SURYA.CO.ID, PASURUAN - Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar melakukan safari ke sejumlah pondok pesantren (Ponpes) di Jawa Timur (Jatim) pada Jumat (6/3/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Menag mengunjungi Ponpes Salafiyah dan Sidogiri di Pasuruan untuk bersilaturahmi dengan para pengasuh pesantren.
Menag Nasaruddin Umar juga memanfaatkan momen ini untuk menyosialisasikan rencana pembentukan Direktorat Jenderal (Ditjen) Pesantren di lingkungan Kementerian Agama Republik Indonesia.
Sebagai bentuk dukungan nyata, Menag menyalurkan bantuan operasional masing-masing sebesar Rp 100 juta kepada beberapa pesantren, yaitu:
Menag Nasaruddin Umar mengatakan, pemerintah berupaya memperkuat pembinaan pesantren agar dapat menjangkau lebih banyak lembaga pendidikan keagamaan di berbagai daerah.
“Sesungguhnya kami ingin ke depan dengan adanya Ditjen Pondok Pesantren, pembinaan pondok itu akan lebih banyak dan lebih merata,” ujar Nasaruddin Umar saat berkunjung ke Ponpes Sidogiri.
Menurutnya, pembentukan Ditjen Pesantren diharapkan mampu memperkuat perhatian pemerintah terhadap pengembangan lembaga pendidikan berbasis pesantren.
Hal ini mencakup aspek penguatan kelembagaan, pendidikan, maupun pemberdayaan masyarakat secara luas.
Direktur Pondok Pesantren Kemenag, Basnang Said, menambahkan bahwa safari pesantren menjadi sarana penting bagi pemerintah untuk berdialog langsung dengan kalangan pesantren.
Menurut Basnang, kunjungan tersebut memungkinkan pemerintah memahami secara langsung kebutuhan riil yang dihadapi pesantren di lapangan.
“Safari pesantren sangat penting, karena menjadi ruang silaturahmi sekaligus dialog langsung antara pemerintah dan pesantren. Melalui kunjungan ini, Menteri Agama dapat melihat secara langsung dinamika, kebutuhan serta kontribusi nyata pesantren dalam pendidikan, dakwah dan pemberdayaan masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, bahwa interaksi langsung tersebut membantu pemerintah merumuskan kebijakan yang lebih kontekstual dan sesuai dengan kondisi pesantren.
Kehadiran Menteri Agama di lingkungan pesantren, juga dinilai memberi penguatan moral bagi para pengelola dan santri.
Kunjungan tersebut, menjadi bentuk pengakuan negara terhadap peran strategis pesantren dalam pendidikan keagamaan dan pembangunan sosial.
“Bagi pesantren, kunjungan ini menjadi momentum untuk menyampaikan aspirasi secara langsung, mempererat kemitraan dengan pemerintah, serta memperkuat kepercayaan diri pesantren bahwa kiprah mereka mendapat perhatian serius dari negara,” katanya.
Basnang berhara, pemerintah terus memperkuat kebijakan afirmatif bagi pesantren, baik dalam penguatan kelembagaan maupun peningkatan kualitas pendidikan.
Selain itu, ia menekankan pentingnya pengembangan kemandirian ekonomi pesantren agar kontribusinya semakin optimal.
“Dengan dukungan kebijakan yang konsisten dan berpihak pada ekosistem pesantren, pesantren akan semakin optimal menjalankan fungsinya sebagai pusat pendidikan, dakwah dan pemberdayaan masyarakat,” ujarnya.