Tata Kelola Jadi Kunci Keberhasilan Implementasi AI dalam Organisasi
Dwi Rizki March 07, 2026 02:18 PM

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Perkembangan Artificial Intelligence (AI) yang semakin pesat mendorong banyak organisasi untuk berinvestasi dan bereksperimen dengan berbagai solusi berbasis teknologi.

Namun di tengah percepatan inovasi tersebut, aspek tata kelola (governance) kerap tertinggal.

Menjawab dinamika tersebut, RSM Indonesia menyelenggarakan webinar bertajuk “From AI Experiment to Trustworthy AI: Why Governance Determines Success in AI Innovation". 

Webinar ini menyoroti bahwa keberhasilan implementasi AI tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh kematangan tata kelola, manajemen risiko, serta akuntabilitas organisasi.

Chief Strategy Officer sekaligus Head of Governance Risk Control & Technology Consulting RSM Indonesia, Angela Simatupang menegaskan AI saat ini membuka peluang besar sekaligus eksposur baru bagi organisasi.

“Selama lebih dari 40 tahun RSM Indonesia mendampingi organisasi dalam memperkuat tata kelola dan sistem pengendalian," ungkap Angela dalam siaran tertulis pada Sabtu (7/3/2026).

"Kami melihat bahwa AI governance kini menjadi agenda strategis di banyak negara. Transformasi digital yang berkelanjutan harus berdiri di atas fondasi governance yang jelas, manajemen risiko yang disiplin, serta struktur akuntabilitas yang tegas,” bebernya.

Baca juga: Resep Turun-Temurun 38 Tahun, Dodol Betawi Nyak Mai Laku 3 Ton di Bulan Ramadan

Menurut Angela, perkembangan AI sering kali bergerak lebih cepat dibandingkan kesiapan organisasi dalam mengelolanya.

“Banyak perusahaan sudah berinvestasi besar dalam teknologi AI. Namun pertanyaan mendasarnya adalah: jika terjadi kesalahan keputusan akibat AI, siapa yang bertanggung jawab? Pada akhirnya regulator dan publik tidak akan meminta penjelasan kepada sistem, tetapi kepada organisasi,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa organisasi yang mengadopsi AI tanpa kerangka governance yang memadai berpotensi menghadapi berbagai risiko.

“Organisasi yang mengadopsi AI tanpa governance yang jelas bukan sedang berinovasi, tetapi sedang mengakumulasi risiko, mulai dari bias algoritma, pelanggaran data, keputusan yang tidak dapat dijelaskan, hingga risiko reputasi. Teknologi bisa dibeli, tetapi kepercayaan harus dijaga,” tambah Angela.

Senior Manager Data, AI & Emerging Technology RSM Indonesia Sindhu Wardhana, menjelaskan bahwa salah satu tantangan utama dalam implementasi AI adalah inovasi yang berkembang tanpa koordinasi yang terstruktur antar unit organisasi.

Sementara itu, tekanan regulasi terkait perlindungan data dan tata kelola teknologi juga semakin meningkat. 

Menurutnya, organisasi perlu mengambil langkah sistematis agar AI dapat diadopsi secara bertanggung jawab dan berkelanjutan.

“Empat langkah utama dalam membangun AI governance meliputi AI Readiness Assessment untuk mengukur kesiapan organisasi, pengembangan AI Governance Framework yang menetapkan peran dan tanggung jawab berbasis risiko, penerapan AI Assurance dan Audit untuk memastikan sistem yang aman dan patuh regulasi, serta AI Project Assurance guna menjaga kualitas dan kontrol sejak tahap perencanaan hingga implementasi,” jelas Sindhu.

Turut memberikan perspektif dalam webinar tersebut, Abraham Kurniawan, ISO/IEC 42001 Specialist dari British Standards Institution (BSI), menekankan pentingnya penerapan AI Management System (AIMS) berbasis standar internasional seperti ISO/IEC 42001.

Implementasi AIMS tidak hanya berfungsi untuk memastikan kepatuhan, tetapi juga menjadi strategi bagi organisasi dalam menciptakan nilai dan keunggulan kompetitif. 

Dengan kerangka AIMS yang terstruktur, organisasi dapat memastikan sistem AI yang dikembangkan memiliki efektivitas dalam konteks nyata, meminimalkan potensi bias sehingga lebih adil, serta meningkatkan transparansi dalam proses pengambilan keputusan.

Lebih lanjut disampaikan governance yang kuat membantu meminimalisir risiko kegagalan AI sejak tahap perencanaan hingga operasional.

Implementasi AIMS yang efektif juga dapat memperkuat reputasi organisasi, meningkatkan kepercayaan pelanggan, mendorong efisiensi operasional, serta mendukung pertumbuhan bisnis jangka panjang.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.