Program Bahtiar saat Pj Gubernur Sulbar Jadi Sorotan, Kejati Ditantang Lakukan Penyelidikan
Nurhadi Hasbi March 10, 2026 03:47 PM

 

TRIBUN-SULBAR.COM - Program-program yang dijalankan Bahtiar Baharuddin saat menjabat Penjabat (Pj) Gubernur Sulawesi Barat (Sulbar) kini menjadi sorotan.

Hal itu muncul setelah Bahtiar Baharuddin ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi pengadaan bibit nanas senilai Rp60 miliar.

Bahtiar sebelumnya menjabat sebagai Pj Gubernur Sulbar selama sekitar sembilan bulan, terhitung sejak 17 Mei 2024 hingga Februari 2025.

Baca juga: Janji Manis Cavendish Berujung Pahit: Petani Bonehau Mamuju Merugi Akibat Program Bahtiar Baharuddin

Baca juga: PJ Gubernur Sulbar Pemkab Pasangkayu Tanam 2.000 Pisang Cavendish di Desa Ako

Kasus yang menjerat Bahtiar terjadi saat ia menjabat sebagai Pj Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel).

Setelah ditetapkan sebagai tersangka, mantan Direktur Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) itu langsung ditahan oleh Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulsel pada Senin (9/3/2026).

Penetapan tersangka tersebut kemudian memicu perhatian terhadap berbagai program yang pernah dijalankan Bahtiar selama memimpin Sulbar.

Program Cavendish hingga Bibit Nila Disorot

Sejak awal menjabat di Sulbar, Bahtiar memperkenalkan program pengembangan pisang Cavendish, yang sebelumnya juga ia dorong saat menjabat Pj Gubernur Sulsel.

Bahtiar bahkan beberapa kali mengajak pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemerintah Provinsi Sulbar berkunjung ke Sulsel untuk melihat langsung perkebunan pisang Cavendish yang dinilai berhasil.

Ia juga menggelar penanaman serentak 1.000 pohon pisang Cavendish bersama pimpinan OPD dan instansi vertikal, termasuk di area Kantor Gubernur Sulbar.

Pj Gubernur Sulbar Bahtiar bersama sejumlah Forkompida melepas benih Ikan nila di Kali Mamuju pekan lalu
Pj Gubernur Sulbar Bahtiar bersama sejumlah Forkompida melepas benih Ikan nila di Kali Mamuju pekan lalu (Pemprov Sulbar)

Selain itu, Bahtiar menawarkan pengembangan pisang Cavendish kepada petani di Sulbar melalui skema Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Pada Sabtu (8/6/2024), Bahtiar juga menandatangani kerja sama dengan PT Cipta Agri Pratama di Graha Sandeq sebagai offtaker yang akan membeli hasil panen petani.

Perusahaan tersebut disebut akan menyediakan sekitar 2 juta bibit pisang Cavendish yang didatangkan dari Filipina.

Namun dalam perjalanannya, sejumlah petani mengaku kecewa karena hasil panen mereka tidak terserap pasar dan akhirnya membusuk.

Baca juga: Pj Gubernur Sulbar Bachtiar Lepas 25 Ribu Benih Ikan Nila di Mamuju Tengah 

Baca juga: Pj Bahtiar Serahkan Bantuan Bibit Nila, Sukun dan Cavendish ke Pemuda Pelopor Gerakan Pangan Sulbar

Program tersebut diduga menghabiskan anggaran miliaran rupiah dari APBD Sulbar, meski Bahtiar sebelumnya membantah menggunakan dana APBD.

Selain program pisang Cavendish, Bahtiar juga menggagas sejumlah program lain, seperti pengadaan bibit sukun, 2 juta bibit durian, nangka, hingga bibit ikan nila dan kepiting bakau melalui Dinas Kelautan dan Perikanan.

Ribuan bibit sukun ditanam di berbagai lokasi di Sulbar pada masa kepemimpinannya.

Namun hingga kini, manfaat program tersebut dinilai belum jelas.

