TRIBUNMATARAMAN.COM, KEDIRI - Aroma kue kering khas Lebaran mulai terasa dari sebuah rumah di gang sempit Jalan Adi Sucipto 153B, Kelurahan Ngadirejo Kota Kediri.
Dari dapur sederhana itu, Yunie Dwi Prastiwi (52) memproduksi berbagai kue kering rumahan yang kini banyak dipesan menjelang Hari Raya Idulfitri.
Kue nastar menjadi salah satu produk yang paling diminati pelanggan. Bahkan, pesanan terus berdatangan dari berbagai daerah seperti Kediri, Surabaya hingga Sidoarjo melalui sistem pre order.
Yunie mengaku usaha kue kering tersebut sebenarnya sudah lama ia tekuni.
Namun sempat berhenti beberapa tahun sebelum akhirnya kembali memulai usahanya pada akhir tahun 2025.
"Sebetulnya saya sudah lama suka bikin kue sama ibu. Dari dulu waktu anak-anak masih kecil saya sudah sering membuat kue di rumah. Tapi sempat berhenti, lalu akhir tahun 2025 saya mulai lagi," ujar Yunie, Sabtu (7/3/2926).
Yunie mengaku kembali menekuni usaha tersebut karena ingin memiliki kegiatan produktif di rumah yang juga bisa menghasilkan tambahan penghasilan.
"Waktu itu saya merasa tidak ada kegiatan di rumah. Akhirnya saya berpikir ingin punya aktivitas yang bisa menghasilkan juga," katanya.
Selain itu, Yunie juga ingin meneruskan usaha kuliner yang dulu pernah dijalankan oleh ibunya.
Ia mengaku banyak menggunakan resep turun-temurun dari orang tuanya.
" Saya ingin meneruskan usaha ibu saya. Dulu ibu juga membuat banyak makanan seperti kue kering dan kerupuk. Resep yang saya pakai ini sebagian besar dari ibu saya," jelasnya.
Baca juga: JLS Trenggalek - Tulungagung Diperbaiki Jelang Idul Fitri 2026, H-10 Sudah Rampung
Dalam usahanya, Yunie memproduksi berbagai jenis kue kering rumahan. Mulai dari nastar klasik, nastar keju, kastengel, semprit, sagu keju, choco chip, putri salju hingga kue kacang.
Dari berbagai jenis tersebut, nastar menjadi salah satu produk favorit pelanggan, terutama menjelang Lebaran.
"Biasanya nastar yang paling banyak dicari. Ada nastar klasik dan nastar keju. Selain itu juga ada nastar iris atau leker," tuturnya.
Dengan dibantu anak dan keponakan di rumah, Yunie menjual kue kering dalam kemasan toples dengan harga yang bervariasi.
Untuk ukuran paling kecil dibanderol mulai Rp 50 ribu, sementara ukuran yang lebih besar bisa mencapai sekitar Rp 72 ribu per toples.
"Paling murah itu Rp50 ribu per toples sampai Rp 72 ribu tergantung ukuran dan jenis kuenya," kata Yunie.
Menjelang Lebaran, pesanan kue kering mengalami lonjakan cukup signifikan dibandingkan hari-hari biasa.
Dalam kondisi normal, produksi kue Yunie berkisar sekitar 2 hingga 3 kilogram per hari.
Namun saat musim Lebaran, produksinya bisa meningkat hingga 4 sampai 5 kilogram per hari dengan berbagai jenis kue yang dibuat.
"Kalau hari biasa mungkin hanya sekitar 2 sampai 3 kilo sehari. Tapi kalau mendekati Lebaran bisa sampai 4 sampai 5 kilo," ujarnya.
Dari jumlah tersebut, Yunie bisa memproduksi sekitar lima hingga enam toples nastar dalam sehari.
Sementara untuk jenis kue lainnya bahkan bisa mencapai 10 toples atau lebih.
Berkat meningkatnya permintaan menjelang Lebaran, omzet usaha kue kering rumahan ini juga ikut melonjak.
Dalam kondisi normal, omzetnya bisa mencapai sekitar Rp 10 juta per bulan.
Namun saat memasuki musim Lebaran, khususnya pada minggu kedua Ramadan, omzetnya dapat meningkat hingga sekitar Rp 20 juta sampai Rp 25 juta.
"Kalau menjelang Lebaran memang lonjakannya jauh. Biasanya omzet bisa sampai sekitar Rp 20 juta sampai Rp 25 juta," jelasnya.
Saat ini Yunie masih memproduksi kue dari rumah dengan bantuan anak serta keponakannya.
Meski begitu, ia memiliki rencana besar untuk mengembangkan usaha tersebut ke depannya.
Yunie berharap suatu saat rumahnya bisa disulap menjadi toko kue yang lebih bagus agar dapat memenuhi permintaan pasar yang semakin meningkat.
"Ke depan saya ingin rumah ini dibuat seperti toko juga. Jadi lebih proper dan bisa menyiapkan stok lebih banyak kalau ada pesanan," pungkasnya.
(Isya Anshori/TribunMataraman.com)
Editor : Sri Wahyunik