapi, kerentanan terhadap proses distribusi dari Timur Tengah tersebut dinilai masih bisa dikelola melalui menambah opsi pemasok.
Karena itu, Bahlil menyatakan, pemerintah memutuskan mengambil kemugkinan untuk mengambil crude dari AS.
"Nah, dalam rangka itu kami mengambil alternatif terjelek, katakanlah ini lambat. Maka apa skenarionya? Skenarionya adalah sekarang ini untuk crude yang kita ambil dari Middle East, sebagian kita alihkan untuk ambil di Amerika. Supaya apa? Ada kepastian ketersediaan crude kita," ucap dia.
Meski begitu, Bahlil memastikan, selain AS, pemerintah juga membuka peluang memperluas kerja sama dengan negara lain yang lebih stabil secara geopolitik.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan stok Bahan Bakar Minyak (BBM) Indonesia hanya berkisar 21-23 hari.
Bahlil menjelaskan, rata-rata stok BBM nasional hanya 21-23 hari bukan karena keterbatasan pasokan energi, tetapi keterbatasan fasilitas penyimpanan atau storage.
"Kapasitas tangki yang ada belum memungkinkan penambahan cadangan dalam jumlah lebih besar. Kalau kita mau tambah, kita simpan di mana? Storage-nya memang belum cukup,” ujarnya.
Sebagai tindak lanjut, ia menyampaikan bahwa pemerintah telah menyiapkan langkah untuk meningkatkan kapasitas storage guna memperkuat ketahanan energi nasional.
Upaya tersebut dilakukan atas arahan Presiden Prabowo Subianto.
"Arahan Bapak Presiden Prabowo memerintahkan kepada kami untuk segera membangun storage supaya ketahanan energi kita ada. Storage-nya berapa lama? Insya Allah rencana sampai dengan tiga bulan," katanya.
Pernyataan Bahlil soal stok BBM tersisa 21 hari itu langsung viral dan menuai beragam reaksi dari masyarakat.
Di beberapa wilayah bahkan telah terjadi antre BBM yang mengular akibat masyarakat yang panic buying.
Setelah kejadian ini viral, kini Bahlil pun menyampaikan klarifikasi soal ucapannya tersebut.
Bahlil menjelaskan, stok BBM yang ia maksud bukanlah cadangan untuk kondisi darurat, melainkan kemampuan daya tampung atau storage yang sudah dimiliki oleh Indonesia.
Eks Menteri Investasi itu menerangkan, minimal standar nasional stok BBM berada di kisaran 20-21 hari, sementara cadangan maksimalnya 25 hari.
"Memang sejak dahulu, sudah sejak lama, bahwa kemampuan storage kita, daya tampung BBM kita di Republik Indonesia ini tidak lebih dari 21 sampai 25 hari," ujar Bahlil di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (4/3/2026).
Dimana rerata ketahanan cadangan BBM secara nasional kata Bahlil, berada di level 21-23 hari.
Hal itu karena memang, Indonesia tidak memiliki storage atau tangki yang bisa menyimpan minyak untuk jangka waktu lebih panjang, atau dalam artian Indonesia memiliki keterbatasan storage.
Bahlil meminta agar informasi mengenai ketahanan stok BBM tidak disalahartikan sebagai sinyal darurat.
Ia memastikan persoalan yang dihadapi berkaitan dengan infrastruktur penyimpanan, bukan ketersediaan energi di dalam negeri.