- Malam semakin larut di Kota Solo.
Jalanan mulai lengang, dan sebagian besar warga telah kembali ke rumah masing-masing.
Namun, suasana berbeda justru terasa di lingkungan Keraton Surakarta Hadiningrat.
Di tengah heningnya malam, cahaya lampion satu per satu mulai menyala.
Kilau temaramnya memantul lembut di halaman keraton, menandai dimulainya sebuah tradisi yang telah diwariskan turun-temurun: Malam Selikuran.
Langkah para abdi dalem berjalan perlahan dan teratur.
Mereka mengenakan busana adat keraton, membawa lampion serta Tumpeng Sewu dalam sebuah kirab sakral yang bergerak dari Keraton Surakarta Hadiningrat menuju Taman Sriwedari.
Di sepanjang perjalanan, suasana terasa khidmat.
Doa-doa dipanjatkan, menghadirkan nuansa religius yang begitu kuat di penghujung Bulan Ramadhan.
Tradisi ini dikenal sebagai Malam Selikuran.
Istilah “selikuran” berasal dari bahasa Jawa, yaitu selikur yang berarti dua puluh satu.
Nama tersebut merujuk pada malam ke-21 Ramadhan, yang menjadi awal dari malam-malam ganjil pada sepuluh hari terakhir Bulan Suci.
Dalam ajaran Islam, malam-malam ganjil di penghujung Ramadhan diyakini sebagai waktu turunnya Lailatul Qadar, malam yang disebut lebih mulia dari seribu bulan.
Pada masa awal Islam, Rasulullah SAW juga memulai melakukan iktikaf pada periode ini sebagai bentuk upaya meningkatkan ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Jejak tradisi Malam Selikuran dipercaya telah ada sejak masa Wali Songo.
Para ulama tersebut menggunakan pendekatan budaya sebagai metode dakwah, memadukan nilai-nilai Islam dengan tradisi masyarakat Jawa agar ajaran agama lebih mudah diterima.
Dalam sejarah Keraton Surakarta, tradisi ini diperkenalkan oleh Sultan Agung.
Seiring perjalanan waktu, Malam Selikuran sempat mengalami pasang surut sebelum kembali dihidupkan pada masa Pakubuwono IX.
Tradisi ini kemudian mencapai puncak kemeriahannya pada era pemerintahan Pakubuwono X.
Hal tersebut juga disampaikan oleh Kerabat Keraton Kasunanan KGPH Dipokusumo.
"Peringatan Malam Selikuran ini dalam rangka syiar Agama Islam yang dilandasi oleh ajaran Kanjeng Sunan Kalijaga dan Sinuhun Sultan Agung Prabu Anyakrakusuma," ujarnya pada Senin (9/3/2026) malam saat ditemui di Taman Sriwedari Surakarta.
Pada masa itu, kirab tumpeng dari keraton menuju masjid berlangsung meriah dengan iringan lampu ting atau pelita. Cahaya pelita tersebut memiliki makna simbolis.
Ia melambangkan obor yang konon dibawa para sahabat Nabi Muhammad SAW ketika menjemput beliau setelah menerima wahyu di Jabal Nur.
Kirab Malam Selikuran tidak sekadar menjadi iring-iringan tradisi keraton.
Di dalamnya terdapat pula hajad dalem berupa Tumpeng Sewu yang dibawa dalam prosesi tersebut.
Tumpeng Sewu merupakan simbol dari malam seribu bulan, merujuk pada kemuliaan Lailatul Qadar dalam ajaran Islam.
Setelah kirab berakhir, tumpeng-tumpeng itu kemudian dibagikan kepada masyarakat yang hadir di Taman Sriwedari.
Warga yang datang dari berbagai penjuru kota berkumpul, berharap memperoleh berkah dari tradisi tersebut.
Bagi masyarakat Solo, Malam Selikuran bukan sekadar perayaan budaya tahunan.
Tradisi ini menjadi pengingat untuk memperbanyak ibadah pada sepuluh malam terakhir Ramadhan.
Ia juga menjadi momentum untuk melakukan introspeksi diri, memperbanyak sedekah, dan mempererat rasa kebersamaan di tengah keberagaman.
Perpaduan antara budaya Jawa dan nilai-nilai Islam yang tercermin dalam Malam Selikuran menjadikannya sebagai warisan tradisi yang sarat makna.
Hingga kini, cahaya lampion yang berarak di malam ke-21 Ramadhan itu tetap menjadi simbol harmonisasi adat dan agama yang terus lestari di Kota Solo.(TribunSolo.com/Tribun-Video.com)(*)
Program: Ngabuburit Asyik
Editor: Akmal Khoirul Habib
#Ngabuburit #ngabuburitasyik #MalamSelikuran #SelikuranSolo #KeratonSurakarta #KeratonSolo #TradisiSolo #BudayaJawa #RamadhanSolo #RamadhanTradition #TumpengSewu #KirabSelikuran #KeratonSolo #keratonsurakarta #malamlailatulqadar #lailatulqadar