Menguak Penyebab Tewasnya Ermanto, Kini Bareskrim Dilibatkan, Ditemukan Banyak Kejanggalan
Salomo Tarigan March 10, 2026 07:27 AM

TRIBUN-MEDAN.com - Kasus pembunuhan Ermanto Usman, pensiunan karyawan PT JICT menyita perhatian publik.

Terkini, untuk mengungkap kasus ini, Bareskrim Polri ikut turun melakukan penyelidikan.

Ermanto sendiri ditemukan tewas bersimbah darah pada 2 Maret 2026.

Baca juga: OTT KPK di Rejang Lebong, Ruang Kerja Bupati Disegel, Pejabat Dibawa ke Polres Diperiksa

Baca juga: Noel Mendadak Singgung Eks Ketua KPK Firli Bahuri, Status Tersangka Sejak 2023 Belum Ditahan

Kasi Humas Polres Metro Bekasi Kota AKP Suparyono mengatakan penyelidikan dilakukan oleh tim gabungan untuk membuat terangnya kasus tersebut.

Baca juga: Alasan 55 SPPG di Deli Serdang Distop Beroperasi hingga Proses Pendaftaran Sertifikast SLHS Tuntas

"Tim gabungan Bareskrim, Polda Metro Jaya, Satreskrim Polres Metro Bekasi Kota dan Polsek Pondok Gede masih berupaya dalam penyelidikan," kata Suparyono saat dihubungi, Senin (9/3/2026).

TEWAS - Ermanto Usman atau EU (65) ditemukan tewas dengan muka lebam dan bersimbah darah di kamar rumahnya di Kecamatan Pondok Gede, Kota Bekasi, Jawa Barat, pada Senin (2/3/2026). Beberapa bulan lalu, ia sempat mengungkap dugaan korupsi PT Pelindo II yang diduga mengakibatkan negara rugi Rp4,08 triliun.
TEWAS - Ermanto Usman atau EU (65) ditemukan tewas dengan muka lebam dan bersimbah darah di kamar rumahnya di Kecamatan Pondok Gede, Kota Bekasi, Jawa Barat, pada Senin (2/3/2026). Beberapa bulan lalu, ia sempat mengungkap dugaan korupsi PT Pelindo II yang diduga mengakibatkan negara rugi Rp4,08 triliun. (Istimewa)

Namun, hingga saat ini kepastian penyebab kematiannya masih abu-abu.

Informasi terakhir, Ermanto tewas karena menjadi korban perampokan.

 Namun, banyak kejanggalan yang membuat motif perampokan masih belum mendapatkan kepastian.

Apalagi, jajaran Polda Metro Jaya saat ini juga mendalami soal dugaan Ermanto tewas akibat dibunuh. Namun, hal itu masih dilakukan pendalaman.

Di sisi lain, Suparyono tidak memastikan apakah pihaknya mendapat kesulitas dalam mengungkap kasus tersebut atau tidak. 

"Ya mohon doanya saja semoga bisa terungkap," singkatnya.

Kejanggalan hingga Disoroti  Anggota DPR

Kasus tewasnya Ermanto Usman, pensiunan Jakarta International Container Terminal (JICT), yang diwarnai banyak kejanggalan jadi sorotan.

Teranyar, Komisi XIII DPR RI Fraksi PDIP Rieke Diah Pitaloka ikut menyoroti kasus ini.

Ermanto (65) ditemukan tewas di rumahnya di Jatibening, Pondok Gede, Kota Bekasi. Pria lansia ini sempat menyuarakan dugaan korupsi. (TRIBUN MEDAN)

 Rieke Diah Pitaloka, mengungkap adanya seseorang yang mengaku sebagai penyidik, dan berupaya mewawancarai istri almarhum Ermanto Usman, pensiunan Jakarta International Container Terminal (JICT), yang saat ini masih dalam kondisi kritis di rumah sakit di Bekasi.

Rieke mengatakan, informasi tersebut ia terima dari anak korban.

Selain itu, ia juga mendapat laporan bahwa kedua anak Ermanto sempat dihubungi oleh pihak tertentu yang meminta kronologi kejadian.

