TRIBUNTRENDS.COM - Iran memberikan syarat serius bagi negara-negara yang ingin kapal tanker mereka bisa lewat dengan bebas di jalur Selat Hormuz.
Pasukan Elit Iran atau yang biasa disebut Koprs Garda Revolusi Islam (IRGC) merilis pengumuman resmi bakal memberi akses tanpa batas di Selat Hormuz kepada negara yang memenuhi persyaratan.
Secara spesifik, akses diberikan bagi pemerintah yang bersedia mengambil langkah politik tegas, seperti menarik atau mengusir duta besar AS dan Israel dari wilayahnya.
“Negara Arab atau Eropa mana pun yang mengusir duta besar Israel dan AS dari wilayahnya akan diberikan otoritas dan kebebasan penuh untuk melintasi Selat Hormuz,” demikian bunyi pernyataan IRGC yang dikutip media pemerintah Iran.
Syarat itu berlaku untuk semua negara pemilik kapal tanker, tak terkecuali Indonesia.
Namun syarat yang sama tidak diberlakukan Iran kepada China dan Rusia.
Baca juga: Iran Ternyata Belum Perang dengan Kekuatan Penuh, Rudal Terberat Milik IRGC Kini Intai AS-Israel
Sejak awal ketika akses Selat Hormuz dibatasi, China dan Rusia sudah mendapat perlakuan istimewa dari Iran.
IRGC telah lebih dulu memberikan pengecualian khusus bagi kapal berbendera China dan Rusia, yang diperbolehkan melintasi jalur pelayaran strategis tersebut tanpa batasan.
Teheran menyebut langkah ini sebagai strategi diplomatik sekaligus bentuk apresiasi atas dukungan politik dan ekonomi yang konsisten diberikan Beijing dan Moskwa selama konflik dengan Amerika Serikat dan Israel.
Pemerintah Iran menilai bahwa sikap China dan Rusia, yang tetap mendukung Teheran di berbagai forum internasional serta menolak ikut sanksi Barat, menjadi alasan utama pemberian akses khusus bagi kedua negara.
Taktik diplomatis yang dipakai Iran ini membuat Selat Hormuz bukan hanya jalur energi vital, tapi juga alat negosiasi politik.
Iran kini memanfaatkan posisi strategisnya untuk mempengaruhi keputusan diplomatik negara-negara lain, sekaligus menegaskan kekuasaannya atas salah satu titik vital dalam perdagangan energi dunia.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman, menjadi pintu keluar utama ekspor minyak dari kawasan Teluk.
Jalur sempit ini mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak global setiap hari, menjadikannya titik rawan yang sangat diperhatikan oleh pasar energi internasional.
Namun belakangan Pasukan elit Iran, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), mengeluarkan peringatan kepada kapal-kapal komersial agar tidak melintas di Selat Hormuz.
Baca juga: Sinyal Bahaya untuk Teheran! 3 Pesawat Angkut Militer AS Mendarat di Inggris, Tanda Serangan ke Iran
Kontrol ketat diberlakukan sebagai balasan atas serangan yang dilakukan AS dan Israel ke sejumlah wilayah strategis Iran hingga menewaskan pemimpin agung Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Israel berasalasan serangan dilancarkan karena Iran tidak menunjukkan itikad cukup untuk memenuhi tuntutan utama Washington, terutama terkait penghentian total pengayaan uranium.
sebaliknya, Iran tetap bersikukuh bahwa program nuklirnya bertujuan untuk kebutuhan energi sipil dan menolak tuntutan penghentian total sebagai syarat yang berlebihan.
Di tengah meningkatnya konfrontasi militer, Iran mengambil langkah strategis dengan menekan jalur perdagangan energi global.
Pasca peringatan dilontarkan Sejumlah kapal tanker dilaporkan mengalami kerusakan akibat serangan drone dan rudal, sementara ratusan kapal lainnya memilih berhenti berlayar di sekitar kawasan Teluk karena alasan keamanan.
Dalam situasi ini, Goldman Sachs memperkirakan volume perdagangan minyak yang melewati Selat Hormuz saat ini telah turun hingga sekitar 90 persen dibandingkan kondisi normal.
“Kami sekarang juga berpikir kemungkinan harga minyak, terutama untuk produk olahan, akan melebihi puncak tahun 2008 dan 2022 jika Selat Hormuz tetap tertekan sepanjang bulan Maret,” tulis Goldman Sachs dalam catatan risetnya, sebagaimana dikutip dari The Standard.
Penurunan stok tersebut kemungkinan juga akan diperparah oleh turunnya produksi minyak di kawasan Timur Tengah selama periode konflik berlangsung.
Jika kondisi ini terjadi secara bersamaan, keseimbangan antara pasokan dan permintaan minyak global akan terganggu secara signifikan.
Akibatnya, harga minyak dapat melonjak dalam waktu relatif singkat karena pasar menghadapi kekurangan suplai.
Situasi ini membuat pasar energi global kini berada dalam kondisi siaga tinggi, sementara para pelaku industri dan pemerintah di berbagai negara mulai bersiap menghadapi kemungkinan lonjakan harga energi dalam waktu dekat. (Tribun Trends/Tribunnews/Namira)