Gelagat Kapten Miswar Sebelum Dikabarkan Hilang di Selat Hormuz, Sempat Pamit Istri dan Baca Pesan
Musahadah March 10, 2026 08:32 AM

 

SURYA.CO.ID – Terungkap gelagat Kapten Miswar Maturusi sebelum kapal tugboat yang dinakhodai diserang di perairan sekitar Selat Hormuz.

Serangan itu dilancarkan setelah Iran memblokade jalur pelayaran strategis tersebut sebagai respons atas serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Kapten Miswar menjadi satu dari tiga WNI yang dikabarkan hilang setelah serangan itu. 

Istri Kapten Miswar, Marliani Ahmad (47) mengatakan kabar mengenai insiden yang menimpa kapal yang dinakhodai suami, pertama kali diterima keluarga dari rekan kerja Miswar di perusahaan.

Informasi itu disampaikan melalui sambungan telepon kepada anak mereka.

“Anak saya ditelepon teman perusahaan bapaknya. Katanya kapal ayahnya kena rudal,” ujarnya.

Baca juga: Siapa Kapten Miswar? Kapten Kapal yang Hilang di Selat Hormuz, Punya Cita-cita Mulia Setelah Pensiun

Namun hingga kini keluarga belum menerima bukti visual berupa foto atau video terkait kejadian tersebut.

“Belum pernah ada gambar atau video yang kami terima,” tuturnya.

Pihak keluarga juga telah menerima komunikasi dari perwakilan pemerintah Indonesia di luar negeri.

Marliani mengatakan, perwakilan Kedutaan Besar Republik Indonesia telah menghubungi keluarga untuk meminta alamat lengkap rumah Kapten Miswar.

“Sudah ada informasi dari pemerintah dan perusahaan sejak hari Sabtu. Dari KBRI di Oman dan juga perwakilan perusahaan,” imbuhnya.

Di tengah situasi tersebut, para alumni Politeknik Ilmu Pelayaran Makassar tempat Miswar menempuh pendidikan turut bergerak membantu keluarga mencari informasi.

Miswar diketahui merupakan alumni angkatan ke-15 kampus pelayaran tersebut.

“Rencana malam ini kami juga akan melakukan pertemuan Zoom dengan alumni korps PIP. Mereka akan membantu berkomunikasi dengan pihak perusahaan,” ujar Marliani.

Gelagatnya Sebelum Dikabarkan Hilang

Sebelum dikabarkan hilang, pelaut asal Kelurahan Pattedong, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, sempat meminta restu kepada istrinya sebelum berangkat menjalankan tugas pelayaran menuju perairan sekitar Selat Hormuz.

Permintaan restu itu menjadi percakapan terakhir antara Miswar dan Marliani Ahmad. 

“Bapak sempat sampaikan mau berangkat menjemput kapal yang rusak. Saya hanya bilang hati-hati dan semoga sehat-sehat,” kata Marliani dengan suara lirih saat ditemui di rumahnya di Kelurahan Pattedong, Kecamatan Ponrang Selatan, Kabupaten Luwu, Senin (9/3/2026).

Menurut Marliani, suaminya berangkat menjalankan tugas pada Kamis (5/3/2026).

Saat itu, Miswar menyampaikan bahwa perjalanan menuju kapal yang akan dievakuasi diperkirakan memakan waktu sekitar satu hari.

Miswar diketahui bekerja sebagai kapten kapal tugboat di perusahaan pelayaran Abu Dhabi Ports dan telah bekerja selama kurang lebih 10 tahun.

Selama bertugas, Miswar biasanya memandu kapal-kapal besar yang hendak masuk ke pelabuhan di kawasan Abu Dhabi atau menjalankan operasi suplai di wilayah perairan sekitar.

“Biasanya bapak kerja di kapal tugboat, mengarahkan kapal yang mau masuk pelabuhan. Kadang juga kapal suplai. Beberapa kali juga berlayar ke Oman,” ucapnya.

Sumarlin Ahmad, keluarga MIswar mengakui, sebelum dikabarkan hilang, Miswar masih sempat membuka pesan dari anaknya melalui aplikasi percakapan. Namun pesan tersebut tidak sempat dibalas.

"Pesannya sempat dibaca, tetapi tidak sempat dibalas. Setelah itu sudah tidak ada lagi kabar," terangnya.

Keluarga baru mengetahui kabar mengenai insiden tersebut pada Jumat pagi sekitar pukul 10.00 Wita setelah dihubungi oleh rekan korban.

"Informasi awal yang kami terima, kapal yang dinakhodai beliau diduga terkena ranjau laut," ungkapnya.

Dalam kondisi penuh ketidakpastian, Marliani mengaku hanya bisa berharap suaminya tetap selamat.

“Doa dan harapan kami semoga bapak bisa bertahan dalam keadaan apa pun dan kembali dalam keadaan sehat tanpa kekurangan apa pun,” jelasnya.

