SURYA.CO.ID, SURABAYA - Belajar tak pernah mengenal batas usia maupun jabatan. Prinsip ini dibuktikan oleh Lala Wee, CEO MSS Group yang sukses membalikkan kerugian bisnisnya dengan melanjutkan studi hingga jenjang Doktoral di Universitas Ciputra (UC) Surabaya.
Di tengah kesibukannya memimpin perusahaan dan menjadi ibu dari dua anak, Lala membuktikan bahwa pendidikan bukan sekadar mengejar gelar akademik. Baginya, pendidikan adalah proses esensial untuk membangun pola pikir yang lebih matang dalam berbisnis.
Perjalanan karir Lala dimulai sebagai konsultan di Jakarta pada 2012, sebelum kembali mengurus bisnis keluarga hingga 2016.
Setelah itu, ia memberanikan diri membangun usahanya sendiri dari nol.
Namun, badai pandemi Covid-19 sempat menghantam bisnisnya hingga mengalami kerugian besar.
Di titik nadir itulah, ia merasa butuh mentor dan sudut pandang baru dengan mengambil kuliah Magister Manajemen di UC.
Selama dua tahun menempuh S2, ia menerapkan ilmu yang didapat langsung ke perusahaannya. Pendekatan ini membuahkan hasil signifikan bagi MSS Group, di antaranya:
Tak cepat puas, Lala kini melanjutkan pendidikannya di Program Studi Doktor Manajemen dan Entrepreneurship (DME) UC dan telah memasuki semester dua.
“Program doktor bukan soal titel. Yang paling terasa adalah perubahan cara berpikir dalam mengambil keputusan strategis dan operasional,” ungkap Lala, Senin (9/3/2026).
Menjalani peran ganda tentu menuntut pengorbanan waktu istirahat dan kemampuan mendelegasikan tugas. Namun, dukungan lingkungan akademik di UC yang kental dengan nuansa kekeluargaan dan dipenuhi sesama entrepreneur menjadi penyemangat utamanya.
“Teman-teman magister dan doktor mayoritas wirausaha dan profesional dari Jakarta hingga Timor Leste. Kesamaan tujuan membuat kami saling menguatkan,” kenangnya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, Program Studi Doktor Manajemen dan Entrepreneurship di Universitas Ciputra (UC) Surabaya memang didesain secara spesifik untuk memadukan teori manajemen tingkat lanjut dengan praktik kewirausahaan nyata.
Program S3 ini tidak hanya menargetkan akademisi, tetapi sangat relevan bagi praktisi dan pemilik bisnis yang ingin menciptakan solusi inovatif berkelas internasional. Pendekatan kurikulum berbasis riset terapan inilah yang menjadi alasan banyak CEO dan pengusaha, termasuk Lala Wee, memilihnya untuk menemukan framework penyelesaian masalah bisnis yang lebih presisi.
Bagi Anda para pelaku usaha yang merasa bisnisnya sedang stagnan atau kesulitan mencari terobosan, berinvestasi pada pendidikan lanjutan (S2 atau S3) bisa menjadi langkah strategis.
Selain mempertajam kemampuan analitis, institusi pendidikan bisnis menawarkan networking solid dengan sesama pengusaha.
Pilihlah program studi yang mengedepankan praktik langsung (applied science) dibanding sekadar teori murni. Dengan begitu, tugas kuliah yang dikerjakan bisa langsung diterapkan untuk menyelesaikan persoalan riil di perusahaan Anda.