Penjabat (Pj) Gubernur Sulawesi Barat (Sulbar) Dr Bahtiar tanam ukun di halaman belakang pendopo rujab bupati Majene, Kelurahan Pangali-Ali, Kecamatan Banggae, Kamis 30 Mei 2024.
Penjabat (Pj) Gubernur Sulawesi Barat (Sulbar) Dr Bahtiar tanam ukun di halaman belakang pendopo rujab bupati Majene, Kelurahan Pangali-Ali, Kecamatan Banggae, Kamis 30 Mei 2024. (Anwar Wahab/Tribun-Sulbar.com)

Sementara itu, program pengadaan sekitar 30 ribu bibit ikan nila juga menuai kritik karena tidak dibudidayakan di tambak, melainkan lebih banyak dilepas ke sungai dan bendungan.

Hal serupa terjadi pada ribuan bibit kepiting bakau yang dilepasliarkan di kawasan hutan mangrove.

Sejumlah program tersebut diduga menghabiskan anggaran APBD Sulbar hingga puluhan miliar rupiah.

Salah satu tokoh pemuda Sulbar, Djamhur, mempertanyakan manfaat dari berbagai program tersebut.

“Itu menghabiskan anggaran miliaran. Kita tanyakan sekarang apa manfaatnya, siapa penerimanya. Misalnya sukun hanya ditanam di halaman kantor, sekolah, dan lahan kosong tanpa ada tanggung jawab pemeliharaan,” ujarnya.

Baca juga: Kembangkan Durian di Sulbar, Pj Bahtiar Akan Bagikan 1 Juta Bibit Durian Musangking di 2025

Baca juga: Kembangkan Budidaya Kepiting Bakau di Sulbar Pj Bahtiar Akan Manfaatkan Ekosistem Mangrove 3.324 HA

Ia juga menyoroti mekanisme pengadaan program yang dinilai tidak transparan dan dilakukan secara tiba-tiba.

Menurutnya, beberapa program bahkan tidak tercantum dalam APBD, tetapi tetap dijalankan saat Bahtiar menjabat sebagai Pj Gubernur Sulbar.

“Pertanyaannya kenapa bisa? Ini juga tidak lepas dari bagaimana pengawasan DPRD Sulbar saat itu,” katanya.

Djamhur pun menantang aparat penegak hukum di Sulbar untuk melakukan penyelidikan terkait penggunaan anggaran dalam program-program tersebut.

“Misalnya Kejati Sulbar, lakukanlah penyelidikan. Saya pikir jalannya terbuka karena ini anggaran besar,” pungkasnya.

Keluhan Petani

Seorang petani Hesty Sidaya, di Bonehau, Mamuju, sampaikan kekecewan mendalam, tehadap program pisang Cavendish yang digagas Bahtiar Baharuddin.

Dengan nada kecewa, ia mengungkapkan kerugian besar yang dideritanya.

Lokasinya di Dusun Tambalino, Desa Hinua, Kecamatan Bonehau, Kabupaten Mamuju, Sulbar.

Modal awal yang dikeluarkan tidak sedikit. Mulai dari biaya sewa lahan sebesar Rp15.000.000 hingga pembelian bibit pisang Cavendish yang mencapai Rp15.000 per pohon.

Belum lagi biaya pengolahan lahan dan operasional lainnya yang turut menguras biaya.

Baca juga: Pemprov Sulbar Bagikan Bibit Nangka Madu di Tabang Mamasa, Langsung Diserbu Warga

"Setelah ditanam dan kini sudah berbuah, sayang kenyataannya buah pisang Cavendish ini hanya berserakan di tanah tanpa ada pembeli, buah jatuh-jatuh lepas sendiri dari tandangnya," kata Hesty di beranda akun Facebooknya, Kamis (1/5/2025).

Dia mengaku sangat sedih melihat ratusan pohon pisang cevendish sudah berbuah, namun hanya terbengkelai karena tidak ada pembeli.

"Harusnya punya daya jual, tapi sayang hanya terbengkalai," ucapnya.

Akibatnya, buah pisang yang seharusnya menjadi sumber pendapatan, kini hanya menjadi tumpukan kerugian di lahan pertanian.

"Tidak ada pihak yang bertanggung jawab atas program ini. Kami merasa sangat dirugikan," keluh petani tersebut.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.