Denpasar (ANTARA) - Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Bali mengizinkan kegiatan malam takbiran dilakukan di dalam masjid tanpa kebisingan apabila 1 Syawal ditetapkan jatuh pada 20 Maret 2026 atau sehari setelah Hari Raya Nyepi.

“Pada prinsipnya takbiran boleh tapi dengan syarat ketat tanpa mengurangi makna takbiran sendiri, yaitu berjalan kaki ke masjid terdekat tanpa pengeras suara, tanpa kebisingan,” kata Ketua FKUB Bali Ida Penglingsir Agung Putra Sukahet.

Penglingsir Agung di Denpasar, Sabtu, menyampaikan bahwa kebijakan ini merupakan keputusan bersama dengan tokoh-tokoh agama di Bali yang juga disepakati Gubernur Bali, Panglima Kodam IX/Udayana, dan Kapolda Bali.

Surat edaran berupa seruan bersama sudah diedarkan, dimana saat Hari Raya Nyepi agar ketentraman di Pulau Bali tetap dijaga.

Saat Takbiran berlangsung di masjid juga diatur agar menggunakan cahaya yang minimal serta menyorot ke dalam bukan ke arah luar.

“Setelah selesai langsung balik ke rumah, mengikuti lagi (aturan) tidak boleh keluar rumah lagi jadi sudah, agar menjadi barometer toleransi dan kerukunan Bali ini untuk Indonesia,” ujarnya.

Ketua FKUB Bali yang juga merupakan Ketua Majelis Desa Adat (MDA) Bali tersebut ingin agar Hari Raya Nyepi Saka 1948 ini berjalan tanpa ternodai, begitu pula agar Takbiran tetap bisa dijalankan umat Muslim.

Menurut dia, ketika dua hari besar keagamaan ini bisa berjalan dengan baik maka seperti itu lah kehidupan berdampingan yang sesungguhnya.

Indonesia menjunjung tinggi Bhinneka Tunggal Ika dan UUD 1945, dimana sebenarnya dua landasan tersebut memiliki nilai yang sama dengan ajaran agama.

“Saling mengisi dan toleransi diajarkan semua agama, kita wujudkan di Bali dengan perayaan Nyepi yang bersamaan dengan Idul Fitri, bahkan dulu pernah berbarengan dengan Idul Fitri, berbarengan dengan Jumatan sering, saat hari Minggu pun pernah saat umat Kristen ibadah, jadi kita jalan dan Nyepi tidak ternodai,” kata Penglingsir Agung.

Ketua MDA Bali itu menyadari setiap tahun media sosial merekam kejadian-kejadian melanggar aturan saat Hari Raya Nyepi, mulai dari orang Indonesia sendiri yang menerobos penjagaan pecalang hingga WNA nakal.

Namun baginya tidak ada yang sempurna, terdapat 4 juta lebih penduduk di Bali dan potensi kasus-kasus bisa terjadi dimana saja.

Bahkan tidak menutup kemungkinan oknum yang mengganggu ketentraman Nyepi dikarenakan ia tidak mengetahui hari suci tersebut.

Untuk mendukung kelancaran di Hari Raya Nyepi termasuk agar ibadah umat beragama lain tetap terakomodir, Penglingsi Agung mengerahkan ribuan pecalang di seluruh Bali untuk menjaga wilayah desa adat masing-masing.

Jika ditemukan oknum yang melanggar prosesi Nyepi, maka pecalang diminta melakukan langkah humanis dan persuasif agar tidak ada kekeliruan dan tidak merusak kesucian Nyepi.

“Jadi pecalang ada yang turun nanti bersama tokoh agama di lokasi setempat baik yang Islam atau lainnya, ini pengawal semuanya mudah-mudahan aman damai ya kita pertahankan itu hidup berdampingan,” tuturnya.