Komunitas Espart Wonosobo Latih Warga Berani Bicara Bahasa Inggris, Dukung Pariwisata Lokal
rival al manaf March 08, 2026 04:54 PM

TRIBUNJATENG.COM, WONOSOBO - Keberanian berbicara sering menjadi hambatan terbesar bagi banyak orang ketika belajar bahasa Inggris. 

Bukan soal tata bahasa atau kosakata saja, tetapi rasa malu dan takut salah yang membuat banyak orang enggan mencobanya.

Fenomena itulah yang mendorong Amalia Fajarsari bersama rekannya Zulfa menggagas sebuah ruang belajar bahasa Inggris yang berbeda di Wonosobo. 

Komunitas itu dikenal dengan nama English Speaking Partner (Espart).

Baca juga: Pulang Nonton Lomba Lari, 3 Pelajar di Salatiga Dikejar Sekelompok Orang Dengan Golok

Baca juga: BREAKING NEWS: Kapolsek Kaliwungu Kendal Jadi Korban Pengeroyokan saat Bubarkan Tawuran

Komunitas ini mulai berjalan pada 7 Juli 2024 dan hingga kini berkembang menjadi ruang belajar terbuka bagi masyarakat dari berbagai latar belakang usia dan profesi.

Amalia Fajarsari atau yang akrab disapa Sari menjelaskan komunitas ini lahir dari kegelisahan yang ia rasakan saat meneliti program pembelajaran bahasa Inggris di sebuah media lokal.

Ia bersama seorang rekannya yang juga menempuh pendidikan S2 meneliti program di media lokal tersebut bertajuk I Can Speak. 

Namun dari penelitian tersebut mereka justru menemukan bahwa program tersebut belum memberi dampak signifikan terhadap keberanian masyarakat untuk berbicara bahasa Inggris.

“Kita sama-sama bikin tesis kita tentang si I Can Speak ini, gitu. Karena kita ngerasa kayak ngga ada kemajuan ini program, gitu. Ngga terlalu ngefek juga ke pendengar,” ujarnya, Minggu (8/3/2026).

Selain itu, ia juga melihat adanya stigma di masyarakat Wonosobo yang membuat banyak orang merasa canggung ketika mencoba berbicara bahasa Inggris.

“Di Wonosobo ada stigma keminggris atau sok bahasa Inggris gitu lah,” katanya.

Menurutnya, istilah tersebut menggambarkan situasi ketika seseorang merasa tidak percaya diri saat harus menggunakan bahasa Inggris di depan orang lain.

“Orang ngomong mau praktik bahasa Inggris, kayak diejek orang jadi nggak berani,” lanjutnya.

Berangkat dari kondisi tersebut, ia dan beberapa rekannya mencoba menghadirkan pendekatan berbeda dalam belajar bahasa Inggris.

Mereka membangun komunitas yang tidak menekankan tata bahasa atau teori, melainkan keberanian berbicara terlebih dahulu.

Salah satu aturan unik yang diterapkan adalah tidak memperkenalkan latar belakang pendidikan maupun profesi saat kegiatan berlangsung.

“Kita punya rules adalah ngga boleh kasih tau background edukasi kita dan background profesional kita,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa status pendidikan atau pekerjaan sering kali justru menjadi penghalang komunikasi.

“Karena status-status itu jadi barrier juga untuk orang ngomong,” ujarnya.

Menurutnya, seseorang bisa langsung kehilangan kepercayaan diri ketika mengetahui lawan bicaranya memiliki latar belakang pendidikan tinggi atau profesi tertentu.

Karena itu, dalam setiap pertemuan para anggota biasanya memperkenalkan diri secara sederhana tanpa menyebut profesi.

Kegiatan Espart dilakukan secara rutin setiap minggu di Arpusda Wonosobo.

Pertemuan biasanya berlangsung sekitar dua jam, mulai pukul 10.00 hingga 12.00 WIB.

Dalam pertemuan tersebut, para peserta diajak berdiskusi dengan tema tertentu yang bisa ditentukan sebelumnya maupun secara spontan.

“Kita langsung menentukan tema. Itu tema bisa dari penggerak, bisa juga tiba-tiba kepikiran,” katanya.

