Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Berdiri megah di kawasan timur Kota Bandung, Masjid Raya Al Jabbar tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga ikon arsitektur yang sarat makna.
Desain masjid ini memadukan unsur spiritual, filosofi Islam, hingga konsep matematika yang unik, menjadikannya salah satu landmark religi paling menonjol di Jawa Barat.
Ketua Umum Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Raya Al-Jabbar, Dr. K.H. Tata Sukayat, M.Ag., menjelaskan bahwa nama Al-Jabbar sendiri memiliki makna yang sangat dalam.
Baca juga: Semarak Ramadan, Masjid Al Jabbar Bandung Siapkan Ribuan Takjil untuk Jemaah, Tak Dibatasi
Menurutnya, setidaknya ada tiga filosofi yang melatarbelakangi penamaan masjid tersebut.
“Pertama, Al-Jabbar adalah salah satu dari Asmaul Husna, nama-nama Allah yang indah, yang berarti Maha Perkasa. Kedua, Al-Jabbar juga menjadi akronim dari Jawa Barat karena masjid ini berada di provinsi tersebut. Ketiga, desain arsitekturnya terinspirasi dari konsep matematika aljabar,” ujar Tata, Selasa (10/3/2026).
Tata menjelaskan konsep matematika itu diterjemahkan langsung dalam rancangan bangunan.
“Masjid ini berdiri di atas lahan sekitar 26 hektare dengan ukuran bangunan utama 99 meter kali 99 meter. Angka tersebut bukan dipilih secara sembarangan, melainkan melambangkan 99 Asmaul Husna atau nama-nama Allah dalam Islam. Simbolisme angka 99 juga tercermin pada bagian kubah masjid,” tutur Tata.
Struktur kubah dirancang dengan pola geometris yang merepresentasikan konsep matematis sekaligus spiritual, sehingga menghadirkan kesan modern namun tetap sarat nilai religius.
Ia menjelaskan secara teoritis, masjid ini mampu menampung sekitar 60 ribu jamaah dalam satu waktu.
Jika area pelataran dan kawasan luar turut digunakan, kapasitasnya bahkan dapat mencapai 70 hingga 80 ribu orang dalam satu kegiatan besar.
Baca juga: Para Bobotoh Sempatkan Salat Tarawih di Masjid Al Jabbar Sebelum Merapat ke GBLA
Besarnya kapasitas tersebut menjadikan Masjid Raya Al Jabbar bukan hanya sebagai tempat salat, tetapi juga pusat kegiatan keagamaan skala besar bagi masyarakat Jawa Barat.
Menurut Tata, kemegahan arsitektur memang menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang berkunjung. Namun bagi pengelola masjid, kemegahan bangunan bukanlah tujuan utama.
“Banyak orang datang karena tertarik dengan desain arsitektur dan fasilitas yang ada. Tetapi obsesi kami bukan hanya kemegahan masjid ini. Yang paling penting adalah bagaimana jamaah bisa beribadah dengan nyaman,” katanya.
Untuk memastikan kenyamanan tersebut, pengelolaan masjid dilakukan melalui tiga aspek utama, yaitu idaroh, imaroh, dan riayah.
Idaroh berkaitan dengan manajemen organisasi, imaroh berfokus pada kegiatan pemakmuran masjid, sementara riayah menyangkut pemeliharaan fasilitas dan lingkungan.
Sistem pengelolaan ini diterapkan agar setiap pengunjung yang datang, baik untuk beribadah maupun wisata religi, dapat merasakan suasana yang tertib dan nyaman.
Pengelola juga menyiapkan berbagai fasilitas pendukung, mulai dari sistem pendingin ruangan, pencahayaan, hingga tata suara yang ditangani oleh tim teknis khusus.
Selain itu, kata Tata, petugas keamanan dan kebersihan juga disiagakan untuk menjaga ketertiban dan kenyamanan di seluruh area masjid.
Tantangan terbesar dalam pengelolaan kawasan yang luas ini justru berkaitan dengan kesadaran pengunjung dalam menjaga kebersihan. Meski tempat sampah telah disediakan di berbagai titik, masih ada pengunjung yang belum disiplin membuang sampah pada tempatnya.
“Kami sudah menyiapkan tempat sampah hampir setiap dua meter, juga ada petugas kebersihan di dalam dan di luar area masjid. Tetapi kesadaran bersama tetap sangat penting,” ujar Tata.
Baca juga: Cahaya Ramadan di Balik Megahnya Masjid Raya Al Jabbar pada Tarawih Malam Pertama
Ke depan, pengelola bahkan berencana mengembangkan teknologi pengolahan sampah di area masjid.
Rencana ini tengah dijajaki melalui kerja sama dengan perguruan tinggi, khususnya fakultas teknik yang memiliki teknologi pengolahan limbah.
Selain pengolahan sampah, sistem daur ulang air wudu juga tengah dikembangkan.
“Air yang digunakan untuk berwudu nantinya diharapkan dapat diolah kembali sehingga menjadi air yang layak digunakan kembali,” ucapnya.
Masjid Raya Al Jabbar juga memiliki galeri edukasi yang dapat dikunjungi masyarakat.
Di dalamnya, pengunjung dapat mempelajari sejarah perkembangan Islam, mulai dari masa pra-Islam, masa Nabi Muhammad SAW dan para sahabat, hingga perkembangan Islam di Nusantara dan Jawa Barat.
Fasilitas ini menjadi sarana edukasi yang menarik, terutama bagi pelajar dan komunitas majelis taklim yang ingin memperdalam pemahaman sejarah Islam.
Di era digital, pengelolaan masjid juga memanfaatkan teknologi informasi.
Baca juga: Masjid Al Jabbar Rebranding Jadi Al Jabbar Istimewa, Buka 24 Jam Mulai 1 Januari 2026
Publikasi kegiatan dilakukan melalui media sosial serta berbagai kanal komunikasi digital agar informasi dapat menjangkau masyarakat lebih luas.
“Masjid ini lahir di era teknologi tinggi, kami ingin siarnya tidak hanya terbatas pada lingkungan sekitar, tetapi bisa menjangkau dunia,” kata Tata.