Laporan Kontributor TribunPriangan.com Sumedang Kiki Andriana
TRIBUNPRIANGAN.COM, SUMEDANG - Semangat para petani manggis di Sumedang tidak surut. Antusiasme mereka tetap "on" meski sedang berpuasa.
Bagaimana tidak antusias, pelatihan yang akan mereka terima akan berpengaruh pada proses ketahanan buah manggis setelah dipanen. Ya, di Dusun Sagaramanik, Desa Cipancar, Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang ini ada puluhan petani manggis dengan lahan tanam cukup luas.
Luasnya lahan tanam ini boleh diukur dengan kemampuan mereka memenuhi kuota ekspor, meski hasil panen dikepul terlebih dahulu di perusahaan eksportir di Tasikmalaya.
Di ruangan Madrasah Al-Qadar, Selasa (10/3/2026) siang, mereka menghadapi manggis yang telah dipanen. Semprotan genggam berisi cairan bening hasil campuran lilin lebah dan beberapa bahan lainnya telah siap di tangan.
Satu per satu, manggis itu disemprot perlahan. Lapisan tipis cairan itu menempel di kulit buah ungu tua. Para petani memperhatikan dengan saksama, seolah sedang mempelajari cara baru menjaga hasil panen yang selama ini cepat rusak.
Baca juga: Umur TPSA Cibeureum Sumedang Diperkirakan 20 Tahun Lagi
Sekitar 30 hingga 35 petani manggis mengikuti pelatihan bertajuk “Pelatihan Penerapan Edible Coating Berbasis Beeswax pada Buah Manggis”. Lapisan ini tentunya ramah dan tidak mengapa jika termakan.
Kegiatan ini merupakan program pengabdian kepada masyarakat yang melibatkan peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Padjadjaran (Unpad), dan Chulalongkorn University Thailand. Program tersebut dijalankan di bawah Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat ITB sebagai upaya menerapkan hasil riset kampus langsung kepada masyarakat.
Guru Besar Fakultas Teknologi Industri ITB, Prof. Dr. Ir. Lienda Aliwarga, M.Eng., menjelaskan bagaimana lapisan tipis dari lilin lebah dapat membantu memperpanjang umur simpan buah.
“Kami melakukan program pengabdian kepada masyarakat di Desa Cipancar untuk petani manggis, untuk pelapisan manggis agar umur simpan manggis diperpanjang. Sebagai akademisi, ilmu yang ada di kampus harus bisa diterapkan kepada masyarakat,” ujarnya di sela-sela kegiatan.
Larutan yang digunakan berasal dari lilin lebah yang dilelehkan lalu dicampur dengan beberapa bahan hingga menjadi cairan yang dapat melapisi buah. Lapisan itu sangat tipis, namun mampu melindungi kulit manggis dari proses pembusukan terlalu cepat.
Menurut Lienda, metode pelapisan sebenarnya bisa dilakukan dengan beberapa cara, mulai dari penyemprotan, penyelupan, hingga dioleskan dengan tangan. Namun dalam pelatihan ini, metode penyemprotan dipilih karena dianggap paling merata dan praktis bagi petani.
“Dengan penyemprotan, lapisannya lebih merata,” katanya.
Selama ini, manggis yang dipanen petani biasanya hanya mampu bertahan sekitar dua minggu sebelum kulitnya mengeras dan kualitasnya menurun. Dengan teknik edible coating tersebut, umur simpan buah bisa mendekati empat minggu.
“Dari umur simpan dua minggu, kalau dicoating ini bisa mendekati empat minggu. Formula masih kami perbaiki, kemungkinan bisa lebih panjang lagi,” katanya.
Bagi petani, tambahan waktu dua minggu itu bukan hal kecil. Selama ini, sebagian manggis Cipancar memang sudah ditujukan untuk pasar ekspor melalui jalur pengiriman di Tasikmalaya. Namun buah biasanya langsung dijual tanpa perlakuan khusus.
