TRIBUNTRENDS.COM - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan di sejumlah sekolah di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, memunculkan persoalan baru selama bulan Ramadan.
Program yang bertujuan memenuhi kebutuhan gizi siswa itu disebut memicu sebagian pelajar membatalkan puasa atau mokel setelah menerima paket makanan dari sekolah.
Fenomena ini menjadi perhatian berbagai pihak, termasuk organisasi keagamaan di daerah tersebut.
Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pati, Yusuf Hasyim, menyebut pembagian makanan dari program MBG tetap berpotensi membuat siswa tergoda untuk makan meski telah diupayakan menggunakan menu kering.
Ia mengatakan kejadian tersebut ditemukan di berbagai jenjang pendidikan, mulai dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas.
Menurut Yusuf Hasyim, pihak penyelenggara sebenarnya sudah berupaya menyesuaikan menu selama Ramadan dengan memberikan makanan kering.
Namun kenyataannya, paket makanan yang diterima siswa tetap memicu sebagian dari mereka untuk membatalkan puasa.
Kondisi ini membuat sejumlah pihak khawatir terhadap kedisiplinan ibadah para siswa selama bulan suci.
Fenomena mokel tersebut dilaporkan terjadi di beberapa sekolah di Kabupaten Pati.
Akibatnya, beberapa yayasan pendidikan dan lembaga sekolah memutuskan untuk tidak menerima distribusi program MBG selama bulan Ramadan.
Langkah tersebut diambil untuk menjaga suasana ibadah puasa agar tetap kondusif bagi para siswa.
Menyikapi persoalan tersebut, PCNU Pati mengusulkan agar mekanisme program MBG selama Ramadan dievaluasi.
Salah satu usulan yang disampaikan adalah mengalihkan bantuan makanan siap saji menjadi paket bahan pokok mentah atau sembako.
Bahan makanan seperti beras, telur, atau kebutuhan dapur lainnya dinilai lebih tepat karena dapat dimasak oleh orangtua di rumah.
Dengan begitu, makanan tidak langsung dikonsumsi oleh siswa di sekolah saat mereka sedang menjalankan ibadah puasa.
Selain itu, pembagian bahan mentah juga bisa dilakukan secara berkala, misalnya dua hingga tiga hari sekali atau seminggu sekali.
Sementara itu, Koordinator MBG wilayah Pati, Ahmad Khoirul Basar, menjelaskan bahwa pihak sekolah memiliki kewenangan untuk menentukan sikap terhadap program tersebut selama Ramadan.
Sekolah yang bersedia tetap menerima distribusi MBG dapat melanjutkan program seperti biasa.
Namun bagi sekolah yang merasa keberatan, mereka diperbolehkan menolak dengan menyertakan surat pernyataan resmi.
Ia menegaskan bahwa Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tetap menjalankan distribusi bagi sekolah yang masih ingin melanjutkan program tersebut.
Program MBG sendiri dirancang sebagai upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas gizi anak-anak sekolah sekaligus mendukung perkembangan kesehatan dan kemampuan belajar mereka.
Melalui program ini, pemerintah berharap generasi muda mendapatkan asupan nutrisi yang cukup sehingga dapat tumbuh lebih sehat dan produktif di masa depan.
Tribun Jatim | Ignatia | TribunTrends.com | Afif Muhammad