Cara Nelayan Ridwan Bertahan Hidup di Laut Selama 7 Hari setelah Terbawa Arus, Cuma Bawa Beras 1 Kg
Ani Susanti March 10, 2026 07:14 PM

TRIBUNJATIM.COM - Inilah kisah nelayan yang bertahan hidup di laut selama 7 hari.

Kapal nelayan bernama Ridwan itu terbawa ke perairan Sulawesi Barat (Sulbar).

Sementara pria berusia 71 tahun tersebut berasal Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan (Kalsel).

Ia sempat dilaporkan hilang saat melaut seorang diri pada 24 Februari 2026 lalu di perairan Pulau Sebuku, Kotabaru.

Baca juga: Awal Mula Nelayan Bangkalan Hilang Selama 4 Hari, Kendarai Perahu Kayu untuk Cari Ikan di Laut

Tak kunjung kembali ke rumah, pihak keluarga mulai khawatir dan melaporkan hilangnya Ridwan ke Kantor Basarnas Banjarmasin.

Pencarian sempat dilakukan oleh tim Basarnas di sekitar Pulau Sebuku namun tak membuahkan hasil.

Selama sepekan pencarian, kabar ditemukannya Ridwan tiba-tiba datang dari Desa Pamboang, Kecamatan Pamboang, Sulbar.

Ridwan lalu ditemukan oleh nelayan setempat dalam kondisi lemas pada Minggu (1/3/2026) setelah bertahan hidup di atas perahu miliknya selama sepekan.

Saat ini, Ia sudah kembali ke Kotabaru.

Mesin Kapal Tak Mau Hidup saat Hendak Pulang

Ridwan bercerita, peristiwa itu berawal setelah dirinya menangkap ikan di perairan Sebuku.

Saat itu, ia berniat kembali ke rumah.

Namun, mesin kapal miliknya tak bisa dihidupkan.

"Waktu itu sudah mau kembali pulang, tapi mesin tidak mau hidup sama sekali," ujar Ridwan dalam keterangannya yang diterima, Selasa (10/3/2026), melansir dari Kompas.com.

Dalam kondisi tersebut, Ridwan hanya bisa pasrah dan berharap ada nelayan yang bisa melihatnya dan memberikan pertolongan.

Bantuan yang diharapkan tak kunjung datang hingga Ridwan tak sadar ia telah terbawa arus laut sampai ke perairan Sulawesi Barat.

Selama di atas kapal, Ridwan hanya bisa mengonsumsi ikan hasil tangkapan dan dimakan seadanya.

Sementara beras yang ia bawa sudah menipis.

"Tak ada rasa takut sama sekali. Cuma memang persediaan beras saya sedikit karena bawanya hanya sekilo," tuturnya.

Sebagai nelayan yang sudah sepuh, Ridwan paham betul mengendalikan perahunya yang hanyut tak tentu arah.

Sesekali, gelombang menghantam sampai membuat perahunya miring.

"Cuaca memang kurang baik, gelombangnya tinggi," ungkapnya.

Agar tak dehidrasi, Ridwan menadah air hujan untuk minum dan membuat bubur dari persediaan berasnya yang tersisa.

"Alhamdulillah tak sampai benar-benar kelaparan karena bikin bubur sedikit demi sedikit dari beras sekilo itu tadi," jelasnya.

Baca juga: Misteri Hilangnya Nelayan Bangkalan saat Melaut Terkuak, Ditemukan Tak Bernyawa di Pantai Sampang

Setelah 5 hari bertahan hidup di laut dengan persediaan yang ada, Ridwan akhirnya bertemu dengan nelayan asal Makassar.

Oleh nelayan tersebut, Ridwan diberi bekal dan disuruh menunggu di sebuah pulau.

Namun, hal itu ditolak oleh Ridwan sebab ia ingin segera ke daratan.

"Mereka baik juga itu nelayan Makassar memberikan saya bekal, sayangnya mereka masih lama di laut mencari ikan. Masih 12 hari lagi. Saya tak bisa selama itu," tambahnya.

Ridwan akhirnya memutuskan berpisah dengan nelayan asal Makassar.

Memasuki hari ketujuh, Ridwan bertemu dengan nelayan lainnya.

Karena kasihan dengan kondisinya, nelayan tersebut akhirnya memutuskan menarik kapal Ridwan hingga ke Pelabuhan Palipi, Kabupaten Majene, Sulbar.

"Jadi total 7 hari saya di laut mulai dari awal sampai diselamatkan ke Palipi," tuturnya.

Baca juga: Perserteruan 2 Kelompok Nelayan di Pasuruan Akhirnya Damai, sempat Tegang Perahu Dibakar

Ridwan sempat tinggal sementara di Desa Pamboang untuk memulihkan kondisinya sebelum diberangkatkan ke Kotabaru, Kalsel.

Ia pun kini telah berkumpul bersama keluarganya di Kotabaru.

"Alhamdulillah saya sekarang bisa berkumpul dengan keluarga. Terima kasih kepada semua yang telah membantu saya," ujarnya.

Berita Lain

Terungkap nasib nelayan bernam Suparman, yang sempat terombang-ambing di atas perahunya.

Nelayan asal Dusun Paddegan, Desa Tanjung Kamal, Kecamatan Mangaran, sempat dikabarkan hilang kontak saat melaut, Selasa (24/02/2026).

Suparman saat itu berangkat melaut menggunakan perahunya sendiri.

Ia menuju spot mancing se Beto.

Namun, saat akan pulang, mesin perahunya tiba-tiba trouble, sehingga perahunya terombang-ambing di tengah laut.

Untungnya, nelayan berusia 74 tahun ini pulang dengan selamat setelah perahunya yang dinaikinya berhasil kembali ke pantai di desanya.

Kasat Pol Airud Polres Situbondo, AKP Gede Sukarmadiyasa, membenarkan adanya laporan nelayan yang belum pulang saat melaut.

"Iya benar, tapi nelayan itu sudah pulang," ujarnya.

Mantan Kapolsek Asembagus ini menjelaskan, sekitar pukul 04.00 WIB, nelayan itu berangkat melaut sendirian menggunakan perahunya ke spot mancingnya yang berjarak sekitar 12 mil dari pesisir pantai Dusun Paddegan, Desa Tanjung Kamal.

"Karena nelayan itu belum pulang sekitar pukul 19.45 WIB, keluarganya melapor ke Polsek Mangaran," katanya.

Berdasarkan laporan itu, kata AKP Gede, pihaknya mendatangi lokasi untuk mengumpulkan informasi awal belum pulangnya nelayan tersebut.

"Dari informasi awal, ada nelayan yang melihatnya sedang menambatkan perahunya di perairan Gelung, Kecamatan Panarukan," jelasnya.

Dikatakan, nelayan itu terlambat pulang karena mesin perahunya mengalami trouble.

"Alhamdulillah nelayan ini berhasil pulang setelah perahunya menggunakan layar," pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.