Harga Minyak Dunia Tembus 93 Dollar AS per Barel, Lebih Tinggi dari Skenario Menkeu Purbaya
Juang Naibaho March 07, 2026 04:54 PM

TRIBUN-MEDAN.com - Harga minyak dunia melonjak ke level tertinggi setelah pemerintah Qatar memperingatkan bahwa produksi minyak dan gas di kawasan Teluk berpotensi berhenti dalam beberapa hari ke depan jika konflik di Timur Tengah terus berlanjut.

Pada perdagangan terakhir pekan ini, harga minyak Brent ditutup pada 93,34 dollar AS per barel, melonjak 9,3 persen.

Kenaikan sebesar itu merupakan yang tertinggi sejak 15 Mei 2020 atau lima tahun lebih.

Kenaikan harga minyak dunia sedikit lebih tinggi dari simulasi yang dilakukan pemerintah Indonesia di mana skenario harga berada di angka 92 dollar AS per barel.

Simulasi Pemerintah

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pemerintah telah melakukan simulasi terhadap berbagai skenario kenaikan harga minyak dunia. 

Dalam perhitungan tersebut, jika harga minyak rata-rata mencapai sekitar 92 dollar AS per barel, defisit anggaran berpotensi meningkat signifikan. 

“Kalau harga minyak naik ke 92 dollar AS per barel apa dampaknya ke defisit? Kalau tidak melakukan apa-apa defisit kita naik ke 3,6 sampai 3,7 persen dari PDB,” kata Purbaya dalam Buka Bersama wartawan di Kementerian Keuangan pada Jumat (6/3/2026). 

Meski demikian, pemerintah masih memiliki sejumlah opsi untuk menahan pelebaran defisit agar tetap berada di bawah batas 3 persen dari produk domestik bruto (PDB). 

Salah satu langkah yang disiapkan adalah melakukan penyesuaian belanja negara. 

Namun, jika tekanan terhadap APBN semakin besar, pemerintah tidak menutup kemungkinan untuk berbagi beban dengan masyarakat melalui penyesuaian harga BBM subsidi. 

“Kalau memang anggarannya tidak kuat sekali, tidak ada jalan lain, ya kita share dengan masyarakat sebagian. Artinya ada kenaikan BBM kalau memang,” kata Purbaya. 

Baca juga: Usai Bahlil Sebut Stok BBM Cuma 20 Hari, Menkeu Purbaya Mulai Bicara Opsi Kenaikan Harga BBM Subsidi

Sementara itu, dikutip dari Financial Times, Sabtu (7/3/2026), Menteri Energi Qatar sekaligus CEO QatarEnergy, Saad al-Kaabi, mengatakan bahwa konflik di Timur Tengah, wilayah yang menjadi pusat pasokan energi dunia, berisiko mengguncang ekonomi global.

Menurutnya, perang di kawasan tersebut dapat “menjatuhkan ekonomi dunia”. 

Lonjakan harga minyak dunia saat ini terlihat pada perdagangan Jumat, ketika minyak mentah Brent naik lebih dari 9 persen hingga menembus 93 dollar AS per barel. 

Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak musim gugur 2023. 

Kenaikan ini membuat harga minyak dunia per barel kembali menjadi perhatian karena dampaknya luas, mulai dari biaya bahan bakar kendaraan hingga harga pemanas, makanan, dan barang impor. 

Jika dihitung secara kasar, satu barel minyak setara sekitar 159 liter. Dengan harga 93 dollar AS per barel, maka harga minyak dunia per liter berada di kisaran sekitar 0,58 dollar AS. 

Risiko Inflasi Global 

Mengutip BBC, lonjakan harga minyak dunia terkini dan harga gas yang juga meningkat tajam pekan ini memunculkan kekhawatiran terhadap inflasi di sejumlah ekonomi besar seperti Inggris dan Amerika Serikat (AS). 

Padahal, inflasi di kedua negara tersebut sebelumnya sedang berada dalam tren penurunan. 

Al-Kaabi bahkan memperkirakan harga minyak dapat melonjak hingga 150 dollar AS per barel apabila konflik dengan Iran berlanjut dalam beberapa minggu ke depan. 

“Jika perang ini berlangsung beberapa minggu, pertumbuhan PDB di seluruh dunia akan terdampak,” kata Al-Kaabi. 

“Semua harga energi akan naik. Akan terjadi kekurangan beberapa produk dan muncul reaksi berantai ketika pabrik tidak dapat memasok barang.” 

Dampaknya mulai terasa di Inggris. Menurut data RAC, harga bensin di pompa BBM naik sekitar 3,7 pence per liter sejak Sabtu lalu, sementara harga solar meningkat 6 pence hingga mencapai level tertinggi dalam 16 bulan. 

Selat Hormuz Terancam 

Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia biasanya dikirim setiap hari melalui Selat Hormuz. 

Namun lalu lintas di jalur sempit tersebut hampir terhenti sejak perang antara AS dan Israel melawan Iran pecah akhir pekan lalu. 

Jika jalur ini benar-benar tertutup, harga barang dan jasa di seluruh dunia berpotensi meningkat karena biaya energi dan pengiriman melonjak. 

Sejumlah ekonomi besar seperti China, India, dan Japan termasuk negara yang paling bergantung pada impor minyak mentah yang melewati selat tersebut. 

Para analis memperingatkan bahwa semakin lama ancaman terhadap kapal di jalur tersebut berlangsung, semakin tinggi pula harga minyak dunia 2026 dan biaya pengirimannya.

Skenario harga minyak menembus 100 dollar AS per barel sangat mungkin terjadi. 

Namun faktor terpenting adalah berapa lama harga tersebut bertahan.

Jika harga energi terus tinggi, pemerintah di berbagai negara kemungkinan akan kembali melepas cadangan minyak strategis mereka, seperti yang dilakukan setelah invasi Rusia ke Ukraina. 

Ahli strategi investasi dari Quilter, Lindsay James, menilai penghentian total produksi minyak dan gas di kawasan Teluk merupakan skenario ekstrem.

Pergerakan pasar saat ini menunjukkan investor masih memperkirakan gangguan di Selat Hormuz akan segera teratasi.

Namun risiko konflik berkepanjangan meningkat dari hari ke hari. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.