89 Peserta Ikut Lomba Ogoh-ogoh Mini, Sketsa hingga Tapel di Kasanga Fest Bali, Karya Harus Baru
Putu Dewi Adi Damayanthi March 07, 2026 03:38 PM

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Tak hanya pawai dan pameran ogoh-ogoh besar, Kasanga Festival (Kasanga Fest) 2026 juga diisi dengan lomba ogoh-ogoh mini, sketsa ogoh-ogoh hingga tapel ogoh-ogoh.

Kegiatan ini berlangsung pada Sabtu 7 Maret 2026 di Lapangan Puputan Badung, Denpasar, Bali.

Sebanyak 89 peserta terlibat dalam ketiga jenis lomba ini.

Ketua Tim Juri Lomba Tapel Ogoh-ogoh I Made Gede Kariyasa mengatakan, ada 3 aspek yang dinilai dari karya yang tersebut.

Baca juga: Diletakkan Sebelah Freezer Mayat, Ogoh-ogoh Babi Setinggi 2 Meter di Buleleng Tiba-tiba Terbakar

Pertama konsep, kedua dari sisi bagaimana proses pembuatannya dan ketiga adalah kreativitasnya.

"Untuk tapel ogoh-ogoh sendiri, penilaian secara umum merujuk ke kepala ogoh-ogoh yang bersifat tiga dimensi. Bukan hanya tapel yang bersifat dua dimensi," paparnya.

Sementara itu, Person in Charge (PIC) lomba ogoh-ogoh mini, sketsa dan tapel ogoh-ogoh, Ketut Swastika mengatakan, total jumlah peserta dalam kegiatan ini 89 karya.

Terdiri dari 13 karya ogoh-ogoh mini mesin, 25 karya ogoh-ogoh mini non mesin, sketsa ogoh-ogoh 23 karya dan tapel ogoh-ogoh sebanyak 28 karya.

Ia menyebut, karya yang dilombakan merupakan karya baru yang belum pernah dilombakan sebelumnya.

"Untuk juri didatangkan dari berbagai bidang. Mulai dari praktisi atau juri di bidang seni rupa, bidang sastra maupun bidang sketsa yang paham terhadap garis dan arsiran," paparnya.

Seorang peserta dari ST Werdhi Yowana, Banjar Tampak Gangsul, Ida Bagus Putra Widiantara mengatakan, karya ogoh-ogoh mini garapannya mengambil tema "Leak" (Linggih Antuk Aksara) yang diangkat dari lampahan sulinggih asal Sanur yakni Ida Pedanda Made Sidemen yang berjudul "Sanghyang Sangsara".

Tema tersebut diambil menggambarkan bagaimana keadaan di bumi atau alam yang saat ini mencerminkan gemuruh dan angin yang terjadi belakangan ini.

"Visual yang kami ambil sesuai penokohan. Dalam aturan lomba diperbolehkan seorang tokoh di Denpasar. Ini kisah nyata, beliau (Ida Pedanda Made Sidemen) meninggal 1984," ungkapnya.

Dia mengaku dalam pembuatan ogoh-ogoh mini ini lebih sulit daripada ogoh-ogoh besar.

Terutama pada detail pengerjaan mimik wajah, anatomi tubuh dan bagaimana mempakemkan hiasan tokoh yang diangkat.

"Yang kecil ini lebih detail pengeliatannya lebih tajam," katanya.

Waktu pengerjaan ogoh-ogoh mini ini juga diakuinya cukup panjang sekitar 3 sampai 4 bulan.

Kabid TWB Dinas Kebudayaan Denpasar, Ni Made Suniastari mengatakan, untuk lomba ogoh-ogoh mini mesin, juara pertama berhak atas Rp 10 juta, diikuti juara kedua Rp 8 juta, dan juara ketiga Rp 6 juta.

Pada kategori non-mesin, hadiah yang diberikan adalah Rp 8 juta, Rp 6 juta, dan Rp 4 juta.

Sementara itu, untuk lomba sketsa ogoh-ogoh, pemenang akan mendapatkan Rp 5 juta untuk juara I, Rp 4 juta untuk juara II, hingga Rp 3 juta untuk Juara III. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.