Permintaan selama Ramadan Dongkrak Harga Pangan, Inflasi Berpotensi Naik
Muhamad Syarif Abdussalam March 10, 2026 08:11 PM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG – Kurang dari dua pekan menjelang Idulfitri 1447 Hijriah, harga sejumlah komoditas pangan masih menunjukkan tren tinggi. Kondisi ini terjadi di tengah daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih, sehingga membuat pengeluaran rumah tangga untuk kebutuhan sehari-hari semakin terasa berat.

Hal tersebut disampaikan oleh Pengurus Pusat Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi), Khudori. Khudori mengatakan, Ramadan hampir selalu diiringi kenaikan harga pangan. Hal itu dipicu meningkatnya permintaan masyarakat selama bulan puasa, terutama untuk kebutuhan berbuka dan sahur yang biasanya lebih beragam dibanding hari biasa.

“Permintaan pangan naik selama Ramadan, sementara pasokan tidak selalu bisa langsung mengikuti. Kondisi ini yang sering memicu kenaikan harga,” ujarnya, Selasa (10/3/2026).

Ia menjelaskan, tradisi berbuka puasa dengan menu yang lebih bervariasi membuat konsumsi sejumlah bahan pangan meningkat.

"Makanan yang biasanya jarang disajikan dalam keseharian kerap hadir di meja makan saat Ramadan. Situasi tersebut mendorong kenaikan permintaan berbagai komoditas pangan," tuturnya.

Khudori menjelaskan, data inflasi Ramadan dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan pola yang hampir serupa.

"Pada Ramadan 2016 hingga 2019 inflasi masing-masing tercatat sebesar 0,66 persen, 0,69 persen, 0,59 persen, dan 0,68 persen," imbuhnya.

Sementara pada Ramadan 2020 hingga 2023 inflasi berada pada angka 0,08 persen pada 2020, 0,13 persen pada 2021, 0,95 persen pada 2022, dan 0,33 persen pada 2023. Adapun pada Ramadan 2024 dan 2025 yang berlangsung pada Maret, inflasi tercatat sebesar 0,52 persen dan 1,65 persen.

"Dalam catatan satu dekade sebelumnya, yakni 2005 hingga 2015, inflasi saat Ramadan bahkan tidak pernah berada di bawah 0,7 persen," tuturnya. Dikatakan Khudori, pada 2005 inflasi Ramadan tercatat mencapai 8,7 persen, yang menjadi salah satu angka tertinggi dalam periode tersebut.

Ia menilai kenaikan inflasi saat Ramadan sebagian besar dipicu oleh kelompok bahan pangan yang harganya mudah bergejolak atau volatile food.

"Beberapa komoditas yang sering menjadi penyumbang inflasi antara lain daging ayam ras, telur ayam ras, beras, minyak goreng, cabai rawit, bawang putih, gula konsumsi, serta ikan segar," kata Khudori.

Menururnya, pada awal Ramadan tahun ini, tekanan harga sudah mulai terlihat. Dalam sepuluh hari pertama puasa pada Februari 2026, inflasi tercatat mencapai 0,68 persen.

"Komoditas yang memberikan kontribusi terbesar antara lain daging ayam ras, cabai rawit, cabai merah, ikan segar, dan tomat," ucapnya. Ia memperkirakan tekanan harga masih akan berlanjut pada Maret.

Berdasarkan data Sistem Pemantauan Pasar Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan, harga sejumlah komoditas seperti gula, bawang merah, telur, daging ayam, minyak goreng MinyaKita, cabai rawit, serta beras medium dan premium masih berada di atas harga acuan maupun harga eceran tertinggi.

Menurut Khudori, dalam jangka pendek pemerintah masih dapat melakukan sejumlah langkah untuk menahan kenaikan harga.

"Untuk komoditas yang sebagian besar berasal dari impor seperti bawang putih, pemerintah perlu memastikan barang segera masuk ke pasar dan tidak tertahan di gudang importir," ucapnya.

Selain itu, distribusi pangan dari daerah produksi ke wilayah konsumsi juga harus dipastikan berjalan lancar. Ia menilai sistem logistik dan transportasi yang baik akan membantu menjaga ketersediaan pasokan di pasar.

“Jika ada kendala distribusi harus segera diselesaikan. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan BUMN pangan perlu bekerja sama agar pasokan tetap terjaga dan harga stabil,” katanya.

Selain menjaga distribusi, pemerintah juga dinilai perlu terus menggelar bazar pangan murah maupun gerakan pangan murah. "Program tersebut dinilai dapat membantu masyarakat mendapatkan bahan pangan dengan harga yang lebih terjangkau," kata dia.

Khudori juga menyoroti peran badan usaha milik negara di sektor pangan. Perum Bulog, misalnya, diharapkan terus mengoptimalkan operasi pasar melalui program stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP) untuk beras, serta distribusi minyak goreng MinyaKita.

"Penjualan beras SPHP yang selama ini berada di kisaran 4.000 hingga 5.000 ton per hari. Perlu dievaluasi agar dampaknya lebih terasa di pasar. Begitu pula dengan harga MinyaKita yang masih berada di atas harga eceran tertinggi sebesar Rp15.700 per liter," jelasnya.

Selain itu, ketersediaan daging juga perlu mendapat perhatian. PT Berdikari sebagai bagian dari holding pangan ID FOOD diharapkan mampu memastikan pasokan daging sapi dan kerbau tetap cukup dengan harga yang sesuai ketentuan.

"Saat ini harga daging sapi masih berada di kisaran harga acuan, yakni sekitar Rp130 ribu hingga Rp140 ribu per kilogram," tuturnya.

Kendati demikian, harga daging kerbau dilaporkan masih jauh di atas harga acuan. Khudori menambahkan, stabilitas harga pangan selama Ramadan hingga menjelang Lebaran menjadi tantangan yang hampir selalu berulang setiap tahun. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.