Ia juga menyampaikan terima kasih atas dukungan dan doa yang terus mengalir dari keluarga, tetangga, dan kerabat.

“Terima kasih atas doa-doa dari keluarga, tetangga, dan teman-teman, baik lewat media sosial maupun yang datang langsung ke rumah,” paparnya.

Mau Pensiun dan Menjadi Dosen

HILANG KONTAK - (kiri) Selat Hormuz berada di antara Oman dan Iran. (kanan) Salah seorang anak Kapten Miswar, Muhammad Hayatullah Miswar memegang ponsel untuk melihat foto orang tuanya. CAPT Miswar Maturusi beralamt di Desa Pattedong, Kecamatan Ponrang Selatan, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, Sabtu (7/3/2026).
HILANG KONTAK - (kiri) Selat Hormuz berada di antara Oman dan Iran. (kanan) Salah seorang anak Kapten Miswar, Muhammad Hayatullah Miswar memegang ponsel untuk melihat foto orang tuanya. CAPT Miswar Maturusi beralamt di Desa Pattedong, Kecamatan Ponrang Selatan, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, Sabtu (7/3/2026). (kolase Tribunnews dan Kompas.com)

Di balik pengabdiannya selama puluhan tahun di dunia pelayaran, Miswar ternyata sedang menyiapkan rencana besar untuk masa depannya.

Ia disebut tengah merancang masa pensiun dengan meninggalkan dunia pelayaran dan beralih ke dunia pendidikan.

Keinginan itu bukan sekadar wacana, tetapi sudah dipersiapkan sejak beberapa waktu terakhir.

Keluarga korban, Sumarlin Ahmad (21), mengatakan Miswar memang telah lama menyampaikan rencana tersebut kepada keluarga.

"Memang rencananya beliau sudah mau pensiun dari dunia pelayaran," kata Sumarlin saat ditemui di kediaman keluarga di Desa Pattedong, Kecamatan Ponrang Selatan, Kabupaten Luwu, Minggu (8/3/2026), dikutip SURYA.co.id dari Kompas.com.

Menurut Sumarlin, keputusan Miswar untuk pensiun bukan tanpa alasan. Setelah puluhan tahun bekerja di laut, ia ingin memasuki fase baru dalam hidupnya dengan berbagi ilmu kepada generasi muda.

Rencana tersebut bahkan sudah mulai dipersiapkan dengan menempuh pendidikan sebagai bekal untuk mengajar.

"Makanya beliau sempat kuliah juga. Rencananya setelah pensiun dan dananya sudah cukup, beliau ingin berhenti berlayar dan fokus mengajar," ucapnya.

Sumarlin menuturkan, Miswar memiliki tekad kuat untuk menyalurkan pengalaman panjangnya di dunia pelayaran melalui jalur pendidikan maritim.

"Beliau ingin jadi dosen atau mengajar-mengajar begitu. Itu rencana yang sering beliau sampaikan kepada keluarga," ujarnya.

Pengalaman yang dimiliki Miswar memang tidak sedikit. Selama lebih dari dua dekade, ia telah meniti karier di sektor pelayaran hingga dipercaya menjadi kapten kapal.

"Beliau sudah sekitar 26 tahun bekerja di dunia pelayaran. Jadi, memang punya pengalaman yang lumayan banyak," tuturnya.

Situasi Mencekam di Selat Hormuz

Dalam sepekan terakhir, sekitar 10 kapal menjadi sasaran serangan di atau sekitar Selat Hormuz, setelah Iran memblokade jalur pelayaran strategis tersebut sebagai respons atas serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Serangan-serangan yang terjadi sejak pecahnya perang pada 28 Februari 2026 itu nyaris melumpuhkan lalu lintas di Selat Hormuz, yang menjadi salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia.

Organisasi Maritim Internasional (IMO) mencatat sembilan serangan terhadap kapal di kawasan selat tersebut dalam kurun satu minggu.

Pada 6 Maret, empat orang tewas setelah kapal Musaffah 2 menjadi sasaran serangan. Namun, Pemerintah Indonesia pada Minggu (8/3/2026) mengumumkan, kapal dengan karakteristik dan posisi terakhir sesuai Mussafah 2 sudah tenggelam dua hari sebelumnya dengan jumlah korban berbeda.

Kementerian Luar Negeri Indonesia melaporkan tiga Anak Buah Kapal (ABK) dari Warga Negara Indonesia hilang; satu WNI selamat, tetapi mengalami luka; serta empat awak lain dari negara berbeda selamat.

Selat Hormuz selama ini dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas alam cair global.

Sebagian sumber: https://regional.kompas.com/read/2026/03/09/225436278/pamit-kapten-miswar-ke-istri-sebelum-kapalnya-diserang-di-selat-hormuz?page=all#page

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.