Iran Tegaskan Tak Mau Damai, Rudal Terberat Disiapkan Hantam Israel dan Aset AS
Amirullah March 10, 2026 12:35 PM

 

SERAMBINEWS.COM – Ketegangan antara Iran dan aliansi Amerika Serikat–Israel terus memanas. Pemerintah Iran kini menegaskan sikap kerasnya: tidak ada ruang untuk perdamaian dalam waktu dekat.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menyatakan negaranya tidak berniat kembali ke meja perundingan setelah rangkaian serangan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran.

Serangan tersebut terjadi pada Sabtu (28/2/2026) dan menghantam sejumlah target di Iran. Ledakan dilaporkan terjadi di Ibu Kota Teheran, memicu eskalasi konflik yang cepat di kawasan Timur Tengah.

Serangan ini disebut sebagai hasil perencanaan bersama antara AS dan Israel yang telah berlangsung selama berbulan-bulan.

Dalam peristiwa tersebut, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan tewas.

Sejak saat itu, Iran terus melancarkan serangan balasan. Targetnya bukan hanya wilayah Israel, tetapi juga sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah, termasuk di Bahrain, Kuwait, dan Arab Saudi.

Serangan balasan itu juga dilaporkan menewaskan sedikitnya dua orang di Israel.

Baca juga: Harga Minyak Dunia Nyaris 120 Dollar AS per Barel, Trump Siap Cabut Sanksi Minyak, Rusia Disorot

Dalam situasi tersebut, Iran menegaskan bahwa pintu damai kini tertutup, kecuali ada jaminan bahwa serangan serupa tidak akan kembali terjadi di masa depan.

"Agresi seperti yang kita saksikan sekarang dan seperti yang kita saksikan pada bulan Juni tidak akan terjadi lagi," kata Kazem, dikutip dari Al Jazeera, Selasa (10/3/2026).

"Jadi, ini adalah syarat utama bagi Iran, dan komentarnya tidak menunjukkan kesediaan Iran untuk kembali ke meja perundingan," tambahnya.

Meski demikian, beberapa negara disebut telah mencoba mendorong upaya gencatan senjata.

Kazem mengungkapkan bahwa China, Prancis, dan Rusia telah menghubungi pihak Iran untuk membicarakan kemungkinan penghentian konflik. Namun ia tidak memberikan rincian lebih lanjut terkait proposal yang diajukan.

Di sisi lain, militer Iran justru meningkatkan intensitas serangan.

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan telah meluncurkan gelombang ke-33 dari Operasi Promise 4 sebagai bagian dari serangan balasan terhadap Israel.

Bahkan, Iran kini mengumumkan rencana penggunaan persenjataan yang lebih berat.

IRGC menyebut ke depannya mereka hanya akan menggunakan rudal dengan bobot satu ton atau lebih untuk menyerang target-target Israel maupun aset lain yang dianggap musuh.

Sinyal perang jangka panjang juga disampaikan oleh Juru Bicara IRGC, Brigadir Jenderal Ali Mohammad Naeini.

Menurutnya, Iran telah bersiap menghadapi konflik berkepanjangan melawan Amerika Serikat dan Israel.

Baca juga: Air Sumur Bor di Huntara Bau dan Berkarat, Nyamuk Mengganas dan Maling Mulai Marak

Ia juga menyebut bahwa militer Iran siap memperkenalkan teknologi persenjataan baru yang belum pernah digunakan sebelumnya dalam konflik tersebut.

"Inisiatif dan senjata baru Iran sedang dalam perjalanan. Teknologi-teknologi ini belum diterapkan secara luas," katanya, dikutip dari Al Jazeera, Jumat (6/3/2026).

Naeini menambahkan bahwa Iran kini berada dalam posisi yang lebih siap dibandingkan konflik sebelumnya, termasuk perang 12 hari yang terjadi tahun lalu antara Iran dengan aliansi AS dan Israel.

Ia bahkan menggambarkan konflik yang sedang berlangsung saat ini sebagai “perang suci dan sah”.

Sikap keras Iran juga disampaikan oleh Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi.

Ia menegaskan negaranya tidak lagi percaya pada Amerika Serikat maupun Israel setelah serangkaian negosiasi yang dinilai tidak membuahkan hasil.

“Kali ini Iran akan membereskan pihak musuh di lapangan perang,” kata Boroujerdi dalam acara doa bersama dan penandatanganan petisi Solidaritas Kemanusiaan di Kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (5/3/2026), dikutip dari Kompas TV.

Baca juga: Cegah Kepadatan di Pabrik Jelang Libur Idulfitri, Petani Diimbau Panen Sawit Paling Lambat 13 Maret

Boroujerdi menjelaskan bahwa Iran sebelumnya telah mencoba menempuh jalur diplomasi, namun serangan militer tetap terjadi.

“Iran sudah tiga kali melakukan negosiasi dan hasilnya iran tetap diserang,” ucap Boroujerdi.

Ia juga menanggapi wacana Presiden Prabowo Subianto yang siap menjadi mediator perdamaian antara Iran dan aliansi AS-Israel.

Namun menurutnya, Iran saat ini tidak ingin membuka ruang negosiasi dalam bentuk apa pun dengan kedua negara tersebut.

Pemerintah Iran menilai Amerika Serikat dan Israel sudah tidak lagi dapat dipercaya dan kini dianggap sebagai musuh dalam konflik yang sedang berlangsung.

Trump Bahas Keputusan Akhiri Perang Bersama Netanyahu

Sementara itu, Trump menyatakan bahwa keputusan untuk mengakhiri perang AS–Israel melawan Iran akan diambil bersama dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.

Dalam wawancara dengan media Israel dan Amerika, Trump menyebut ia terus berkonsultasi dengan Netanyahu, sekaligus mengisyaratkan bahwa pemimpin tertinggi Iran yang baru akan membutuhkan persetujuan Amerika agar dapat bertahan.

Trump mengungkapkan bahwa setiap keputusan untuk mengakhiri kampanye militer AS–Israel terhadap Iran akan dilakukan melalui koordinasi dengan Netanyahu.

alam wawancara telepon dengan The Times of Israel, Trump menjawab “ya” ketika ditanya apakah Netanyahu memiliki peran dalam keputusan mengakhiri perang.

“Saya pikir itu keputusan bersama… sedikit banyak. Kami sudah berbicara. Saya akan membuat keputusan pada waktu yang tepat, tetapi semuanya akan dipertimbangkan,” kata Trump pada Minggu (8/3/2026).

Ketika ditanya mengenai kemungkinan Israel melanjutkan serangan setelah Amerika Serikat menghentikan operasinya, Trump menepis skenario tersebut dengan mengatakan, “Saya tidak pikir itu akan diperlukan.”

Pernyataan itu muncul ketika perkiraan awal Gedung Putih bahwa konflik akan berlangsung empat hingga enam minggu mulai dipertanyakan.

(Tribunnews.com/Rifqah/Glery)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.