“Saya mendapat kabar dari anaknya Pak Ermanto bahwa selain ada pihak-pihak yang mencoba mendesak, dalam tanda kutip meminta kronologis kepada kedua anaknya melalui telepon, ternyata di rumah sakit juga ada seseorang yang mengaku penyidik dan akan mewawancarai ibunya,” kata Rieke, saat dikonfirmasi wartawan, Senin (9/3/2026).

Adapun kematian Ermanto Usman di rumahnya di kawasan Jatibening, Kota Bekasi masih menimbulkan tanda tanya besar.

Sejauh ini, informasi yang berkembang, Ermanto Usman tewas akibat menjadi korban perampokan. 

Rieke menegaskan, bahwa istri korban merupakan saksi kunci dalam kasus tersebut sekaligus korban yang saat ini masih menjalani perawatan intensif.

"Mereka ingin mewawancarai istri Pak Ermanto yang notabene adalah saksi kunci dalam kasus ini, sekaligus korban dan saat ini sedang dirawat di salah satu rumah sakit di Kota Bekasi,” ucapnya.

Rieke mempertanyakan langkah tersebut karena kondisi saksi yang masih kritis.

Dia pun meragukan bahwa orang yang datang ke rumah sakit tersebut benar-benar merupakan penyidik dari kepolisian.

“Kok bisa mau pendalaman kasus terhadap orang yang masih dalam kondisi kritis?” ujarnya.

“Benarkah ini penyidik dari kepolisian? Saya kok tidak percaya. Mana bisa mewawancarai ketika sudah ada kuasa hukum, sudah ada LPSK, kemudian tidak ada koordinasi,” imbuhnya.

Rieke menjelaskan, berdasarkan informasi yang diterimanya, orang tersebut sempat mencoba masuk untuk menemui keluarga korban meskipun telah diminta menunggu.

“Orang itu datang dan mau wawancara keluarga korban, mau melihat saksi kunci. Ketika diminta menunggu untuk persetujuan keluarga, dia tetap ikut dan memaksa masuk. Ini indikasinya tidak benar,” ucapnya.

Mengetahui hal tersebut, Rieke mengaku langsung mendatangi rumah sakit untuk memastikan kondisi keluarga korban serta perlindungan terhadap saksi kunci.

“Saya datang ke rumah sakit, sudah bertemu dengan anak-anaknya dan alhamdulillah LPSK memberikan pengawalan 24 jam. Kebetulan rumah sakitnya juga sudah memiliki MoU dengan LPSK,” ujarnya.

LPSK Beri Perlindungan 24 Jam

Rieke mengungkapkan, pimpinan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) telah berkoordinasi dengan aparat kepolisian setempat terkait pengamanan saksi.

“Siang sampai sore hari ini Ketua LPSK langsung berkoordinasi dengan Kapolsek Metro Bekasi Kota. Mereka sedang melakukan pertemuan,” ujarnya.

Selain itu, ia juga mengaku telah mengantarkan surat resmi sebagai anggota DPR kepada kepolisian untuk mendukung perlindungan saksi dan keluarga korban.

“Saya juga mengantarkan surat resmi sebagai anggota Komisi XIII DPR RI untuk memberikan dukungan kepada Kepolisian Republik Indonesia agar memberikan perlindungan kepada saksi kunci dan keluarganya 24 jam, terutama dalam masa kesehatannya masih kritis seperti ini,” katanya.

Rieke juga memastikan bahwa orang yang datang ke rumah sakit tersebut bukan penyidik dari kepolisian.

Ia menduga ada pihak tertentu yang berupaya menekan saksi agar tidak memberikan kesaksian.

“Ternyata benar, itu bukan penyidik kepolisian. Tidak mungkin polisi bersikap tidak profesional seperti itu,” katanya.

“Kalau memang bukan penyidik dari kepolisian, berarti ada pihak-pihak yang berupaya membungkam supaya terjadi sesuatu sehingga istrinya tidak bisa bersaksi, padahal dia adalah saksi kunci,” imbuhnya.

Saat ditanya mengenai kemungkinan membawa kasus tersebut untuk beraudiensi ke Komisi III DPR, Rieke mengaku belum mengetahuinya.

Kronologis Kasus

Kasat Reskrim Polres Metro Bekasi Kota Kompol Andi Muhammad Iqbal menjelaskan kasus ini awal mulanya diketahui saksi anak perempuan dari korban.