Padahal saat musim panen melimpah, harga manggis bisa jatuh begitu rendah hingga ada petani yang memilih tidak memanen buahnya. Sebabnya, manggis cepat busuk. Ukuran busuk untuk manggis adalah kulitnya yang mengeras.
“Harapannya dengan pelapisan ini mereka bisa mengirim ke tempat yang lebih jauh karena umur simpan lebih lama,” ujar Lienda.
Teknologi yang digunakan juga tidak sulit diterapkan. Lilin lebah yang menjadi bahan utama bisa dibeli di pasaran. Lienda bercerita, lapisan lilin lebah ini bisa diterapkan pada buah selain manggis, misalnya pisang dan buah lainnya. Di Cipancar, manggis dijadikan objek sebab di sini manggis memang melimpah.
“Petani tidak harus mencari sarang lebah. Lilin lebah bisa didapat dari mana saja di pasaran, tinggal nanti dibuat campurannya,” katanya.
Harapan Baru Sekaligus Curhat Buah Manggis Cepat Rontok
Sukarya, Ketua Kelompok Tani Sagara Tandang yang juga Kepala Dusun Sagaramanik, mengaku banyak hal yang selama ini belum diketahui petani tentang pengelolaan pascapanen manggis.
“Alhamdulillah ini membuka wawasan. Selain pengawetan manggis, kami juga bisa menyampaikan unek-unek kami untuk perkembangan manggis di sini,” katanya.
Ia menjelaskan, selama ini manggis biasanya mulai mengeras setelah sekitar 14 hari. Jika teknik pelapisan ini berhasil diterapkan secara luas, buah manggis bisa disimpan lebih lama sebelum dijual atau dikirim ke pasar yang lebih jauh.
Di Dusun Sagaramanik sendiri terdapat sekitar 35 petani manggis yang selama ini memasok hasil panennya ke pengepul, salah satunya melalui jaringan pengiriman di Puspahiang, Tasikmalaya.
Meski demikian, kualitas buah masih menjadi tantangan. Menurut Sukarya, seharusnya sekitar 60 persen manggis yang dihasilkan bisa masuk kualitas super, namun kenyataannya tidak selalu demikian. Banyak buah yang akhirnya masuk kategori biasa.
Selain itu, para petani juga menghadapi persoalan lain di kebun, mulai dari buah yang rontok sebelum matang hingga gangguan hama seperti tupai dan monyet.
Melalui pelatihan ini, Sukarya berharap akan ada program lanjutan yang membahas pemeliharaan buah manggis saat masa pembentukan agar kualitas panen bisa meningkat.
Dosen Teknik Pertanian Universitas Padjadjaran, Farah Nuranjani, mengatakan kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap pengembangan pertanian lokal.
“Kolaborasi memang dari berbagai pihak, ITB, Unpad, dan Chulalongkorn,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kerja sama tersebut juga lahir dari hubungan akademik yang telah terjalin sebelumnya. Menurutnya, terdapat celah penting pada penanganan pascapanen manggis yang selama ini belum banyak diterapkan di tingkat petani.
“Di kampus kami melakukan banyak penelitian. Kami pikir apa yang dilakukan di kampus sebagai akademisi harus diterapkan,” katanya.
Penelitian mengenai edible coating manggis sendiri berawal dari riset akademik yang menggunakan buah manggis dari Cipancar sebagai objek penelitian.
Setelah beberapa tahun, riset tersebut akhirnya kembali ke tempat asalnya, kali ini bukan sebagai tesis, tetapi sebagai teknologi yang bisa dipraktikkan langsung oleh petani.
“Berangkat dari tesis saya tentang edible coating manggis yang juga diambil dari Cipancar. Setelah beberapa tahun akhirnya bisa kolaborasi untuk mengaplikasikan ilmu ini,” katanya.
Program pengabdian ini juga mendukung sejumlah Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), di antaranya SDG 2 (Tanpa Kelaparan), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), serta SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab).(*)