Pembantaian Amboyna (Amboyna massacre/Ambonse Moord), ketika 10 pedagang EIC Inggris dan belasan orang lain yang dianggap berkonspirasi, dibantai petinggi VOC di Ambon pada 1623.
---
Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini
---
Intisari-Online.com -Inggris dan Belanda telah memiliki sejarah perseteruan yang panjang. Termasuk salah satunya dalam urusan perdagangan.
Perseteruan itu di antaranya menghasilkan apa yang kelak dikenal sebagai Ambonse Moord (versi Belanda) atau Amboyna Massacre (versi Inggris) atau Pembantaian Amboyna. Ini adalah peristiwa di mana sepuluh pedagang kongsi dagang Inggris EIC beserta belasan orang lainnya yang dianggap terlibat dalam konspirasi dibantai oleh para petinggi VOC karena tuduhan pengkhianatan.
Pada Februari 1605, laksamana VOC Steven van der Hagen menaklukkan benteng Portugis di Ambon dan mengambil alih kepentingan perdagangan di tempat itu. Setelah itu, VOC mendapatkan monopsoni lokal dalam perdagangan rempah-rempah dengan mencegah masuknya negara-negara lain ke wilayah tersebut.
Kondisi itu rupanya mengundang perselisihan dengan Perusahaan Hindia Timur Inggris EIC. Pedagang EIC pernah mencoba melakukan penyusupan dan itu membuat VOC geram bukan kepalang, membuat pemerintahan Kerajaan Belanda ikut campur sehingga mengancam hubungan mereka dengan Raja James I dari Inggris.
Mengutip Historiek dalam sebuah artikel berjudul "De controversiele Ambonse Moord (1623)", pada 23 Februari 1623 ketika seorang tentara bayaran dari Jepang bernama Shichizo, ditangkap oleh majikannya yang berkebangsaan Belanda. Malam sebelumnya, dia terpergok mengajukan pertanyaan mencurigakan tentang pertahanan utama benteng VOC di Amboina atau yang sekarang kita kenal sebagai Ambon.
Shichizo kemudian dihadapkan pada kepada gubernur, Herman van Speult untuk memberikan keterangan tapi dia menyangkal semuanya. Dalihnya, sepanjang malam itu dia berada di kamarnya, tidur di ranjangnya.
Dia juga keukeuh tidak pernah bertanya apa pun tentang benteng. Saat para penjaga benteng dihadapkan kepadanya, Shichizo cuma mengaku bahwa dia memang sempat mengajukan pertanyaan tapi cuma sebatas ingin tahu.
Tapi semakin Shichizo menyangkal, dia semakin dicurigai. Sementara Herman van Speult sebaliknya, Shichizo sedang merencanakan sesuatu dan tak mungkin dia bergerak sendirian. Bagaimanapun juga, panen cengkih dan rempah-rempah lainnya sedang bagus-bagusnya.
Karena Shichizo tak kunjung mau mengaku, Herman pun menempuh cara yang lebih ekstrem: menyiksanya. Siapa tahu dengan begitu, tentara bayaran asal Jepang itu mau membongkar semuanya.
Shichizo pun disiksa dengan alat-alat seadanya, seperti tali, tiang pintu, dan kendi air besar. Lengan dan kakinya kemudian diikat di sebuah tiang, mulutnya disumpal dengan kain yang diikat erat di bagian belakang kepalanya.
Herman kemudian menyuruh salah satu serdadu VOC untuk menyiramkan air ke atas kepala Shichizo, sementar serdadu yang lalu menarik kain penutup mulutnya dari belakang keras-keras. Sontak, air itu memenuhi mulut dan rongga hidung sang tentara bayaran. Itu adalah model interogasi waterboarding.
Karena tak kuasa, Shichizo akhirnya mengaku. Dia ternyata terlibat dalam sebuah konspirasi dengan sekelompok pedagang Inggris dengan tujuan merebut kendali atas benteng dari tangan VOC lalu menguasai pulau yang kaya rempah-rempah itu.
Untuk hasil yang lebih efektif, van Speult kemudian menyerahkan interogasi kepada bawahannya, Isaaq de Bruyn, seorang pengacara fiskal terkemuka di pulau tersebut. Dari pengakuan Shichizo, de Bruyn kemudian menangkap sepuluh tentara bayaran Jepang yang ada di garnisun tersebut.
Tanpa waktu lama, mereka semua mengakui terlibat dalam konspirasi tersebut. Mereka juga mengaku telah dijanjikan imbalan sebesar seribu reais – mata uang Brasil – jumlah yang begitu besar, lebih besar dari penghasilan tahunan mereka.
Tiga hari kemudian, tepatnya pada 26 Februari, de Bruyn mengalihkan perhatian kepada para pedagang EIC di Ambon. Yang pertama adalah Abel Price, orang yang oleh Shichizo disebut sebagai penghubung utama tentara bayaran Jepang dengan para konspirator mereka.