Selain berdiskusi, kegiatan juga diisi dengan berbagai permainan yang tetap menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utama.

Pendekatan ini membuat proses belajar terasa lebih santai dan tidak menegangkan.

Hal lain yang membuat Espart berbeda adalah cara mereka menyikapi kesalahan bahasa.

Dalam komunitas ini, kesalahan grammar tidak langsung dikoreksi agar peserta tidak kehilangan kepercayaan diri.


“Kita didiamkan, kita biarin, kita ngga mau koreksi langsung,” ujarnya.


Ia menjelaskan bahwa koreksi baru diberikan setelah peserta merasa nyaman dan lebih percaya diri dalam berbicara.


“Pokoknya sampai dia benar-benar rileks, akhirnya dekat sama kita,” katanya.


Pendekatan tersebut dinilai efektif membuat peserta berani berbicara lebih banyak.


Anggota komunitas ini datang dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar SMA hingga orang dewasa yang ingin kembali mengasah kemampuan bahasa Inggris.


“Sekarang sudah lintas umur, yang ingin tahun lebih tentang kami bisa cek Instagram dan Tiktok kita di @espart.id,” kata Sari.


Ia menyebut jumlah penggerak saat ini sekitar delapan orang, sementara peserta yang bergabung mencapai lebih dari 50 orang.


“Peserta yang datang mengikuti kegiatan kita disebutnya Soci atau society (masyarakat)," imbuhnya.


Bagi Sari, keberhasilan komunitas ini tidak diukur dari penghargaan atau kompetisi yang dimenangkan.


Ia justru melihat dampaknya dari perubahan kepercayaan diri peserta. Beberapa ada yang terima di kampus bergengsi dengan jurusan bahasa.


“Dia ngomong terima kasih karena akhirnya aku berani ngomong dengan ikut kegiatan kita,” ujarnya.


Meski komunitas ini terus berkembang, Sari mengaku tidak memiliki target yang terlalu besar dalam waktu dekat.


Baginya, tujuan utama saat ini adalah menjaga keberlanjutan komunitas.


“Aku sih sebenarnya lebih pengen ke ini ya, bertahan dulu, survive dulu daripada terlalu banyak goals yang tinggi,” katanya.


Ia berharap Espart dapat terus berjalan bahkan jika suatu saat dirinya tidak lagi berada di Wonosobo.


Selain itu, ia juga ingin memperkenalkan komunitas ini ke lebih banyak orang di luar daerah.


“Kalau di Wonosobo mungkin sebagian sudah tahu, tapi di luar Wonosobo kan belum ada yang tahu,” ujarnya.


Selain menjadi ruang belajar bahasa Inggris, Sari juga melihat potensi komunitas Espart untuk mendukung perkembangan sektor pariwisata di Wonosobo.


Menurutnya, kemampuan berbicara bahasa Inggris bisa menjadi bekal penting bagi masyarakat lokal, terutama ketika Wonosobo semakin dikenal sebagai destinasi wisata.


“Gerakan ini juga bisa dipakai untuk kemajuan Wonosobo, termasuk sektor pariwisata,” katanya.


Ia menilai, semakin banyak warga yang memiliki keberanian berbicara bahasa Inggris, semakin besar pula peluang mereka untuk terlibat dalam aktivitas pariwisata, mulai dari mendampingi wisatawan hingga menjadi pemandu.


Apalagi sejumlah agenda wisata di Wonosobo, seperti festival balon udara yang rutin digelar setiap tahun, kerap menarik perhatian wisatawan mancanegara.


Dalam beberapa kesempatan, anggota komunitas juga pernah terlibat mendampingi wisatawan asing yang datang ke acara tersebut.


Menurutnya, kemampuan komunikasi menjadi kunci penting agar masyarakat lokal dapat berinteraksi langsung dengan wisatawan.


“Dengan kemampuan bahasa Inggris, teman-teman bisa jadi pemandu turis atau sekadar membantu wisatawan yang datang,” ujarnya.


Ia berharap ke depan pemerintah daerah dapat melihat potensi ini sebagai bagian dari penguatan sumber daya manusia di sektor pariwisata Wonosobo. (ima)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.