Hubungan Amerika Serikat dan Inggris kembali menjadi sorotan setelah Presiden AS, Donald Trump, menyebut relasi kedua negara "tidak seperti dulu lagi" dalam wawancara dengan media Inggris The Sun. Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik terkait serangan AS-Israel terhadap Iran.
Guru Besar Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia (UI), Prof Fredy Buhama Lumban Tobing, menilai pernyataan itu mencerminkan adanya perbedaan kepentingan antara Amerika Serikat dan negara-negara Eropa, termasuk Inggris.
Kepentingan Energi Membentuk Sikap Negara Eropa
Dilansir dari laman resmi FISIP UI, menurut Fredy, perbedaan pandangan antara Amerika Serikat dan negara-negara Eropa sebenarnya bukan hal baru dalam politik internasional. Dalam berbagai isu kebijakan luar negeri, kedua pihak sering memiliki pendekatan yang berbeda.
"Negara-negara Uni Eropa termasuk Inggris sejak lama memang cenderung memperlihatkan sikap dan kebijakan luar negeri yang berbeda dengan Amerika Serikat," ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa perbedaan tersebut terlihat jelas dalam dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah dan Teluk Persia. Negara-negara Eropa, termasuk Inggris dan Prancis, memiliki hubungan historis yang panjang dengan kawasan tersebut, terutama dalam pengelolaan sumber daya energi.
"Khususnya dalam menghadapi dinamika isu-isu global di kawasan Timur Tengah dan Teluk Persia. Negara-negara Eropa seperti Inggris memiliki hubungan historis yang panjang dengan negara-negara di kawasan ini, terutama dalam pengelolaan konsesi tambang minyak," jelasnya.
Menurut Fredy, kebijakan Amerika Serikat di kawasan itu kerap menimbulkan kekhawatiran bagi negara-negara Eropa. Hal tersebut berkaitan dengan potensi terganggunya kontrak konsesi minyak yang selama ini dikelola oleh perusahaan-perusahaan Eropa.
Inggris Mulai Tunjukkan Sikap Lebih Independen
Fredy menilai hubungan aliansi dengan Amerika Serikat dalam beberapa situasi justru bisa menempatkan negara-negara Eropa pada posisi yang sulit, terutama ketika kebijakan Washington berpotensi memengaruhi kepentingan ekonomi mereka.
"Ambisi dan kebijakan Amerika Serikat di Timur Tengah dan Teluk Persia makin hari makin mengkhawatirkan kepentingan negara-negara Eropa, terutama Inggris dan Prancis. Mereka berpotensi kehilangan kontrak-kontrak konsesi minyak bumi yang selama ini mereka kuasai karena keterikatannya dengan persekutuan dengan Amerika Serikat," ungkapnya.
Menurutnya, kondisi ini membuat Inggris dan beberapa negara Eropa mulai memperlihatkan sikap yang lebih mandiri dalam menentukan kebijakan luar negeri.
Perubahan tersebut juga semakin terlihat setelah Inggris keluar dari Uni Eropa melalui Brexit. Situasi itu memberi ruang bagi Inggris untuk menjalankan kebijakan luar negeri yang lebih pragmatis dan lebih fokus pada kepentingan nasionalnya sendiri.
"Lama-kelamaan ambisi Amerika Serikat di Timur Tengah dan Teluk Persia makin memberatkan kepentingan nasional negara-negara Eropa. Karena itu tidak terlalu mengherankan jika Inggris tidak lagi sepenuhnya mengikuti semua keinginan dan ambisi Amerika Serikat di kawasan tersebut," kata Prof Fredy.







