Kembali ke Fitrah
Briandena Silvania Sestiani March 10, 2026 08:07 PM

Oleh: Menteri Agama, Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA

KENAPA sering disebut Hari Raya Idul Fitri kembali ke fitrah?

Sebetulnya tidak salah juga karena pasca Ramadhan seusai melakukan berbagai amaliah Ramadhan, Tuhan akan membersihkan diri seseorang dari berbagai dosa yang telah dilakukan di masa lampau, sehingga pada saatnya Dia mengembalikannya ke sebuah dunia baru, yang tak lain adalah dunia fithri, yang pernah dilewati manusia di masa kecilnya.

Dalam Kamus Lisan 'Arab, kamus bahasa Arab terlengkap (15 jilid), fitrah (fithrah) berasal dari akar kata fathara-fathran, berarti membelah, merobek, tumbuh, dan berbuka.

Dari akar kata yang sama lahir kata fithrah berarti sifat pembawaan sejak lahir, seperti dalam ayat: Fithrah Allah al-ladzi fathara al-nasa 'alaiha (Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu, sebagaimana dijelaskan dalam ayat: Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Q.S. al-Rum/30:30).

Kata Idul Fitri ('id al-fithr) berarti kembali berbuka setelah sebulan penuh berpuasa di siang hari bulan Ramadhan.

Bisa juga berarti 'id al-fthrah, kembali ke sifat bawaan kita sejak lahir, yaitu bersih dan suci, setelah sebulan penuh ditempa berbagai alamalan Ramadhan.

Baca juga: Hakikat Silaturrahim

Dari pengertian ini dipahami bahwa yang bisa kembali ke fitrah ialah mereka yang telah melakukan berbagai macam upaya pembersihan dan penyucian diri melalui amaliah Ramadhan, seperti puasa, zakat, qiyamullail, i'tikaf, dan berbagai amal sosial seperti shadaqah, silaturrahim, memberi buka puasa, dan lain sebagainya. 

Idul Fitri bisa dimaknai kita mudik ke kampung halaman biologis kita.

Kita kembali makan dan minum serta berhubungan suami istri.

Kita juga mudik ke kampung halaman tempat kelahiran kita, tempat di mana orangtua kita dimakamkan, tempat di mana kita pernah belajar pertama kali mengaji dan mengenal huruf, lalu kita merantau ke kota. 

Sedangkan Idul Fitrah bisa dimaknai kita kembali ke jati diri kita yang paling orisinal dan genuine.

Kita kembali kepada keluhuran hati nurani, kembali ke dalam suasana batin paling luhur dan lurus.

Setelah sebulan penuh kita ditraining secara spiritual, maka sekarang kita memiliki energi spiritual baru.

Semoga energi baru ini mampu memproteksi kita terhadap berbagai godaan iblis, seperti kembali mengoleksi dosa-dosa langganan, kembali ringan tangan, dan bermulut tajam.

Baca juga: Futuwwah, Jalan Dermawan Sejati menurut Prof Nasaruddin Umar

Kita berharap selama sebulan penuh kita melakukan amaliah Ramadhan menimbulkan dampak positif pada orang-orang terdekat kita.

Bagaimana pembantu, supir, tukang kebun, satpam, dan karyawan kita merasakan perubahan di dalam diri kita, misalnya mereka merasakan tuan dan nyonyanya tidak lagi gampang marah, tidak lagi pelit, tidak lagi ringan tangan, tidak lagi kasar, dan tidak lagi sombong dan angkuh. Tetangga juga merasakan adanya perubahan drastis seusai Ramadhan. Demikian pula suasana batin di kantornya muncul perubahan drastis pasca Ramadhan.

Inilah sesungguhnya yang dinamakan Ramadhan Mubarak dan Ramadhan mabrur.

Dalam pandangan tasawuf, fitrah berarti kembali ke jati diri yang paling asli.

Jika seseorang betul-betul bersih dan pensucian dirinya diterima Allah Swt, maka yang bersangkutan bisa membuka berbagai tabir yang selama ini menghijab dirinya berupa dosa dan maksiat.

Ia akan mengalami penyingkapan (mukasyafah).

Dengan demikian ia mempunyai kemampuan untuk mengakses alam gaib, minimal alam barzah, yaitu perbatasan antara alam syahadah dan alam gaib.

Orang yang diberi kesadaran mukasyafah bisa merasakan kedekatan diri dengan Tuhan dan para sahabat Tuhan seperti Nabi Muhammad dan shalihin lainnya.

Ia akan memiliki sahabat-sahabat spiritual sejati, sehingga ia tidak pernah merasa kesepian.

Ia selalu hangat dengan cinta Tuhan.  

Semoga tahun ini kita betul-betul diberi kesadaran dan keinsafan penuh, sehingga kita bisa mencicipi mukasyafah.

Semoga kita tidak jatuh lagi di lumpur dosa dan maksiat. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.