Abel Price, yang juga disiksa dengan metode waterboarding, segera mengakui keterlibatannya. Tak hanya merebut benteng, dia juga punya tujuan lain: membunuh orang-orang Belanda.
Dari penyiksaan-penyiksaan yang dilakukan serdadu VOC akhirnya diketahui bahwa yang memimpin konspirasi itu adalah kapten EIC di Ambon, berusia 49 tahun, bernama Gabriel Towerson.
Lalu pada 8 Maret 1623, para hakim di Ambon berkumpul, mengadakan pengadilan dadakan yang terdiri atas pejabat VOC, pedagang, dan kapten. Pengadilan itu akan menjatuhkan hukuman kepada para konspirator, yang dituduh melakukan pengkhianatan tingkat tinggi (crimen laesae majestatis). Sehari kemudian, 21 orang yang divonis bersalah dibawa ke sebuah lapangan di depan benteng, dipenggal kepalanya satu per satu, dengan pedang.

Memicu kemarahan di Inggris
Masih menurut Historiek, berita pembantaian di Ambon itu akhirnya sampai ke London pada akhir Mei 1624. Kabar itu sontak langsung memicu kemarahan di antara para pemimpin EIC.
Jika orang-orang Inggris muntab, para pendukung VOC di Belanda justru membela. Mereka juga menerbitkan pamflet singkat bertajuk “Waerachtich Verhael vande Tidinghen ghecomen wt de Oost-Indien” yang kira-kira artinya “Kisah Sejati dari Hindia Timur”, yang ditujukan untuk membenarkan tindakan pembantaian di Ambon itu.
Pamflet itu secara garis besar berisi kecaman terhadap “konspirasi mengerikan” dan secara hati-hati membela proses hukum yang dijalankan.
Pamflet itu lalu dibalas dengan laporan dari Inggris yang berjudul “A True Relation of the Unjust, Cruell, and Barbarous Proceedings Against the English at Amboyna in the East-Indies, by the Neatherlandish Governour and Councel There”, yang ditulis berdasarkan laporan beberapa penyintas yang melakukan perjalanan dari Ambon ke London pada tahun berikutnya. Dalam laporan itu disebut bahwa tuduhan konspirasi itu adalah “rekayasa yang menyesatkan”.
Kemarahan terbesar datang dari Raja James I, yang berulang kali mengecam pembunuhan yudisial terhadap rakyatnya itu. “Didorong oleh gelombang retorika anti-Belanda yang semakin meningkat, pengadilan itu disebut sebagai “Amboyna Massacre” (Pembantaian Ambon), sementara di Belanda dikenal sebagai “Ambonse Moord”.
Setelah bertahun-tahun menjadi perdebatan, pada 1627, Staten-Generaal atau Dewan Negara memutuskan membentuk pengadilan khusus untuk menyelidiki tindakan para hakim pada kasus Ambonse Moord. Pembentukan pengadilan khusus itu, kabarnya, muncul di bawah tekanan raja baru Inggris, Charles I, yang mengancam akan menolak akses kapal-kapal Belanda di pelabuhan-pelabuhan Inggris.
Karena terhambat oleh perbedaan pendapat tentang yurisdiksi, penyelidikan itu berlarut-larut hingga 1632. Dan pada akhirnya, para pejabat VOC yang terlibat dalam kasus itu, sebagaimana telah diprediksi, dibebaskan. Putusan itu tentu tidak banyak meredakan kontroversi, tapi justru kembali mencuat setiap kali sentimen anti-Belanda muncul.
Setelah puluhan tahun, pemerintahan Inggris yang ketika itu dipimpin oleh Oliver Cromwell akhirnya mendapatkan pengakuan atas kekejaman yang terjadi di Ambon, setelah Perang Inggris-Belanda Pertama. Kompensasi yang besar dibayarkan kepada kerabat yang masih hidup dari para pedagang yang dieksekusi di Amboyna, tapi para hakim yang terlibat dalam persidangan itu tidak dapat lagi dihukum, karena mereka telah lama meninggal.
Pada 1673, atau 50 tahun setelah eksekusi terhadap Towerson dan rekan-rekannya, John Dryden menulis drama baru: Amboyna, or the Cruelties of the Dutch to the English Merchants: A Tragedy. Karya itu mengutuk kekejaman VOC, menyindir van Speult, dan mengutuk orang-orang kaya baru di Belanda karena telah menjerumuskan rakyat Inggris dalam malapetaka.
Isu itu muncul lagi saat terjadinya Perang Boer Kedua (1899-1902) di mana para penulis Inggris menggunakannya untuk menggambarkan tidak hanya sifat jahat orang Belanda abad ke-17, tapi juga sifat jahat keturunan Afrikaner mereka di Afrika Selatan. Begitulah, perseteruan Inggris dan Belanda memang sudah mengakar sedalam itu.