TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO - Sebuah video yang memperlihatkan siswa mengerumuni mobil pengangkut program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMP Negeri 2 Sokaraja, Kabupaten Banyumas, viral di media sosial.
Dalam video tersebut, para siswa terlihat menolak kedatangan mobil Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang mengantarkan MBG karena dinilai datang terlambat.
Video berdurasi 25 detik itu diunggah oleh akun Instagram @purwokerto24jam yang berkolaborasi dengan @republikwangon, Sabtu (7/3/2026).
Dalam keterangan unggahan disebutkan penolakan terjadi karena distribusi MBG kerap datang terlambat ke sekolah tersebut.
"Mobil MBG Ditolak di SMP N 2 Sokaraja karena selalu telat distribusinya.
Pada tanggal 6 Maret 2026. Wali murid meluapkan kekesalannya karena telat.
Belum ada kejelasan dari pihak MBG kenapa bisa telat," tulis keterangan dalam unggahan tersebut.
Hingga pukul 13.15 WIB, video itu telah ditonton lebih dari 134 ribu kali dan memicu berbagai reaksi dari warganet.
Postingan itu juga muncul di Facebook dalam grup Sokaraja Dalam Info yang menuliskan caption Suasana di depan SMP Negeri 2 Sokaraja sempat ricuh akibat penolakan mobil pengantar program Makan Bergizi Gratis (MBG) oleh satpam dan sejumlah orang tua murid.
Penolakan dipicu keluhan wali murid terkait distribusi MBG yang dinilai sering terlambat dan tidak sesuai jadwal.
Pada hari itu, mobil boks pengantar makanan baru tiba sekitar pukul 12.30 WIB, sementara jam pulang sekolah sudah lewat.
Para siswa yang sebelumnya menunggu di kelas akhirnya dipersilakan pulang oleh guru.
Akibatnya, saat mobil MBG datang hanya tersisa satpam dan beberapa wali murid di lingkungan sekolah.
Sejumlah orang tua mengaku kecewa karena harus berulang kali menunggu lama agar anaknya mendapatkan jatah makan siang dari program tersebut.
Satpam sekolah juga mengaku kerepotan karena keterlambatan distribusi membuat penjemputan siswa menjadi molor dan menimbulkan kemacetan di depan sekolah.
Sebagian besar komentar justru mendukung aksi para siswa yang menolak distribusi MBG karena datang di luar jam sekolah.
Plt Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, Amrin Ma'ruf, membenarkan adanya kejadian tersebut.
Menurutnya, saat makanan datang ke sekolah, sebagian besar siswa sudah pulang sehingga memicu protes dari orang tua yang menjemput anaknya.
"Kemarin posisinya siswa sudah pada pulang, tapi yang protes orangtuanya yang sudah pada jemput, mungkin sudah nunggu tapi terlambat (MBG)," kata Amrin saat dikonfirmasi Tribunbanyumas.com, Sabtu (7/3/2026).
Meski demikian, sebagian paket MBG tetap dibagikan kepada siswa yang masih berada di sekolah.
Selain itu, makanan juga dibagikan kepada siswa yang rumahnya berada di sekitar sekolah.
"Kemarin sempat dibagi juga tapi yang masih pada di sekolah.
Yang rumahnya dekat juga dibawain sama temannya," jelasnya.
Baca juga: Jalan Utama Purbalingga - Pemalang Via Bobotsari - Belik Akan Ditambal Jelang Lebaran
Amrin mengaku tidak mengetahui secara pasti menu MBG yang dibagikan pada hari tersebut.
Namun berdasarkan informasi yang diterimanya, dapur penyedia MBG berasal dari SPPG Pamijen, Sokaraja.
"Kalau menu kemarin saya tidak begitu tahu. SPPG Pamijen Sokaraja informasinya yang bermitra," ujarnya.
Ia berharap pihak mitra SPPG dapat menepati jadwal distribusi yang telah disepakati dengan sekolah penerima manfaat.
Hal itu dinilai penting agar program MBG bisa berjalan optimal.
"Kita memohon kepada pengelola SPPG sekiranya pengiriman harus sesuai jadwal yang disepakati pendistribusian, artinya anak-anak masih di jam sekolah.
Karena ini programnya Pak Prabowo harus kita sukseskan," tutupnya. (jti)