Sang anak terbangun dari tidurnya menjelang imsak.

Namun saat terbangun dia melihat kondisi yang tak wajar di dalam rumahnya.

"Jadi bertiga mereka tinggal ada ART tapi pulang pergi kemudian kenapa ini bisa ketahuan? karena anak korban ini biasa dibangunkan sama ibunya untuk persiapan masak dan sebagainya untuk sahur," kata Kompol Andi kepada wartawan Selasa (3/3/2026).

Ketika anak korban turun ke lantai satu untuk sahur dia kaget karena tidak ada jawaban dan kondisi lampu masih mati.

"Dia (anak perempuan) dengar dari dalam ibunya masih ada sempat suara-suara kayak mengorok-ngorok gitu kan tapi enggak bisa dibuka karena gagang pintunya dirusak," terangnya.

Walhasil saksi meminta tolong warga hingga menghubungi keluarga terdekat.

Tak lama kemudian jendela kamar berhasil dibongkar.

Saat dibuka ternyata ditemukan kondisinya orang tua dari saksi, satu di antaranya tak bernyawa.

"Bapaknya meninggal dunia di tempat, ibunya lagi dioperasi sampai sekarang dalam kondisi kritis akibat benda tumpul di kepala depan dan di kepala belakang," tukasnya.

Sejauh ini barang yang hilang menurut keterangan anak korban yakni gelang emas di tangan korban sama kunci mobil serta dua kunci mobil.

Pihak kepolisian masih melakukan pengejaran terhadap terduga pelaku.

Identitasnya belum dapat diketahui hingga kini.

"Iya masih lidik," tukasnya.Keluarga Ungkap Kejanggalan

Fiandy A Putra (33), anak pertama Ermanto Usman (65) dan kakak Ermanto, Dalsaf Usman mengungkap sejumlah kejanggalan dalam kasus tersebut.

Kejanggalan Pertama 

Keluarga merasa curiga setelah mengetahui kondisi lantai dua rumah dalam keadaan steril. 

Padahal, saat kejadian, adiknya, Dinda Nada Alifah, sedang tertidur di kamar lantai dua. 

"Kemarin sudah dicek dari pihak kepolisian itu steril ya di atas. Adik saya juga kunci pintu setiap tidur," ujar Putra kepada awak media, Selasa (3/3/2026). 

Kejanggalan Kedua

Menurut Putra, sejumlah dokumen penting keluarga tetap utuh dan berada di tempat aman. 

Namun, beberapa barang justru dilaporkan hilang.

"Barang penting yang saya dan keluarga tahu itu tidak diambil oleh pelaku. Walaupun kunci mobil itu diambil, apa fungsinya kalau mobilnya tidak diambil?" katanya. 

Kejanggalan Ketiga

Putra mengatakan saat ditemukan usai kejadian ibunya masih mengenakan kalung.

Sementara informasi mengenai gelang emas yang hilang diperoleh dari adiknya. 

"Waktu saya cek itu ibu saya hanya pakai kalung ya. Gelang emas di tangan itu informasi dari adik saya ada, cuma waktu saya lihat dari video itu nggak ada gelangnya," ujarnya. 

Kejanggalan Keempat

Kakak kandung Ermanto, Dalsaf Usman. mengatakan brankas di rumah korban dalam kondisi aman dan tidak mengalami kerusakan. 

"Justru brankasnya dalam keadaan tidak rusak, dan tidak disentuh. Kemudian juga lemari itu juga masih tersusun rapi. Tapi handphone almarhum dan istrinya hilang atau dibawa oleh pelaku," ujar Dalsaf. 

Kejanggalan Kelima

Ia juga menyebut pintu kamar korban biasanya tidak pernah dikunci saat tidur.

Namun, pada saat kejadian, kunci tersebut justru hilang.

"Dugaannya dikunci oleh pelaku. Saat ini kuncinya hilang. Dan pintu rumahnya juga enggak ada kuncinya semuanya. Dia (pelaku) keluar melalui jendela," kata dia

 (*/TRIBUN-MEDAN.com)

Baca juga: Daftar Libur Nasional dan Cuti Bersama 2026, Termasuk Nyepi dan Idul Fitri, Total 17 Hari Libur

Sumber: tribunnews.com

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.