TRIBUNJATENG.COM, KUDUS – Rumah joglo dengan dinding kayu berukir itu setiap harinya dipenuhi oleh anak-anak yang sedang belajar. Memang tidak seperti bangunan sekolah pada umumnya.
Rumah joglo yang berdiri di tengah sawah di Desa Purworejo, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus itu menjadi laboratorium berpikirnya anak-anak yang sedang menempuh pendidikan di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Omah Dongeng Marwah atau yang karib disingkat ODM.
ODM merupakan lembaga pendidikan alternatif yang secara resmi berdiri sejak 2017 oleh tiga sosok, yaitu Hasan Aoni Aziz, Edy Supratno, dan Basuki Sugita.
Lembaga ini berdiri tidak serta merta. Sebelumnya sudah ada komunitas belajar di bawah kendali ODM. Kemudian dibentuklah PKBM agar anak-anak yang belajar di ODM secara sah memiliki legitimasi sebagai anak bangsa yang pernah belajar dan mendapatkan ijazah yang sah.
Saat ini, terdapat 25 anak yang belajar di ODM.
Proses belajarnya berlangsung setiap Senin sampai Jumat pada pukul 08.00 sampai pukul 13.00.
Yang membuat beda ODM dengan lembaga pendidikan yang lainnya yaitu upaya untuk menggali bakat personal setiap anak didiknya.
Bakat personal yang menonjol itu kemudian akan terus diasah melalui pendampingan dan diikutkan ke beberapa event.
“Kalau di sekolah formal mungkin dia akan membolos terus karena (kegiatannya) tidak ada hubungannya dengan pelajaran itu. Kalau di ODM ini ,” kata Kepala Sekolah Omah Dongeng Marwah, Edy Supratno.
Semula, oleh para pendirinya, ODM direncanakan sebagai sekolah formal layaknya sekolah pada umumnya. Namun rencana tersebut terbentur persyaratan administratif yang cukup ketat.
Misalnya, sekolah formal harus memiliki batas minimal luas lahan dan gedung. Sementara ODM yang berangkat dari komunitas belajar tidak memiliki semua itu. Akhirnya, satu-satunya jalan agar ODM secara legal diakui oleh negara, yakni dengan mendaftarkannya sebagai PKBM.
“Bagi kami, Paket B, Paket C itu tidak ada masalah, karena pendidikan bukan sekadar mencari ijazah, itu cara kami biar diakui oleh negara,” kata Edy.
ODM yang semula hanya komunitas belajar ini sempat ditawarkan oleh Edy kepada masing-masing orangtua yang anaknya setiap hari belajar di ODM, yang akan dikembangkan menjadi PKBM. Namun tawaran itu tidak serta merta disambut positif, beberapa orangtua belum tertarik dengan tawaran PKBM ODM sebab belum ada contoh sebelumnya.
“Bagi kami silakan saja, karena memang tidak ada paksaan. Akhirnya ada orangtua yang menyekolahkan anaknya ke sekolah negeri, tidak masalah,” kata Edy.
Kini seiring berjalannya waktu, ODM sudah berjalan. Ia menjadi tempat belajar alternatif bagi 25 anak yang berstatus sebagai murid di sana. Pada tahun 2021, ODM meluluskan angkatan pertamanya.
Satu di antara angkatan pertamanya, yaitu Tiyo Ardianto yang kini menjadi Ketua BEM Universitas Gadjah Mada dan menjadi sosok viral karena kritikannya terhadap pemerintah terakit kasus anak bunuh diri di NTT.
Bagi Edy, apa yang dicapai Tiyo saat ini bukan hal yang mengagetkan. Sebab Edy yang sudah sejak sebelumnya ikut mendampingi Tiyo selama pendidikan, paham betul potensi anak tersebut.
Tiyo merupakan satu di antara lulusan angkatan pertama ODM, yang saat itu meluluskan empat anak. Kata Edy, tiga anak lainnya seangkatan Tiyo juga melanjutkan ke perguruan tinggi.
Ketiga anak tersebut melanjutkan pendidikan tingginya di Unnes, ISI Surakarta, dan Universitas Kristen Indonesia.
Melihat sepak terjang berikut anak-anak hasil belajar dari ODM yang statusnya sebagai Paket C, tentu ini tidak bisa dianggap remeh.
Kualitas murid-murid ODM tentu berangkat dari formulasi pembelajaran yang diterapkan. Kata Edy, dalam pembelajaran di ODM tidak melulu seperti sekolah formal.
Di sini mereka mencoba menggali bakat personal setiap anak. Kalau memang terdapat anak yang merasa menemukan bakatnya, pengelola ODM tidak bisa memberikan larangan.
Dari penggalian bakat yang serius dan pendampingan yang matang, sehingga lahirlah anak-anak dengan optimisme tinggi.
Meski lulusan dari Paket C, anak-anak dari ODM tidak lantas kalah dengan sekolah-sekolah formal pada umumnya.
Ditemui di kampus ODM dan dimintai tanggapan atas latar pendidikan paket C-nya yang oleh beberapa warganet yang dianggap sebelah mata, tiyo tidak ambil pusing.
Di media sosial, kritik keras yang dilontarkan Tiyo kepada pemerintah, membuat sejumlah warganet mengait-pautkan tingkat kecerdasan Tiyo yang hanya lulusan Paket C.
Merespons anggapan miring sebagai lulusan Paket C, Tiyo menilai tudingan tersebut bukan isu yang penting. “Saya biasa saja. Itu bukan isu yang substantive menurut saya,” kata Tiyo. (Rifqi Gozali)