Lintas Generasi Berkumpul di Buka Puasa Walhi Sulsel, Bahas Masa Depan Gerakan Lingkungan
Sudirman March 07, 2026 10:22 PM

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR – Aktivis lingkungan lintas generasi berkumpul buka puasa Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sulawesi Selatan (Sulsel). 

Buka puasa di Sekretariat Walhi Sulsel, Kompleks Permata Hijau Lestari, Jl Hertasning, Makassar, Sabtu (7/3/2026).

Buka puasa menjadi ruang silaturahmi sekaligus konsolidasipara pegiat lingkungan di daerah.

Hadir Direktur pertama Walhi Sulsel Asmin Amin, Mantan Komisioner KPU Pangkep Burhan A, Direktur YLK, Ambo Masse.

Senior Mapala Korpala Unhas Andi Sudirman, Ketua Aman Sulsel Tenri Itti, Akademisi UIN Zul Ashari, Senior Walhi Sulsel/YPMP Sulsel Nina Basira, Serta Direktur YPL, Rais.

Direktur Eksekutif Daerah Walhi Sulsel, Muhammad Al Amin, mengatakan buka puasa merupakan agenda rutin tahunan telah berlangsung selama lebih dari satu dekade.

Agenda itu bukan sekadar agenda berbuka puasa, melainkan momentum merajut kembali jaringan gerakan lingkungan di Sulawesi Selatan.

“Pesannya sebenarnya bukan pada buka puasanya, tetapi bagaimana merajut, mengonsolidasikan kembali komponen-komponen Walhi, alumni-alumni Walhi, orang-orang yang selama ini berkontribusi besar terhadap gerakan lingkungan di Sulsel,” katanya.

Selain para aktivis dan alumni Walhi,  juga melibatkan komunitas pencinta alam dan mahasiswa pencinta alam untuk berdiskusi mengenai isu-isu lingkungan sambil menunggu waktu berbuka.

WALHI Sulsel juga mengundang komunitas warga dari wilayah Tallo yang selama ini berjuang bersama memperjuangkan akses air bersih kepada Pemerintah Kota Makassar.

"Setahu saya tahun lalu mereka sudah berhasil mendapatkan air bersih, tetapi fasilitas air bersihnya belum dapat. Kita undang kembali, kita diskusi-diskusi kembali,” ungkapnya.

Ia juga mengapresiasi kehadiran para alumni dan tokoh senior gerakan lingkungan, termasuk Direktur pertama Walhi Sulsel.

"Artinya sejauh ini hubungan silaturahmi dan kekeluargaan WALHI tetap terjadi harmonis dan baik sampai sekarang,” ujarnya.

Menurut Al Amin, pertemuan lintas generasi ini menjadi momentum penting untuk memperkuat gerakan masyarakat sipil di tengah meningkatnya konflik lingkungan di Indonesia.

Ia menilai Sulsel khususnya Kota Makassar, memiliki posisi strategis sebagai pintu masuk aktivitas ekstraksi sumber daya alam di kawasan Indonesia Timur.

“Nah harus dipahami oleh semua orang, terutama para aktivis NGO di Sulawesi Selatan, bahwa Makassar atau Sulawesi Selatan itu pintu masuknya ekstraksi di Indonesia Timur,” jelasnya.

Ia menilai penting bagi organisasi masyarakat sipil untuk terus melakukan regenerasi aktivis serta memperkuat konsolidasi gerakan lingkungan agar mampu mengawal berbagai ancaman kerusakan lingkungan di wilayah timur Indonesia.

“Tahun ini kita akan lebih banyak melakukan konsolidasi. Fokus kita masih soal perlindungan ekosistem esensial, hutan, karst, dan pesisir. Kemudian kita juga sedang mendorong keadilan urban, dekarbonisasi, serta transisi mineral dan energi,” katanya.

Selain itu, Walhi Sulsel juga menyoroti pentingnya menjaga ruang sipil agar gerakan lingkungan dapat berjalan secara bebas dan kritis.

Di sisi lain, organisasi tersebut juga masih fokus mengawal perlindungan bentang alam hutan terakhir di wilayah Utara Sulsel yang dinilai terancam oleh ekspansi industri pertambangan.

Tak hanya itu, Walhi Sulsel juga menyampaikan penolakan terhadap rencana eksploitasi proyek geotermal di wilayah tersebut karena dikhawatirkan berpotensi merusak lingkungan.

Walhi Sulsel juga berencana menggelar konferensi internasional di Makassar pada Juni mendatang bertajuk Eastern Indonesia International Conference on Critical Mineral and Energy Transition.

Konferensi akan melibatkan berbagai organisasi lingkungan internasional untuk membahas isu transisi energi dan mineral kritis.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.