Keraton Kulon Peninggalan PB X Tak Terawat Itu Ternyata Punya Makna Penting
GH News March 10, 2026 09:10 PM
Solo -

Keraton Kulon di kompleks Keraton Solo yang tidak dan ditumbuhi ilalang itu ternyata memiliki maka penting. Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Solo, GRAy Wandansari (Gusti Moeng), membeberkan sejarahnya.

Kondisi Keraton Kulon yang tidak terawat itu akhirnya dibersihkan oleh tim yang dipimpin Pelaksana Pelindungan, Pengembangan, dan Pemanfaatan Kawasan Cagar Budaya Keraton Kasunanan Surakarta, KGPH Panembahan Agung Tedjowulan bersama LDA. Terungkap, bangunan yang didirikan Paku Buwono (PB) X sekitar tahun 1932-1933 ini punya tujuan spiritual dan fungsional mendalam.

"Ini didirikan oleh Sinuhun PB X tahun 1933. Istilahnya untuk nyarati (syarat ritual) supaya Keraton ini tidak pindah-pindah daerah lagi," ujar Ketua LDA Keraton Solo, GRAy Wandansari (Gusti Moeng), saat menjelaskan sejarah bangunan tersebut di Keraton Kulon, Selasa (10/3/2026).

Gusti Moeng mengatakan Keraton Kulon tak terlepas berdasarkan sejarah perpindahan Keraton Solo dari Kotagede, Pleret, Kartasura, hingga ke Surakarta. Bahkan, dulu sempat diiringi ramalan bahwa keraton hanya akan bertahan selama 200 tahun.

"Untuk mematahkan ramalan tersebut, PB X memutuskan membangun keraton baru di sisi barat sebagai simbol kelanggengan," kata dia.

Gusti Moeng menjelaskan bahwa bangunan utama Keraton Kulon ini dulunya berfungsi sebagai tempat tinggal utama PB X setelah selesai dibangun. Kawasan ini merupakan kompleks yang terintegrasi, mencakup taman, area penjagaan atau pejagen, hingga kantor administrasi.

"Dulu di sini ada kompleks semacam Departemen Keuangan, ada taman, dan jalan yang tembus sampai pintu utara SD Pamardi Putri," ujar dia.

"Di dalam bangunan tersebut tersimpan memori pribadi keluarga kerajaan, termasuk kamar pribadi PB X, kamar Eyang Ratu Mas, dan kamar Eyang Ratu Bayun. PB X sendiri tercatat menempati bangunan ini selama kurang lebih enam tahun sebelum wafat pada 1939," dia menambahkan.

Di depan bangunan utama terdapat bunker perlindungan. Sayangnya, bunker tersebut kini tertutup dengan semak-semak. Gusti Moeng mengatakan pintu bunker tersebut masih ada dan dulunya disiapkan untuk menghadapi situasi darurat.

"Memang untuk perlindungan Sinuhun. Dulu kan untuk menghadapi Perang Dunia Kedua. Ya mungkin nanti bisa difungsikan lagi kalau ada Perang Dunia Ketiga," ujar dia.

Dia mengatakan bunker tersebut sempat terisi air hingga menyerupai kolam karena keran yang terbuka pada masa PB XIII, bahkan sempat digunakan untuk memelihara ikan. Namun, pihaknya berencana untuk mengeringkan dan memperbaiki kembali fasilitas tersebut.

"Jadi di dalam itu ada kamar-kamar, terus ada kamar mandinya toh. Nah itu dulu sama Sinuhun 13 itu dibuka kerannya sehingga penuh dengan air, terus dipakai untuk dikasih ikan gitu," kata dia.

Meski sempat diperbaiki besar-besaran pada tahun 1982, kondisi bangunan kini tampak tidak terawat dan ditumbuhi semak belukar. Ia menyebut kondisi ini terjadi sejak adanya konflik internal yang membuat para kerabat harus keluar dari area tersebut pada tahun 2017.

"(Tak terawat sejak kapan?) Tahun 2017 itu kita harus keluar, ya sudah tidak ada yang mengurusi lagi. Sekarang pohon-pohon lamtoro sudah tinggi, semak-semak tidak ada yang membersihkan," kata dia.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.